Sembilan IRT Tuwowo Diwisuda, Siap Menjadi Penjahit Mandiri Lewat Program Pemberdayaan YBM PLN
Di tengah ekonomi yang lesu, sembilan ibu rumah tangga di Tuwowo resmi diwisuda sebagai penjahit mandiri berkat program pemberdayaan YBM PLN UIP JBTB yang ubah mustahik menuju muzakki.
SURABAYA, SJP — Di tengah kondisi perekonomian nasional yang belum stabil, upaya pemberdayaan masyarakat menjadi semakin penting. Hal itulah yang terlihat dalam Wisuda Pelatihan Menjahit di Balai RW Tuwowo, Kelurahan Kapas Madya Baru, Tambaksari, Selasa (9/12/2025).
Acara tersebut menandai lahirnya sembilan penjahit baru yang dibina melalui program pemberdayaan ekonomi Yayasan Baitul Maal PLN Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Timur dan Bali (YBM PLN UIP JBTB) selama empat bulan terakhir, sebagai langkah nyata agar keluarga di wilayah tersebut dapat menambah penghasilan dan menjadi lebih mandiri.
Program Ekonomi Sebagai Pemberdayaan
Pelatihan ini merupakan bagian dari pilar ekonomi YBM PLN UIP JBTB melalui Kelompok Usaha Cahaya (KUC) "Sartika Dewi". Program tersebut menyasar kelompok yang membutuhkan dan berpotensi untuk diberdayakan, khususnya para ibu rumah tangga (IRT) yang sebelumnya tidak memiliki pemasukan.
Manager YBM PLN UIP JBTB, Achmad Fatkhurrozi, menjelaskan bahwa pelatihan menjahit dipilih karena dinilai paling cocok untuk ibu-ibu di lingkungan tersebut, sekaligus menjadi alternatif dari dominasi bantuan UMKM berbasis kuliner.
"Di sini banyak ibu rumah tangga yang sebenarnya punya mimpi besar tapi belum punya kesempatan. Maka kami berikan pelatihan menjahit agar mereka bisa punya keterampilan dan pemasukan," ujar Fatkhurrozi, Kamis (9/12/2025).
Fatkhurrozi menambahkan bahwa inti dari program ini bukan hanya keterampilan, tetapi perubahan mindset dari mustahik bisa naik menjadi muzakki, yakni dari penerima zakat menjadi orang yang wajib memberikan zakat.
"Kesuksesan bagi kami itu bukan hanya mereka bisa menjahit, tapi bagaimana mustahik bisa naik menjadi muzakki. Jadi ini proses panjang, produksi, marketing, sampai mindset," katanya.
YBM PLN juga memberikan hibah berupa 10 alat produksi seperti mesin jahit, mesin obras, mesin pelubang kancing, manekin, hingga perlengkapan pendukung lainnya. Semua alat ditempatkan di Balai RW agar dapat digunakan bersama dan berkelanjutan.
Pendampingan Empat Bulan yang Asah Skill dan Mental
Pelatihan yang diwisudakan hari ini merupakan kelanjutan dari program yang sudah berjalan hampir dua tahun. Sementara bagian pelatihan intensif yang berlangsung empat bulan dipandu langsung oleh pelatih dari UKM V-RA Collection, Novita Rahayu Purwaningsih.
Dalam sesi pendampingannya, Novita tidak hanya mengajarkan teknik menjahit, tetapi juga membangun keberanian peserta untuk memasarkan produk melalui latihan presentasi dan komunikasi.
"Yang saya latih dimulai dari nol lagi, karena beda mentor beda metode. Saya juga ajari mereka presentasi satu per satu biar percaya diri saat menghadapi customer," tutur pemilik produk BY-VIRA itu.
Ia juga mengapresiasi salah satu peserta yang ternyata merupakan rekan kerja lama Novita saat masih bekerja di konveksi, antusias belajar kembali dan ringan tangan untuk membantu teman-temannya membuat Novita tergerak untuk memberikan apresiasi lebih.
"Beliau ini sebenarnya sudah bisa jahit, tapi belum bisa bikin pola atau potong bahan. Yang membuat saya apresiasi itu karena dia sangat membantu peserta lain," ujar Novita.
Menurutnya, pemasaran kini masih berada dalam lingkup warga sekitar, dengan etalase baju dipajang di Balai RW. Harga produk berkisar Rp95.000 hingga Rp175.000, dengan harga khusus untuk pembelian grosir. Ke depan, kelompok ini ditargetkan dapat masuk ke marketplace agar pasar lebih luas.
Dukungan RW dan Antusiasme Warga
Ketua RW 04 Kapas Madya Baru, Agung Suprapto, mengaku bangga melihat perkembangan ibu-ibu peserta. Menurutnya, kini mereka telah mampu memproduksi dan menjual hasil karya, bahkan beberapa pesanan datang dari RT, dewan, hingga jalur online.
"Dulu mereka benar-benar belajar dari nol. Sekarang alhamdulillah sudah bisa menjual, bahkan pesanan kaos dari RT juga ada. Perkembangannya sangat bagus," katanya.
Agung menjelaskan bahwa Balai RW memang disediakan sebagai ruang aktivitas masyarakat, termasuk tempat pelatihan menjahit. RW juga menguruskan SK kelompok sehingga YBM PLN dapat menyalurkan bantuan alat secara resmi.
"Saya senang sekali kalau warga di sini aktif. Ibu-ibu kalau sudah selesai pekerjaan rumah bisa menjahit untuk membantu keluarga. Intinya, ayo optimis, jangan pesimis," ujarnya.
Wisuda hari ini bukan akhir, melainkan titik awal bagi sembilan ibu rumah tangga untuk memulai usaha kecil mereka. Dengan keterampilan menjahit, fasilitas usaha, dan dukungan masyarakat, para lulusan pelatihan diharapkan mampu memperkuat ekonomi keluarga sekaligus membuka peluang kerja baru di lingkungan mereka.
Program itu juga direncanakan akan direplikasi di lokasi lain oleh YBM PLN UIP JBTB, termasuk pengembangan pelatihan crafting untuk memperluas cakupan pemberdayaan perempuan di Surabaya. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

