Misteri Makam Keramat di Nganjuk, Konon Kuburan Pasukan Khusus Diponegoro

Pertempuran berjuluk Perang Diponegoro atau Perang Jawa tahun 1825-1830 itu memakan banyak korban jiwa, termasuk para prajurit Diponegoro yang kini disemayamkan di wilayah Nganjuk

13 Sep 2025 - 14:15
Misteri Makam Keramat di Nganjuk, Konon Kuburan Pasukan Khusus Diponegoro
Makam Kyai Trunoyudo yang ada di Desa Musir Lor (Foto: kuswanto/SJP)

NGANJUK, SJP - Pasukan Pangeran Diponegoro pernah terlibat peperangan besar melawan bala tentara Belanda di wilayah timur, antara lain Kabupaten Ngawi, Madiun, Rajegwesi, Berbek, Kertosono, hingga Nganjuk.

Pertempuran berjuluk Perang Diponegoro atau Perang Jawa tahun 1825-1830 itu memakan banyak korban jiwa, termasuk para prajurit Diponegoro yang kini disemayamkan di wilayah Nganjuk

Sosok Kyai Trunoyudo, pendekar dari bumi Grobogan, Jawa Tingah, adalah sosok yang tumbuh dalam balutan kesalehan dan keberanian. Di tengah masyarakat Nganjuk, ia adalah panutan; di medan perang, ia adalah perisai.

Bukan hanya seorang Kyai, Trunoyudo adalah ahli strategi perang yang ulung. Lebih dari itu, ia adalah motivator ulung yang mampu membangkitkan semangat juang para pengikutnya. 

Lantunan doa yang ia pimpin sebelum pertempuran bagaikan mantra yang mengalirkan kekuatan. Wejangan-wejangannya adalah obor yang membakar semangat perlawanan. Setiap tindakannya selaras dengan nilai-nilai luhur agama.

Kyai Trunoyudo juga ikut mengangkat senjata melawan penjajah belanda di bawah panji panji merah gula kelapa yang terkenal bendera merah putih. Dalam peperangan ini, Kyai Trunoyudo di bawah pasukan pangeran diponegoro di wilayah gua selarong.

Saat peristiwa itu, Kelompok yang sama, salah satunya dari kyai trunoyudo, yakni, Adipati Rajeg Wesi yang sekarang di kenal Kabupaten Bojonegoro. Bahkan, Adipati ini di kenal sebutan Raden Tumenggung Sosrodilogo yang memimpin pasukan yang beraliansi dengan Pangeran Diponegoro kala itu

Saat terjadi peperangan, Kyai Trunoyudo memimpin pasukan bergerak ke arah selatan menuju Wilangan tepatnya di Desa Tungklur dan di teruskan menuju Gunung wilis dan dilanjutkan ke arah Ponorogo.

Dalam perjalanan, Kyai Trunoyudo menetap di wilayah Rejoso tepatnya di Desa Musir Lor, Setelah menetap cukup lama, ahirnya di dengar oleh Adipati Berbek Raden Tumenggung Sosrokusumo I. 

Setelah pertemuanya dengan Raden Tumenggung Sosrokusumo I, Kyai Trunoyudo di percaya untuk menjadi Demang di Desa Musir Lor hingga memiliki keturunan. 

Saat menjabat Demang Musir Lor, Kyai Trunoyudo memiliki putri dan ahirnya di nikahkan dengan salah satu keluarga dari Raden Tumenggung Sosrokusumo I hingga meninggal di Desa Musir Lor hingga setiap tahun masyarakat mengadakan acara nyadran di makam Kyai Trunoyudo hingga di uri-uri sampai sekarang.

Tokoh Sejarah Nganjuk, Aris Trio Effendi kepada Suarajatimpost mengatakan, makam Kyai Trunoyudo yang di Desa Musir Lor ini merupakan tempat peristirahatan terakhir para prajurit Perang Jawa.

Berdasarkan cerita yang dia peroleh dari arsip, Kyai trunoyudo, itu diketahui merupakan pendukung Pangeran Diponegoro yang ikut angkat senjata saat pecahnya Perang Jawa.

"Ceritane saking arsip yang kulo simpen nggeh ngoten. Wonten perang Diponegoro wonten daerah mriki, akhire sek seda dimakamke wonten makam niki (Cerita dari arsip yang saya simpan. Ada perang Diponegoro di sini, akhirnya yang meninggal dimakamkan di makam ini)," ucapnya. Sabtu (13/9/2025).

Kisah Kyai Trunoyudo adalah cermin bahwa sejarah perjuangan bangsa tak hanya ditulis oleh para pemimpin besar, tetapi juga oleh para pahlawan lokal yang rela berkorban demi kemerdekaan.

Namanya mungkin tak seharum Pangeran Diponegoro, namun semangatnya abadi dalam hati masyarakat Magetan, menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk terus berjuang demi keadilan dan kebenaran. (**)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow