Tak Hanya Jemaah, Petugas Juga Punya Kisah: Perjuangan Ketua Kloter SUB 16 di Tanah Suci

Petugas haji Ahmad Allauddin tempuh belasan kilometer tiap hari demi temui jemaah yang terpencar di 19 hotel, sambil hadapi kisruh distribusi kartu Nusuk dan kemacetan Armuzna.

05 Jul 2025 - 14:33
Tak Hanya Jemaah, Petugas Juga Punya Kisah: Perjuangan Ketua Kloter SUB 16 di Tanah Suci
Ketua Kloter SUB 16, Ahmad Allauddin, membagikan kisah perjuangannya melayani jemaah haji selama di Tanah Suci (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Suasana hangat dan haru masih terasa di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, seiring dengan terus berdatangannya jemaah haji yang dipulangkan dari Tanah Suci yang masih berlangsung sejak awal Juni 2025.

Dalam momen pemulangan jemaah haji 2025, beragam kisah menarik mulai bermunculan, namun kisah itu tidak hanya datang dari para jemaah, tetapi juga dari para petugas haji yang setia mendampingi mereka selama perjalanan ibadah di Arab Saudi.

Salah satunya datang dari Ahmad Allauddin, Ketua Kloter SUB 16 asal Embarkasi Surabaya. Ia dan jemaahnya telah tiba kembali di tanah air pada Juni lalu. Di momen yang masih terasa hangat, Allauddin berbagi cerita tentang dinamika tugas dan tantangan yang ia hadapi selama bertugas di Tanah Suci.

"Menjadi petugas haji bukan hal yang ringan. Ini bukan sekadar tugas, tapi pengabdian. Harus siap fisik, mental, dan yang paling penting adalah hati," ucap Allauddin, Sabtu (5/7/2025).

Ketua kloter yang sehari-hari bertugas sebagai Ketua Tim Humas, Protokol, dan Sistem Informasi di Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur itu mengaku menghadapi situasi yang sangat menantang. 

Jemaah kloter SUB 16 tidak ditempatkan dalam satu hotel saja, melainkan tersebar di 19 hotel yang berada di enam sektor dan empat wilayah berbeda.

"Setiap hari saya bersama pembimbing ibadah dan dokter kloter harus keliling mengunjungi hotel-hotel tempat jemaah kami tinggal. Kami berjalan kaki dari satu terminal ke terminal lain, dari satu wilayah ke wilayah berikutnya," katanya.

Situasi makin rumit ketika distribusi kartu Nusuk yang menjadi salah satu syarat penting dalam pelaksanaan ibadah haji dilakukan secara tidak terkoordinasi oleh pihak penyelenggara lokal (syarikah) sejak di Madinah. Pembagian kartu dilakukan malam hari di lobi hotel tanpa pemberitahuan kepada sektor atau petugas kloter.

*Karena jemaah tersebar, banyak yang kesulitan menerima kartu. Beberapa baru mendapatkannya menjelang puncak ibadah di Armuzna. Untungnya, mereka tetap bisa berangkat karena sudah mengunduh aplikasi Nusuk," jelasnya.

Minimnya koordinasi membuat sektor harus memanggil ketua-ketua kloter untuk membantu menertibkan proses distribusi kartu, yang semestinya bisa dilakukan lebih rapi dan terpusat.

Tantangan besar lain datang saat masa Armuzna, puncak ibadah haji yang mencakup perjalanan ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Pada fase itu, jemaah tidak lagi dikelompokkan berdasarkan kloter, melainkan berdasarkan sistem khalifah yang mencampur jemaah dari berbagai daerah dan hotel.

"Ini menuntut kami bekerja ekstra. Kami harus mengumpulkan jemaah yang sebelumnya tidak saling kenal, dari hotel-hotel berbeda. Ini butuh pendekatan dan strategi komunikasi yang baik," tuturnya.

Dari sisi transportasi, ia menuturkan bahwa sebenarnya bus telah disiapkan untuk mengangkut jemaah dari Muzdalifah ke Mina. Namun, kemacetan membuat banyak jemaah memilih berjalan kaki, yang justru memperlambat arus secara keseluruhan.

"Alhamdulillah, meskipun penuh tantangan, seluruh jemaah kami bisa tiba di Mina sebelum pukul sepuluh pagi," katanya dengan nada lega.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Allauddin juga tak luput dari sorotan publik terkait tudingan bahwa sebagian petugas menggunakan kesempatan bertugas untuk melaksanakan ibadah pribadi. Ia memberikan klarifikasi secara terbuka dan tegas.

"Saya hanya melakukan umrah sunah dua kali selama bertugas. Kalau mau, saya bisa lebih. Tapi saya memilih fokus pada tugas. Waktu saya lebih baik saya pakai untuk memastikan jemaah kami aman dan nyaman," tegasnya.

Meski penuh tekanan dan tanggung jawab besar, Allauddin mengaku tetap merasa bersyukur bisa menjalankan tugas mulia ini. Ia bahkan merasa terharu ketika bisa membantu jemaah dari kloter lain yang tidak didampingi petugas.

"Dukanya, saya harus terpisah dari jemaah di banyak tempat. Tapi sukanya, ketika saya bisa datang dan jemaah merasa dilindungi, meski mereka bukan dari kloter saya. Itu momen yang sangat berkesan," ungkapnya.

Cerita dari Ahmad Allauddin menjadi satu dari sekian banyak potret pengabdian para petugas haji Indonesia. Di balik kesuksesan penyelenggaraan haji, ada kerja senyap namun berdampak besar dari mereka yang mengedepankan semangat melayani, meski harus mengorbankan kenyamanan pribadi. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow