Ubah Limbah Jadi Cuan, Mahasiswa BBK 7 Unair Inisiasi Budidaya Maggot di Desa Dasri Banyuwangi

Program bertajuk 1001 Manfaat Maggot ini dirancang sebagai solusi konkret dalam mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs) di tingkat desa.

29 Jan 2026 - 14:00
Ubah Limbah Jadi Cuan, Mahasiswa BBK 7 Unair Inisiasi Budidaya Maggot di Desa Dasri Banyuwangi
Pemaparan materi sosialisasi budidaya maggot oleh Mucholid, warga Desa Dasri yang telah sukses menjadi pengusaha maggot. (Foto: Istimewa)

BANYUWANGI, SJP — Kelompok Mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 Universitas Airlangga (Unair) menginisiasi program edukasi pengelolaan limbah organik melalui budidaya maggot di Desa Dasri, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi, Sabtu (24/1/2026). 

Program bertajuk 1001 Manfaat Maggot ini dirancang sebagai solusi konkret dalam mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs) di tingkat desa.

Kegiatan yang dipusatkan di Balai Desa Dasri tersebut menggabungkan pemaparan teori dengan praktik langsung. 

Berbagai elemen masyarakat, mulai dari Karang Taruna, penggerak PKK, hingga peternak lokal, dilibatkan untuk memahami ekosistem budidaya lalat Black Soldier Fly (BSF) sebagai agen pengurai sampah yang bernilai ekonomis.

Ketua Kelompok BBK 7 Desa Dasri, Syauqi Sungkar, menjelaskan bahwa fokus utama kegiatan ini adalah mengubah pola pikir masyarakat dalam memandang limbah. 

"Tujuan kami adalah mengedukasi warga agar mampu mengubah sampah menjadi peluang ekonomi (cuan). Ini adalah solusi ganda: penanganan lingkungan sekaligus sumber penghasilan tambahan," ujar Syauqi.

Senada dengan hal tersebut, PIC kegiatan Aliya Destriana Putri memaparkan keunggulan teknis maggot. Selain mampu mengurai sampah organik dengan cepat, maggot memiliki kandungan protein tinggi (37%–50%) dan lemak (29%–32%).

"Kandungan nutrisi ini menjadikan maggot sebagai pakan alternatif yang sangat potensial bagi warga Dasri yang mayoritas memiliki ternak ikan dan unggas. Hal ini tentu dapat menekan biaya produksi pakan secara signifikan," tambah Aliya.

Agar program tidak berhenti pada tahap sosialisasi, mahasiswa menggandeng Muhammad Mucholid, seorang pengusaha maggot sukses asal Desa Dasri yang berbasis di Jember. 

Mucholid tidak hanya berbagi kiat sukses, tetapi juga berkomitmen melakukan pendampingan berkelanjutan.

Dalam forum tersebut, telah terbentuk komunitas pembudidaya maggot desa yang awalnya ditargetkan beranggotakan tujuh orang, namun melampaui ekspektasi dengan bergabungnya sepuluh warga sebagai perintis. 

Langkah ini diharapkan menjadi embrio kemandirian ekonomi desa berbasis pengelolaan lingkungan.

Implementasi budidaya maggot di Desa Dasri ini secara langsung berkontribusi pada tiga poin penting SDGs: SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), mewujudkan pemukiman yang inklusif dan berdaya tahan; SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), mengurangan substansial limbah melalui daur ulang dan penggunaan kembali; dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), mitigasi emisi gas metana yang dihasilkan dari tumpukan sampah organik di tingkat domestik.

Melalui sinergi antara akademisi, praktisi, dan masyarakat, Desa Dasri diharapkan mampu menjadi pilot project bagi desa-desa lain di Banyuwangi dalam hal tata kelola sampah mandiri yang berorientasi laba. (***) 

Penulis: Aliya Destriana Putri, Peserta BBK 7 Universitas Airlangga Desa Dasri, Tegalsari, Banyuwangi.

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow