Visa tak Kunjung Terbit, 1.200 Jemaah Furoda Asal Jatim Gagal Haji Tahun Ini
Sebanyakl 1.200 calon jemaah haji (CJH) asal Jawa Timur gagal berangkat ke Tanah Suci pada musim haji tahun 2025 ini. Hingga batas akhir keberangkatan 30 Mei 2025, mereka tak kunjung mendapatkan visa mujamalah dari Pemerintah Arab Saudi.
SURABAYA, SJP—Sebanyak 1.200 calon jemaah haji (CJH) furoda asal Jawa Timur (Jatim) dipastikan gagal menunaikan ibadah haji tahun ini. Mereka menjadi bagian dari ribuan CJH furoda se-Indonesia yang tak kunjung mendapatkan visa mujamalah dari Pemerintah Arab Saudi hingga batas akhir keberangkatan.
Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Aliansi Pengusaha Haramain Seluruh Indonesia (Asphirasi) Jawa Timur, Syihabul Muttaqin mengungkapkan, mayoritas jemaah haji furoda yang gagal berangkat ke Tanah Suci Makkah berasal dari Surabaya, Malang, Gresik, dan Sidoarjo.
Pihaknya menyoroti lambannya proses pengisian kuota tambahan serta minimnya perhatian terhadap jemaah yang telah membayar mahal untuk haji furoda. Bahkan mereka rela merogoh kocek hingga ratusan juta untuk bisa menunaikan ibadah haji tahun ini.
“Jemaah furoda ini jumlahnya 1.200-an dari Jatim. Mereka sabar, tapi sebagian besar sekarang mulai meminta refund ke travel. Ini harus jadi perhatian. Kuota Indonesia itu sebenarnya tidak ada untuk furoda, yang beredar adalah kuota luar negeri yang diambil oknum travel. Ini jelas melanggar aturan,” tegasnya, Ahad (1/6/2025).
Syihabul juga meminta pemerintah agar terbuka dalam diskusi mengenai skema haji non-reguler. Menurutnya, animo masyarakat untuk menunaikan ibadah haji tanpa harus antre sangat tinggi dan perlu disikapi dengan solusi nyata, bukan sekadar wacana.
Salah satu jemaah haji furoda asal Jatim yang merasakan kekecewaan mendalam yaitu Ali Yasin. Dirinya dipastikan gagal berangkat ke Tanah Suci. Dia mengaku sudah membayar hampir Rp500 juta untuk paket haji furoda lengkap. Namun hingga kini visa belum terbit.
“Hari ini visa belum terbit, meski Saudi sudah hampir tutup. Kami berharap ada keajaiban. Semoga Menteri Agama bisa lobi Pemerintah Saudi. Kalau tidak, ya kami coba lagi tahun depan,” ujarnya.
Menurut Ali Yasin, akibat dari kejadian ini, dirinya tidak hanya mengalami kerugian secara materi, namun juga mental dan spiritual. Banyak jemaah lain yang mengalami hal serupa. Bahkan ada yang sudah lanjut usia (lansia) dan sangat berharap bisa berangkat tahun ini.
Sementara itu, Ketua Umum Asphirasi, Amaludin Wahab juga buka suara. Pihaknya mendesak pemerintah agar tidak menutup mata terhadap fenomena ini. Menurutnya, haji furoda adalah bentuk kebutuhan spiritual yang harus difasilitasi dengan regulasi yang jelas.
“Ini bukan soal kaya atau pejabat. Banyak pengusaha, orang tua, yang sudah daftar lama dan ingin cepat berangkat. Pemerintah harus hadir dengan solusi. Salah satunya skema haji dengan tambahan kuota khusus,” kata Amaludin, yang juga CEO EBAD Group.
Menurut Amaludin, Pemerintah Arab Saudi sebenarnya telah memberi ruang. Namun Pemerintah Indonesia terlalu lamban dalam mengatur dan memanfaatkan kesempatan tersebut.
“Kalau tahun lalu ada tambahan kuota 20 ribu, masa tahun ini tidak ada? Jangan sampai rakyat jadi korban karena ketidakjelasan regulasi,” tandasnya. (**)
Sumber: Kabarbaik.co
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

