Sembilan Siswa SMK di Tulungagung Diduga Keracunan MBG, Dinkes Lakukan Investigasi

Insiden ini memicu tanda tanya besar mengenai standar keamanan pangan dan kapasitas produksi dapur penyedia, mengingat jumlah korban terus bertambah sejak laporan pertama masuk pada pukul 13.00 WIB.

22 Jan 2026 - 16:40
Sembilan Siswa SMK di Tulungagung Diduga Keracunan MBG, Dinkes Lakukan Investigasi
Siswa SMK Sore Tulungagung yang mengalami gejala keracunan menjalani perawatan di UGD Puskesmas Beji. (Beny/SJP)

TULUNGAGUNG, SJP — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tulungagung kembali didera persoalan serius. 

Sebanyak sembilan siswa SMK Sore Tulungagung dilaporkan mengalami gejala klinis serupa keracunan, seperti mual, pusing, hingga diare akut, beberapa jam setelah menyantap menu MBG yang dibagikan pihak sekolah pada Kamis (22/1/2026).

Insiden ini memicu tanda tanya besar mengenai standar keamanan pangan dan kapasitas produksi dapur penyedia, mengingat jumlah korban terus bertambah sejak laporan pertama masuk pada pukul 13.00 WIB.

Sembilan siswa tersebut kini menjalani observasi intensif di Puskesmas Beji. Salah satu korban, FS, siswa kelas X, memberikan kesaksian kunci. Ia menegaskan tidak mengonsumsi makanan lain selain jatah MBG yang berisi ikan patin, sayur, kedelai, dan jeruk.

"Sebelumnya belum makan apa-apa. Jadi cuma makan MBG itu saja. Tidak langsung sakit, tapi selang beberapa jam baru terasa mual dan pusing," ungkap dia saat menjalani perawatan medis.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung mengonfirmasi adanya kendala logistik pada hari kejadian. 

Kapasitas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Moyoketen 1 diketahui tidak sebanding dengan jumlah sasaran distribusi.

"Ada pergeseran jadwal distribusi dari pukul 09.00 WIB menjadi pukul 10.00 WIB. Hal ini diduga karena jumlah sasaran mencapai 2.900 siswa, sementara kemampuan produksi dapur hanya sekitar 2.600-an porsi," ujar Kepala Bidang P2P Dinkes Tulungagung, Aris Setiawan.

Pergeseran waktu ini memicu kecurigaan terkait durasi penyimpanan makanan (holding time) sebelum dikonsumsi, yang sangat krusial bagi keamanan pangan, terutama untuk menu berbahan dasar ikan.

Meskipun para korban merujuk pada menu MBG, Dinkes Tulungagung masih bersikap hati-hati dalam menentukan penyebab pasti (kausalitas). 

Aris menyebut adanya kemungkinan faktor luar, mengingat beberapa siswa dilaporkan sempat mengonsumsi jajanan di luar sekolah akibat keterlambatan distribusi makanan.

"Kami sedang mendalami apakah ini murni dari dapur MBG atau ada faktor eksternal. Tim sudah bergerak mengamankan sampel makanan dari dapur SPPG Moyoketen 1 dan dari sekolah untuk uji laboratorium," tegasnya.

Dinkes Tulungagung kini menetapkan status siaga di seluruh puskesmas selama 3x24 jam ke depan. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi adanya masa inkubasi bakteri atau toksin yang mungkin baru memicu gejala pada sore atau malam hari.

Dari total 2.627 siswa yang menerima paket makanan di SMK Sore, saat ini baru sembilan orang yang menunjukkan gejala berat. 

Namun, insiden ini menjadi rapor merah bagi manajemen distribusi program MBG di Tulungagung yang tercatat menggunakan vendor berbeda dari insiden keracunan sebelumnya.

Hingga berita ini diturunkan, pemeriksaan laboratorium terhadap sampel ikan patin dan komponen menu lainnya masih berlangsung guna memastikan apakah terdapat kontaminasi patogen atau zat kimia berbahaya. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow