Zulhas Tegaskan Harga Pangan Tidak Boleh Naik Jelang Ramadan dan Idulfitri 2026
Menko Pangan Zulkifli Hasan menegaskan harga pangan tidak boleh naik jelang Ramadan dan Idulfitri 2026, seiring klaim stok nasional aman dan operasi pasar digelar setiap hari.
SURABAYA, SJP - Pemerintah menegaskan komitmennya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan menjelang Bulan Suci Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 2026.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menekankan bahwa tidak boleh ada kenaikan harga bahan pokok selama periode meningkatnya kebutuhan masyarakat tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Zulkifli Hasan di sela-sela kunjungannya di Kota Surabaya pada Selasa (27/1/2026). Menteri yang biasa dipanggil Zulhas itu menyebut pemerintah tidak hanya menyiapkan stok pangan, tetapi juga mengawal distribusi agar harga tetap terkendali hingga ke tingkat konsumen.
"Sebentar lagi kita akan memasuki bulan puasa dan Lebaran. Jadi stok harus cukup dan harga harus terkendali. Tidak boleh naik," ujar Zulhas, Selasa (27/1/2026).
Dirinya menegaskan, kebijakan pengendalian harga pangan merupakan arahan langsung Presiden RI Prabowo Subianto. Pemerintah diminta hadir secara aktif agar lonjakan harga yang kerap terjadi menjelang hari besar keagamaan tidak terulang.
"Presiden selalu menekankan bahwa harga-harga kebutuhan pokok menjelang hari raya tidak boleh naik. Bahkan diharapkan bisa ditekan agar lebih terjangkau," kata Zulhas.
Menurutnya, kebijakan serupa telah diterapkan dan sukses pada momen Natal, Tahun Baru, dan Lebaran tahun sebelumnya, dengan hasil harga pangan relatif stabil dan sejumlah komoditas berhasil ditekan.
Untuk memastikan harga tetap terkendali, pemerintah akan terus menggelar pasar murah di berbagai daerah. Program itu menjadi salah satu instrumen utama intervensi negara di pasar, terutama untuk komoditas strategis yang sering memicu inflasi.
Dalam pasar murah tersebut, sejumlah bahan pangan seperti beras dan telur dijual dengan potongan harga hingga 10 persen. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, operasi pasar disebut telah berlangsung rutin setiap hari.
"Sudah dilakukan, setiap hari. Bisa dicek di Jawa Tengah dan Jawa Timur," tegas Zulhas.
Ia juga meminta pemerintah daerah (Pemda) agar aktif memastikan pelaksanaan pasar murah berjalan merata dan berkelanjutan, tidak hanya bersifat seremonial.
Stok Aman, Distribusi Lancar di Jawa Timur
Selain pengendalian harga, pemerintah menekankan kesiapan stok pangan secara menyeluruh, tidak hanya beras. Bulog Jawa Timur memastikan cadangan pangan di wilayah ini sangat mencukupi untuk menghadapi lonjakan permintaan selama Ramadan dan Idulfitri.
Kepala Perum Bulog Kanwil Jawa Timur, Langgeng Wisnu Adi Nugroho, menyebut cadangan beras di gudang Bulog saat ini mencapai ratusan ribu ton dan cukup untuk jangka panjang.
"Stok beras Bulog Jawa Timur mencapai 796 ribu ton dan aman untuk kebutuhan hingga 14 bulan ke depan," ujar Wisnu.
Tidak hanya menjaga stok, Bulog Jawa Timur juga aktif menyerap hasil panen petani. Sejak pertengahan Januari 2026, penyerapan dilakukan untuk menjaga keseimbangan harga di tingkat petani sekaligus memperkuat cadangan pemerintah.
"Hingga Januari ini kami telah menyerap sekitar 34 ribu ton gabah kering panen atau setara beras, serta hampir 4 ribu ton jagung dari petani di Jawa Timur," kata Wisnu.
Selain beras dan jagung, Bulog Jawa Timur juga memastikan kelancaran distribusi minyak goreng. Jawa Timur mendapatkan alokasi sekitar 35 persen dari kuota nasional atau setara 28 juta liter yang disalurkan langsung ke pengecer di berbagai daerah.
Untuk menjaga inflasi pangan, Bulog Jawa Timur terus berkoordinasi dengan Satgas Pangan dalam memantau harga bahan pokok setiap hari. Hingga kini, harga masih terpantau stabil dan berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).
Bulog menegaskan, operasi pasar melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) akan berlangsung sepanjang tahun 2026. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

