Semeru Masih Gemuruh, PVMBG Masih Tetapkan Status Awas
Aktivitas Gunung Semeru Level IV Awas, erupsi berlanjut, awan panas Besuk Kobokan, peringatan PVMBG, Priatin Hadi Wijaya, zona bahaya, lava, kegempaan tinggi, masyarakat diminta waspada.
LUMAJANG, SJP – Aktivitas Gunung Semeru kembali menunjukkan intensitas tinggi sejak erupsi besar yang terjadi pada Rabu, 19 November 2025, pukul 14.13 WIB.
Saat itu, awan panas guguran meluncur sejauh 13,8 kilometer ke arah Besuk Kobokan, salah satu yang terjauh dalam beberapa tahun terakhir.
Rekaman seismograf menunjukkan amplitudo maksimum 47 mm dengan durasi gempa lebih dari empat jam. Berdasarkan kondisi tersebut, PVMBG resmi menaikkan status Semeru dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas) mulai pukul 17.00 WIB di hari yang sama.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Priatin Hadi Wijaya, menjelaskan, erupsi tidak berhenti sampai di sana. Pemantauan visual pada 21–22 November 2025 menunjukkan aktivitas vulkanik yang berkelanjutan, meski sering tertutup cuaca berkabut.
Bahkan, asap kawah putih bertekanan sedang tampak menjulang hingga seribu meter di atas puncak, disertai letusan-letusan setinggi 300–500 meter yang dominan mengarah ke tenggara.
“Aktivitas guguran lava masih berlangsung, dengan jarak luncur mencapai 800 meter ke arah Besuk Kobokan. Data kegempaan juga menunjukkan jumlah gempa yang tinggi, menandakan masih adanya suplai material dari bawah permukaan Semeru,” ujar Priatin pada Sabtu (22/11/2025) melalui pesan rilisnya.
Hingga pukul 12.00 WIB, PVMBG mencatat 214 kali gempa letusan, 28 kali gempa guguran, 30 kali hembusan, hingga gempa vulkanik dalam yang menandakan dinamika sumber magma. Getaran banjir juga terekam dua kali berturut-turut, yang berarti ada indikasi kuat adanya aliran lahar di Besuk Kobokan yang memicu letusan sekunder.
Meski demikian, instrumen tiltmeter dan GPS menunjukkan pola pergerakan yang relatif stabil. Hal ini mengindikasikan tidak ada tekanan signifikan dari bagian dalam tubuh gunung. Namun, tren penurunan variasi kecepatan seismik (dv/v) sejak pertengahan Oktober 2025 menandakan peningkatan tekanan di dekat permukaan, di mana situasi tersebut yang membuat Semeru tetap berada dalam fase kritis.
“Status Level IV (Awas) belum bisa diturunkan. Aktivitas erupsi masih terjadi dan potensi bahaya tetap tinggi, terutama di sektor tenggara. Kami meminta masyarakat tetap mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan,” tegas Priatin.
PVMBG kembali menegaskan zona berbahaya. Tidak ada aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 20 kilometer dari puncak. Di luar itu, masyarakat tetap dilarang beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai. Radius delapan kilometer dari kawah juga harus steril dari aktivitas warga karena risiko lontaran batu pijar.
Priatin mengingatkan masyarakat untuk terus memperbarui informasi melalui kanal resmi Badan Geologi, Magma Indonesia, dan media sosial PVMBG.
“Kondisi bisa berubah cepat. Akses informasi yang benar menjadi kunci keselamatan,” katanya.
Hingga Sabtu siang, visual Semeru masih tertutup kabut. Namun rekaman lapangan menunjukkan letusan sekunder terjadi di Kali Lanang pada pukul 10.53 WIB, menjadi pengingat bahwa bahaya tidak hanya datang dari puncak, tetapi juga dari aliran-aliran sungai yang menjadi jalur material vulkanik.
Aktivitas Semeru masih jauh dari reda. Warga di bantaran sungai dan kawasan rawan diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti arahan petugas, sementara tim pemantau PVMBG terus berjaga untuk memastikan setiap perubahan segera diinformasikan ke publik. (**)
Editor : Rizqi Ardian
Sumber : PVMBG
What's Your Reaction?

