UKWMS Bahas Isu Pedofilia Lewat Workshop Internasional Bersama Pakar Italia
UKWMS berani angkat isu tabu pedofilia lewat workshop internasional, hadirkan pakar Italia Prof. Aureliano yang menegaskan pencegahan dimulai dari memperkuat kesadaran anak sejak dini.
SURABAYA, SJP - Isu pedofilia sering dianggap tabu, bahkan tidak nyaman untuk dibicarakan. Namun Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) justru berani mengangkat persoalan tersebut dalam sebuah forum ilmiah, sebagai respon akademik atas fenomena kasus pedofilia yang semakin marak di Indonesia.
Melalui International Workshop bertema “The Uncomfortable Truth: Can We Predict and Prevent Pedophilia?”, UKWMS menghadirkan pakar psikologi forensik dari Italia, Prof. Pacciolla Aureliano untuk membedah topik yang sensitif sekaligus penting bagi perlindungan anak.
Acara tersebut berlangsung pada Kamis (11/9/2025), berlokasi di Teater Timur, Kampus Pakuwon City UKWMS, Surabaya, diikuti akademisi, mahasiswa, praktisi, serta media.
Pencegahan Dimulai dari Penguatan Anak
Dalam paparannya, Prof. Aureliano menekankan bahwa kunci utama pencegahan pedofilia bukan hanya pada sisi hukum atau penanganan pelaku, melainkan pada penguatan kesadaran anak-anak sejak dini.
Menurutnya, ia telah mengembangkan dua proyek edukasi berbasis logoterapi. Proyek pertama ditujukan untuk anak usia 5–12 tahun, sementara proyek kedua bagi anak usia 12–16 tahun.
Kedua proyek tersebut berfokus pada pelatihan anak untuk mengenali situasi berbahaya, memahami hak atas tubuhnya, serta berani menolak perlakuan yang tidak pantas.
"Poin pertama untuk mencegah pedofilia adalah memperkuat anak-anak. Biarkan mereka tahu apa situasi yang berbahaya. Mereka harus sadar," ujar Prof. Aureliano, Kamis (11/9/2025).
Ia menambahkan, metode yang digunakan dalam proyeknya adalah media visual berupa video, kartun, hingga buku bergambar yang menampilkan 21–22 situasi berisiko.
Dengan cara itu, Prof. Aureliano merasa anak-anak akan lebih mudah memahami tanda bahaya, serta secara tidak langsung diajarkan untuk segera melapor kepada guru atau orang tua.
"Langkah pertama adalah mengenali situasi berbahaya, baik untuk diri sendiri maupun teman. Langkah kedua, segera melaporkan kepada guru atau ibu," jelasnya.
Pelaku Pedofilia Tidak Bisa Disembuhkan Total
Prof. Aureliano juga menyinggung soal penanganan bagi pelaku pedofilia. Menurutnya, hingga kini tidak ada strategi khusus untuk menyembuhkan total orang dengan kecenderungan tersebut. Yang bisa dilakukan hanya sebatas terapi pengendalian emosi agar mereka tidak berbahaya.
"Saya percaya bahwa pedofili bisa diperkuat, tapi mereka tidak bisa disembuhkan. Kita bisa menjaga mereka agar tidak membahayakan, tetapi tidak bisa menjanjikan mereka berhenti berfantasi seksual terhadap anak-anak," ungkapnya.
Perspektif Akademisi UKWMS
Dekan Fakultas Psikologi UKWMS, Agnes Maria Sumargi, menjelaskan alasan pihaknya mengangkat tema yang sangat sensitif itu. Menurutnya, pedofilia sering kali dianggap sekadar bahasan yang tabu, padahal dalam ranah psikologi forensik isu tersebut relevan dan bahkan untuk dikaji secara ilmiah.
"Pedofilia adalah mereka-mereka yang punya sexual pleasure kepada anak-anak. Jadi ada gangguan dalam dirinya yang bisa arahnya kepada anak-anak secara seksual," jelas Agnes.
Agnes menambahkan, selama ini penanganan di Indonesia cenderung berhenti pada hukuman, tanpa pendampingan psikologis yang memadai bagi korban maupun pelaku. Padahal, untuk memahami latar belakang pelaku, konseling tetap diperlukan, meski penyembuhan penuh sulit dicapai.
"Kadang pelaku hanya dihukum begitu saja, tanpa ada pendampingan. Padahal pendampingan psikologis penting untuk memahami masalahnya, meski secara teoritis penyembuhan memang sangat sulit," tambahnya.
Selain membahas sisi forensik, Fakultas Psikologi UKWMS juga menekankan paradigma psikologi positif kepada mahasiswa sejak semester awal. Tujuannya agar calon psikolog tidak hanya memandang sisi gangguan, tetapi juga potensi kekuatan dalam diri seseorang.
"Kita ingin mempromosikan kesejahteraan, bukan hanya mengkritisi gangguan. Dari trauma misalnya, kita bisa belajar resiliensi atau kekuatan untuk bangkit kembali," tutur Agnes.
Menurutnya, kesadaran inilah yang penting ditanamkan, baik bagi masyarakat maupun orang tua, agar anak-anak lebih terlindungi.
"Harapan kami tumbuh kesadaran bahwa ada masalah besar di sana. Yang lebih penting adalah empowering anak-anak supaya mereka tidak jadi korban," pungkasnya. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

