Kisah Si Kembar Anak Buruh Tambak Ikan di Gresik: Merajut Cita Jadi Dokter Lewat Sekolah Rakyat
Sempat nyaris putus sekolah lantaran terbeban biaya pendaftaran sekolah, si kembar anak buruh tambak ikan di Manyar, Kabupaten Gresik ini akhirnya menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 37 Gresik. Mereka menyongsong masa depan dengan penuh optimisme.
GRESIK, SJP—Sinar matahari pagi menjelang siang menyelinap di antara celah jendela perpustakaan Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 37 Gresik, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026). Di tengah keheningan, dua remaja putri yang wajahnya bak pinang dibelah dua berdiri di depan deretan buku di rak.
“Ini yang kucari,” ucap Fony Amelia, lirih. Siswi kelas 10 SMRA ini meraih buku Sastra Bahasa Indonesia dengan antusias, lalu membolak-balik halamannya.
Fara Amanda hanya melirik sekilas. Arah matanya kembali terpaku pada buku-buku yang ditata sejajar di depannya. Tangannya menyibak tumpukan buku yang berjajar vertikal.
Namun, fokus Fara kembali teralihkan ketika Fony mengajaknya membahas isi buku. Mereka terlibat perbincangan sekilas. “Coba diperkaya dengan referensi lain. Aku tadi lihat di sana,” sahut Fara sembari menyeret tangan Fony ke deretan rak sebelah.
Bagi si kembar, membalik lembar demi lembar kisah di dalam buku itu bukan sekadar hobi, melainkan cara mereka merajut kata demi kata untuk merancang masa depan cerah menjadi seorang dokter. Sebuah mimpi besar yang kini tak lagi mustahil berkat fasilitas sekolah gratis ini.
"Cita-cita kita menjadi dokter. Kita senang di sekolah rakyat soalnya gratis, tidak membebani kedua orang tua soal biaya," kata Fony.
Asa yang Tumbuh setelah Nyaris Putus Sekolah
Si kembar anak pasangan Mundhor (66) dan Ibu Nur Izzah (55) itu nyaris putus sekolah seusai merampungkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada tahun 2025. Biaya pendidikan SMA yang meroket seperti tak terjangkau oleh mereka yang tergolong keluarga prasejahtera yang tercatat dalam kategori desil satu.
Mundhor, warga Desa Karangrejo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik ini mengais nafkah sebagai buruh tambak ikan. Pendapatannya tak menentu. "Kalau rata-rata per bulan pendapatan tergantung banyaknya ikan, ya berkisar Rp500 ribu sampai Rp700 ribu per bulan," ucap Mundhor.
Jika tak ada panggilan, Mundhor juga bekerja serabutan bongkar muatan pabrik pupuk. Sehari berkisar Rp100 ribu. Itu juga tak pasti ada. Sedangkan, Nur Izzah fokus sebagai ibu rumah tangga.
Minimnya pendapatan ini membuat Mundhor ketar ketir. Dia harus mendaftarkan dua anaknya sekaligus ke Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun, dia tak ingin keterbatasan ekonomi menyurutkan niat belajar kedua putri kembarnya. "Saya bertekad, jangan sampai pendidikan anak-anak terputus, walaupun penghasilan saya juga tidak pasti. Saya berdoa tiap malam. Ya Allah, saya ingin dua anak saya pendidikannya terus berlanjut," kata Mundhor.
Gayung bersambut. Secercah harapan muncul ketika pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) mendatangi rumahnya pada medio Maret 2025. Sebagai keluarga prasejahtera desil 1, Fony Amelia dan Fara Amanda didaftarkan masuk sekolah rakyat. Mereka diterima di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 37 Gresik
Senyum merekah pada bibir Mundhor dan Nur Izzah. Mereka merasakan rasa syukur mendalam. "Alhamdulillaah, anugerah yang besar bagi kami, anak kami bisa bersekolah gratis di SMA yang fasilitasnya mewah," tutur Mundhor penuh syukur.
Lewat Sekolah Rakyat yang dikelola oleh Kementerian Sosial ini, Mundhor menaruh asa agar buah hatinya kelak tumbuh menjadi generasi hebat yang mampu mengangkat harkat dan martabat orang tua.
Gratis Biaya Pendidikan, Gratis Perlengkapan Sekolah
Suasana pembelajaran di kelas 10 SRMA 37 Gresik. (Foto: Anis/SJP)
Setahun belakangan, Fony dan Fara belajar sekaligus tinggal di SRMA 37 Gresik yang sementara menempati eks gedung SMPN 1 Sidayu. Si kembar adalah dua dari 75 siswa angkatan pertama Sekolah Rakyat di Gresik untuk jenjang SMA.
Betapa berartinya Sekolah Rakyat ini bagi siswa prasejahtera. Tak hanya dibebaskan biaya pendidikan, mereka bahkan memperoleh perlengkapan sekolah seperti seragam, tas, sepatu, kaus kaki, hingga laptop. Seluruhnya disediakan secara gratis oleh negara untuk mendukung aktivitas belajar mengajar menggapai cita-cita mereka.
Awal berada di lingkungan baru sekolah rakyat, si kembar mengaku sempat tidak nyaman dengan konsep boarding school atau sekolah berasrama.
Hari-hari yang biasanya dihabiskan bersama orang tua kini terasa berbeda. Aktivitas seperti mencuci baju, merawat diri, hingga menyiapkan keperluan sekolah kini harus mereka lakukan secara mandiri. Perubahan kebiasaan yang membentuk karakter siswa. Lambat laun, si kembar merasakan manfaatnya.
"Kalau di rumah ya masih tergantung orang tua, sekarang lebih mandiri. Mulai mencuci baju menyiapkan keperluan belajar sendiri. Sekarang lebih percaya diri dan mandiri," jelas Fony.
Melalui fasilitas istimewa yang sepenuhnya gratis, sekolah ini tidak hanya meringankan beban ekonomi orang tua. Tetapi juga menjadi pijakan awal bagi si kembar untuk membuktikan bahwa keterbatasan biaya bukan penghalang untuk menjadi generasi hebat.
Perkuat Fondasi Karakter dan Fisik Anak Didik
Satu tahun berjalan, anak didik Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 37 Gresik tengah merasakan perubahan signifikan dari segi karakter dan fisik.
Mereka yang sejak awal masuk belum memiliki kedisiplinan dan kepercayaan diri, kini sudah mulai tumbuh. Sebagai sekolah boarding school, kepribadian anak didik ditempa untuk menjadi sosok yang mandiri, berani, dan penuh tanggung jawab.
Kepala SRMA 37 Gresik, Rangga Pratama Wahyudiarta, menyampaikan kondisi fisik anak didiknya juga semakin kuat. Pada tiga bulan pertama, sekolah memfokuskan untuk memulihkan kesehatan siswa.
“Banyak anak datang dengan kondisi gizi yang kurang baik atau memiliki penyakit bawaan. Hampir setiap pekan mereka harus menjalani pemeriksaan di puskesmas," ujar Rangga.
Rangga memastikan, bahwa anak didiknya sekarang jauh lebih bugar dibanding saat pertama datang. Kebutuhan dasar kesehatan dan gizi anak didik dipastikan terpenuhi melalui makan tiga kali sehari dan dua kali makanan selingan.
Seusai fokus dalam peningkatan fisik, anak didik mulai mengejar tahap akademik. “Pembelajaran vokasi juga tengah kami siapkan agar para siswa memiliki bekal keterampilan ketika lulus nanti,” paparnya.
Di sisi lain, pendidikan karakter menjadi fondasi utama. Pramuka dan Paskibraka diwajibkan sebagai sarana membangun disiplin dan kepemimpinan. Sekolah juga menjaga keberagaman yang hidup di dalam asrama.
Gedung Baru dan Fasilitas Komplet Sekolah Rakyat di Desa Raci
Pembangunan gedung Sekolah Rakyat Pendidikan Terpadu Gresik ini ditargetkan tuntas akhir Juni 2026. (Foto: Anis/SJP)
Sekolah Rakyat di Gresik ini merupakan satu dari lima proyek perdana pembangunan Sekolah Rakyat secara nasional. Di Jawa Timur, pembangunan ini masuk dalam kategori wilayah Jatim 1, yang juga mencakup beberapa daerah lain, seperti: Kabupaten Sampang, Tuban, Jombang, dan Kota Surabaya.
Meski aktivitas belajar sudah berlangsung sejak tahun ajaran 2025/2026 di eks gedung SMPN 1 Sidayu, pembangunan gedung Sekolah Rakyat di Desa Raci Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik ini terus berlangsung. pada tahun ajaran 2026/2027 ini, Sekolah Rakyat akan menempati gedung baru.
Berdiri di atas lahan seluas 62.577 meter persegi, Sekolah Rakyat di Desa Raci Tengah ditopang dengan fasilitas komplet. Tidak hanya ruang kelas, namun didukung beragam fasilitas. Dari gedung serba guna, tempat ibadah, laboratorium, kantin, hingga amphitheather.
Selain itu, juga akan dibangun lapangan mini soccer dan basket, gudang perawatan, tempat pembuangan sampah, pos satpam, ruang pompa dan genset, serta guest house guna melengkapi bangunan asrama bagi siswa dan guru yang ada di lokasi.
Untuk menopang Sekolah Rakyat, Pemkab Gresik membangun akses jalan dan fasilitas air bersih. Sejumlah infrastruktur lain disiapkan Pemkab Gresik seperti Ruang Terbuka Hijau (RTH), pengelolaan sampah, pagar, dan berbagai sarana prasarana lainnya.
"Hasil duduk bersama dengan Kementerian PU, yang mana ada infrastruktur yang memang tidak di cover akan sharing dari APBD kami," ungkap Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani
Strategi Pengentasan Kemiskinan Ekstrem
Sekolah Rakyat ini memang dirancang sebagai Kawasan Pendidikan Terpadu. Di sini, jenjang pendidikan SD, SMP, hingga SMA diintegrasikan dalam satu lingkungan pembelajaran yang tidak hanya modern, tetapi juga inklusif.
Pembangunan sekolah impian bagi siswa tak mampu itu akan rampung akhir Juni 2026. Adapun daya tampung sekolah rakyat terpadu ini mencapai 1.080 siswa. Namun, pada 2026 ini, Sekolah Rakyat di Gresik akan menampung 270 siswa, terdiri dari: 90 siswa SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf sebelumnya telah menegaskan bahwa fasilitas sekolah rakyat itu hanya ditujukan terhadap kelompok masyarakat miskin dan miskin ekstrem yang masuk dalam desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Menurutnya, sekolah rakyat menjadi bagian dari strategi pengentasan kemiskinan yang dilakukan secara terintegrasi. Tidak hanya memberikan akses pendidikan kepada anak, tetapi juga memberdayakan keluarga.
Melalui Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2025, Presiden Prabowo Subianto mendorong penggunaan satu data terpadu (DTSEN) agar pemdataan anak didik sekolah rakyat lebih efektif dan tidak tumpang tindih.
“Yang sekolah di Sekolah Rakyat adalah mereka yang selama ini belum terbawa dalam proses pembangunan. Ke depan, sekolah ini akan menjadi rebutan karena diperuntukkan bagi mereka yang istimewa,” ujar Gus Ipul, saat kunjungan kerja di Kabupaten Gresik, beberapa waktu lalu.
Fony dan Fara menjadi cerminan anak Indonesia yang tidak lagi harus mengubur mimpi akibat keterbatasan ekonomi. Sekolah Rakyat menjadi jembatan harapan bagi anak bangsa yang mendambakan masa depan. Melalui kesempatan belajar yang inklusif, jalan pengentasan kemiskinan perlahan diurai. Dari ruang kelas ini muncul asa lahirnya generasi tangguh yang mampu memutus mata rantai kemiskinan dan membuktikan bahwa setiap anak berhak atas masa depan gemilang. (*)
Editor: Danu
What's Your Reaction?

