UKWMS Manfaatkan PLTS Guna Besarkan Kepiting Bakau di Tengah Kota

Budidaya kepiting bakau kini merambah jantung Surabaya, lahir dari kolaborasi urban farming Kampoeng Oase Ondomohen dan teknologi PLTS yang digagas tim Abdimas UKWMS.

14 Sep 2025 - 22:37
UKWMS Manfaatkan PLTS Guna Besarkan Kepiting Bakau di Tengah Kota
Tim PKM UKWMS dan perwakilan Kampoeng Oase Ondomohen menunjukkan apartemen kepiting berisi 19 ekor yang berhasil beradaptasi (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Urban farming, atau pertanian perkotaan selama ini identik dengan budidaya sayuran dan tanaman buah. Namun siapa sangka, jika konsep itu dikombinasikan dengan teknologi terbarukan, maka bisa membuka ruang baru hingga ke ranah yang dianggap mustahil.

Salah satunya datang dari tim abdimas Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) yang membawa gagasan untuk membesarkan hewan laut seperti kepiting bakau dengan memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Program yang didanai Kemdikti–Saintek dengan nomor kontrak 003/LL7/DT.05.00/PM/2025 itu mengusung judul "Inovasi Teknologi berbasis PLTS Untuk Pengaturan Lingkungan Akuakultur Penggemukan Kepiting Bakau" dengan menyasar salah satu komunitas di jantung Kota Pahlawan, yakni Kampoeng Oase Ondomohen, Surabaya.

Ketua Tim Abdimas UKWMS, Rasional Sitepu dari Program Studi Profesi Insinyur, menjelaskan alasan utama memilih PLTS sebagai pendukung budidaya kepiting bakau dikarenakan PLTS termasuk salah satu sistem energi terbarukan yang ramah lingkungan.

"Dengan menggunakan panel surya untuk mengubah cahaya matahari menjadi listrik, energi ini tidak pernah habis, serta bebas digunakan, dan lebih hemat," jelasnya, Minggu (14/9/2025).

"Selain itu, karena panel surya tidak menimbulkan kebisingan, maka penggunaannya sangat cocok untuk area padat penduduk seperti di tengah kota," lanjut Rasional.

Ia juga memberi penekanan pada aspek keamanan dan ketahanan instalasi. Sambungan listrik harus diisolasi dan dilindungi silikon agar tahan air hujan. Selain itu, digunakan kabel khusus NYYHY serta lampu outdoor agar tahan cuaca.

Mengapa Kepiting Bakau?

Rasional kemudian menjelaskan, pertimbangan dalam memilih kepiting bakau adalah karena memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus daya adaptasi besar bila dipelihara di darat.

"Karena mengingat kepiting bakau sangat tinggi nilai ekonominya, jadi kami ingin coba mengembangkannya di darat," ujar Rasional.

Dirinya mengungkapkan bahwa harga dari kepiting bakau mentah per ekor bisa menyentuh harga 65 ribu per kilogram, sedangkan jika diolah menjadi masakan seafood harganya bisa tembus hingga 250 ribu per ekor.

"Selain sisi ekonomi, kepiting bakau juga punya harapan hidup yang tinggi, jadi kemungkinan bertahan dalam proses adaptasi jika dibawa ke darat dan dibesarkan di sini juga besar," imbuhnya.

Kolaborasi Lintas Prodi

Tidak hanya Rasional, Tim Abdimas Fakultas Teknik UKWMS juga diperkuat dosen dari berbagai program studi, meliputi Peter Rathodirjo Angka (Teknik Informatika), Ery Susiany Retnoningtyas (Teknik Kimia), serta mahasiswa Sasrio Resi Valen (Teknik Elektro) dan Yosefa Ruvinda Ayu Krisanti (Teknik Kimia).

Kolaborasi tersebut terlihat dalam workshop yang ditujukan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat Kampoeng Oase Ondomohen terkait program yang akan dijalankan. 

"Kita akan beri pelatihan kepada masyarakat. Pertama dari sisi teknologi pengadaan energi melalui pembangkit listrik tenaga surya itu dari prodi teknik elektro dan teknik informatika," terang Rasional.

"Kemudian dari prodi teknik kimia akan jelaskan sisi pengkondisian air darat supaya cocok dengan iklim kepiting bakau, seperti parameter kadar garam, pH dan penggunaan amonia," sambungnya.

Workshop atau pelatihan tersebut diikuti sekitar 30 peserta. Kendati pelatihan hanya dilakukan satu hari, Rasional mengungkapkan bahwa pihaknya akan lakukan pendampingan hingga masyarakat mampu mandiri.

"Karena tujuan dari pelatihan ini adalah meningkatkan kemampuan produksi dan kemampuan manajernya," tambah Rasional.

Dari “Apartemen Kepiting” hingga Restoran Seafood

Saat ini, Kampoeng Oase Ondomohen sudah memiliki 25 apartemen kepiting, yakni wadah khusus yang masing-masing menampung satu ekor denga dilengkapi sistem PLTS. Dari jumlah itu, 19 ekor berhasil beradaptasi, sedangkan sisanya ada yang mati atau hilang.

"Goals-nya masyarakat bisa kembangbiakan dan jual mentah maupun dimasak. Jadi kita akan punya seperti cold storage. Lalu rencana dari Ibu Endang selaku RT cukup bagus, beliau ingin punya restoran khusus seafood di sini,” katanya.

Ketersediaan bibit kepiting juga menuntut kerja sama erat dengan nelayan di kawasan Pantai Timur Surabaya, karena hanya pada momen pasang-surut tertentu hewan tersebut dapat diperoleh.

"Harapan kami kalau program ini berhasil bisa dicontoh oleh masyarakat lain juga. Produksi kepiting semakin banyak, dan Ondomohen ini bisa jadi pusat edukasi," tuturnya.

Tantangan Baru Kampoeng Oase Ondomohen

Ketua Kampoeng Oase Ondomohen, Mus Mulyono, menyambut antusias program yang menurutnya membawa tantangan baru bagi masyarakat. Setelah berhasil dengan budidaya hewab lain seperti maggot, ikan, hingga lobster, diharapkan upaya pembesaran hingga budidaya kepiting bakau berjalan lancar.

"Kami sangat senang sekali dan berbahagia. Ini yang saya rasa menjadi tantangan paling besar karena bentuk urban farming perikanan laut yang dipindah ke darat, apalagi posisi kami di jantung kota, jauh dari pesisir," ungkap Mus.

Meski ada beberapa kepiting yang mati dan hilang saat proses adaptasi, Mus menilai hasil adaptasi kepiting di kampung yang dia pimpin cukup memuaskan dibanding tempat lain.

"Iya kemarin itu ada yang lepas karena belum ada kunci apartemennya. Tapi sekarang sudah bagus, seluruh kepiting sudah aktif," ujarnya.

Mus menegaskan bahwa keberhasilan program tersebut tidak bisa ditopang oleh satu dua orang saja, namun harus melibatkan seluruh warga.

"Karena kita hidup di kampung dengan profesi berbeda-beda, jadi semuanya harus bisa terlibat. Paling tidak nanti ada tenaga ahli lokal yang bisa jadi pengontrol," katanya.

Sementara itu, Adi Candra, selaku pembina Kampoeng Oase Ondomohen mengapresiasi dukungan dari akademisi tim Abdimas UKWMS. Sebagai komunitas yang sudah menjadi lokasi edukasi, Adi berharap inovasi itu dapat menambah daya tarik Kampoeng Oase Ondomohen.

"Semoga dengan program dan keilmuan baru ini mampu menjadikan Kampoeng Oase Ondomohen semakin memperkaya edukasi terkait energi baru terbarukan yaitu tentang PLTS sebagai sistem energi untuk proses penggemukan kepiting bakau," jelasnya.

Menurutnya, inovasi baru itu juga akan semakin menguatkan Kampoeng Oase Ondomohen sebagai Kampung Wisata Edukasi Pengelolaan Lingkungan dan Urban Farming di Jantung Kota Surabaya.

"Yang paling penting juga masyarakat semakin peduli dengan lingkungan dan menjaganya agar mampu memberikan kemanfaatan secara berkelanjutan," tukas Adi.

Kegiatan tersebut didukung penuh oleh Kampoeng Oase Suroboyo Group, DPP Indonesian Fighter Tourism Association (IFTA) Jelajah Indonesia, Perkumpulan Pengelola Sampah dan Bank Sampah Nusantara (PERBANUSA) DPD I Jawa Timur, Himpunan Penggiat Adiwiyata Indonesia (HPAI) DPW Kota Surabaya, Yayasan Lestari Bumi Abadi (YLBA) Kota Surabaya, dan Forum Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (GRADASI) Jawa Timur. (*)

Editor: Danu S

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow