Agen Elpiji di Bondowoso Sebut Distribusi Aman, Kelangkaan Diduga Terjadi di Tingkat Pangkalan
Agen pastikan proses pendistribusian tidak ada kendala. Bahkan, pihak agen mempertanyakan, kenapa stok di pangkalan saat ini cepat habis, menjelang Ramadan.
BONDOWOSO, SJP – Kesulitan masyarakat mendapatkan elpiji 3 kilogram di Bondowoso dipastikan bukan disebabkan oleh gangguan pasokan di tingkat SPBE maupun agen.
Hal tersebut terungkap dalam inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Ketua Komisi II DPRD Bondowoso bersama tim ke SPBE, agen LPG, dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Kamis (29/1/2026).
Salah seorang karyawan agen elpiji PT Rizky Jaya Makmur di Kelurahan Nangkaan, Kecamatan Bondowoso, Gustiar Nugraha, menegaskan, distribusi elpiji dari agen ke pangkalan berjalan normal dan sesuai prosedur yang ditetapkan Pertamina.
“Kalau di agen tidak ada kendala. Jadwal dari Pertamina sudah ada setiap hari, dan kami melaksanakan penyaluran sesuai prosedur. Sehari dapat, sehari langsung kami salurkan ke pangkalan,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Menurut Gustiar, alokasi elpiji untuk agennya rata-rata mencapai 2.800 tabung per hari, yang didistribusikan ke sekitar 10 hingga 15 pangkalan. Seluruh tabung tersebut dipastikan habis tersalurkan dalam satu hari.
“Normal saja. Tidak ada penambahan kuota atau lonjakan permintaan. Kalau memang ada penambahan, itu harus ada perintah resmi dari Pertamina. Kalau tidak ada, ya tetap sesuai alokasi,” jelasnya.
Ia juga menegaskan, pangkalan mengambil elpiji sesuai jadwal yang telah ditentukan. Tidak ada permintaan tambahan di luar jadwal, termasuk saat kondisi ramai.
“Pangkalan tetap sesuai schedule. Aman semua dari SPBE ke agen, lalu ke pangkalan,” tegasnya.
Gustiar mengakui bahwa keluhan masyarakat kemungkinan dipicu oleh keterlambatan distribusi dalam hitungan jam, bukan karena kekurangan stok.
“Paling hanya beda jam. Karena supir itu rolling setiap hari. Misalnya hari ini supir A kirim ke jalur ini, besok tukar jalur. Jadi ada yang dapat di pengiriman awal, ada yang di pengiriman berikutnya. Tapi secara umum aman,” ungkapnya.
Ia bahkan mengaku mendapat pertanyaan langsung dari pangkalan terkait elpiji atau gas melon 3 kilogram yang cepat habis di kalangan masyarakat.
“Pangkalan juga tanya ke saya, ‘Mas, kok cepat habis?’ Padahal yang jual kan pangkalan. Jadi ini memang kemungkinan di tingkat bawah,” katanya.
Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Bondowoso, Tohari, menegaskan hasil sidak menunjukkan tidak ada masalah pada distribusi elpiji di hulu maupun di tingkat agen. Persoalan utama justru diduga berada di tingkat pangkalan dan pengecer.
“Dari SPBE aman, agen juga aman. Artinya distribusi dari atas tidak ada masalah. Tapi di bawah, masyarakat masih kesulitan. Ini yang harus kita benahi,” ujar Tohari.
Ia menyoroti lemahnya pencatatan pembelian LPG subsidi di pangkalan. Seharusnya, penjualan elpiji 3 Kg dicatat berbasis nomor Kartu Keluarga (KK) agar satu keluarga tidak membeli melebihi jatah maksimal lima tabung per bulan.
“Karena pencatatan belum disiplin, ada dugaan satu KK bisa beli lebih dari satu tabung, bahkan di beberapa pangkalan. Ini memicu kelangkaan semu dan kepanikan di masyarakat,” jelasnya.
Tohari menambahkan, kuota elpiji subsidi untuk Bondowoso masih mencukupi, dengan distribusi sekitar 19 ribu tabung per hari. Namun jika distribusi tidak tepat sasaran, maka masyarakat yang berhak justru kesulitan mendapatkan elpiji.
Sebagai tindak lanjut, DPRD Bondowoso telah berkoordinasi dengan Pertamina dan Hiswana Migas untuk memperketat pengawasan, pencatatan, serta pelaporan di tingkat pangkalan. Evaluasi dijadwalkan dilakukan dalam waktu satu minggu.
“Kami minta elpiji subsidi benar-benar diberikan kepada yang berhak. Kalau masyarakat mampu dan usaha besar tidak menggunakan elpiji subsidi, saya yakin Bondowoso tidak akan kekurangan,” pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

