Krisis Ekonomi, Tukang Tambal Ban di Nganjuk Kesulitan Bertahan Hidup
Krisis ekonomi membuat jasa tambal ban di Nganjuk kian sepi. Pendapatan Pakto, tukang tambal ban di Desa Waung, anjlok hingga setengahnya, menyulitkan memenuhi kebutuhan keluarga.
NGANJUK, SJP — Krisis ekonomi yang melanda sejumlah sektor usaha turut dirasakan pelaku jasa tambal ban di Kabupaten Nganjuk. Pendapatan menurun drastis, sementara biaya operasional terus meningkat.
Salah satunya dialami Pakto, pemilik bengkel tambal ban di Desa Waung, Kecamatan Baron, Nganjuk. Kiosnya cukup besar, menyerupai bengkel motor, bukan sekadar lapak tambal ban pinggir jalan.
Biasanya bengkel Pakto sudah siaga melayani pengendara sejak pukul 07.30 WIB. Namun kini, dia lebih sering duduk melamun sambil memandangi kendaraan yang lalu lalang.
"Kalau sekarang cari uang Rp500 ribu sebulan sulit. Sebelum ekonomi seperti ini, satu bulan bisa sampai Rp1 juta, bahkan lebih," kata Pakto, Selasa (26/8/2025).
Pakto menyebut, selama krisis ekonomi, semakin jarang pengendara singgah ke bengkelnya. Pada jam padat pagi pun, jasa tambal ban sepi peminat.
“Wis ditrimo mawon mas, lek masalah kurang yo kurang (disyukuri saja mas, rezeki ada yang mengatur),” ucap Pakto.
Kondisi serba sulit membuat Pakto kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga. Penghasilan hariannya tidak menentu, jauh dari rata-rata pendapatan sebelumnya yang dianggap lebih layak.
Beberapa kali dia mengeluhkan penghasilannya yang kini benar-benar tipis seperti ban bocor. Namun, hanya usaha bengkel tambal ban ini yang bisa dijadikan tumpuan hidupnya.
“Kulo kerjo tumot tyang, kadang angsal kulo ambil sedanten damel keluarga (saya kerja ikut orang, pendapatannya saya ambil semua untuk keluarga),” kata bapak satu anak itu dengan logat Jawa. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

