SPPG Berbasis Pondok Pesantren Diharapkan jadi Simpul Kekuatan Ketahanan Masyarakat
Kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada dalam naungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) diharapkan tidak hanya mendukung program MBG pemerintah tapi juga meningkatkan upaya ketahanan masyarakat, terutama di lingkungan pondok pesantren.
KOTA KEDIRI, SJP - Kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada dalam naungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) diharapkan tidak hanya mendukung program MBG pemerintah, tapi juga meningkatkan upaya ketahanan masyarakat, terutama di lingkungan pondok pesantren.
Hal tersebut diungkapkan Ketua PBNU KH Yahya Cholil Staquf usai meresmikan 27 SPPG yang berada dalam naungan PBNU. Peresmian dipusatkan di pondok pesantren Lirboyo, Kota Kediri. Sebelumnya di NTB ada 36 SPPG yang diresmikan, sedangkan di Batang ada 69 SPPG.
"Alhamdulillah sekarang total sudah ada lebih dari 250 SPPG yang sudah beroperasi dan berjalan. Mudah-mudahan SPPG ini juga akan menjadi simpul-simpul dari inisiatif-inisiatif ketahanan masyarakat yang sekarang ini sedang juga dikoordinasikan oleh PBNU," ungkap Gus Yahya, sapaan akrabnya, Selasa (14/04/2026).
Gus Yahya menambahkan jika melihat jumlah santri yang sedang menempuh pendidikan di Ponpes Lirboyo, maka perlu lebih dari 2 SPPG. Saat ini, Ponpes Lirboyo memiliki setidaknya 52 ribu santri.
"Kalau dihitung butuh 15 sampai 20 SPPG. Di Lirboyo sendiri masih baru jadi 2 SPPG, kita harapkan nanti bisa tambah minimal 6 SPPG lagi khusus untuk Lirboyo, kita akan terus jalankan. Mudah-mudahan akan tambah lagi, " jelasnya.
Sementara itu Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Operasional dan Pemenuhan Gizi, Sony Sanjaya mengapresiasi peresmian SPPG di lingkungan pondok pesantren Lirboyo. Apalagi selain peresmian, dalam kesempatan itu juga dilakukan business matching yang difasilitasi PBNU untuk membangun rantai pasok berbasis pesantren.
Dalam forum tersebut secara khusus, UMKM binaan LPPNU PBNU dan PWNU Jawa Timur dipertemukan dengan ekosistem SPPG. Selain itu juga ada perwakilan perbankan, terkait pembiayaan.
Sony Sanjaya menegaskan hal tersebut sangat diperlukan, karena tidak hanya memberikan makanan, tetapi juga bagaimana menciptakan kegiatan-kegiatan masyarakat yang mengakibatkan perekonomian masyarakat meningkat.
"SPPG Lirboyo merupakan miniatur dari pelaksanaan program MBG. Mengapa? Karena sudah dipikirkan berasnya dari mana, sayurannya dari mana. Tadi saya melihat bagaimana nugget dari ikan lele. Nugget dari ikan lele itu dibuat dan itu ternyata buatan UMKM yang melibatkan seluruh masyarakat. Ini adalah tujuan berikutnya atau multiplier effect dari program makan bergizi gratis. Bukan hanya sekedar memberi makan, tetapi bagaimana menghidupkan perekonomian pada tingkat bawah," jelasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

