Seluruh Wilayah di Jatim Alami Inflasi pada Periode Maret 2025, Berakhirnya Diskon Listrik Jadi Pemicu Utama
Seluruh daerah di Jawa Timur alami inflasi pada Maret 2025, didorong lonjakan tarif listrik pasca berakhirnya diskon pemerintah yang menyumbang andil terbesar dalam kenaikan harga.
SURABAYA, SJP - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur melaporkan bahwa seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur mencatat inflasi pada periode Maret 2025.
Inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) untuk Provinsi Jawa Timur sendiri tercatat sebesar 1,44 persen, sedangkan inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) mencapai 0,77 persen. Kenaikan tersebut didorong secara signifikan oleh berakhirnya kebijakan diskon tarif listrik dari pemerintah.
"Diskon tarif listrik dari pemerintah yang sebelumnya berlaku sudah berakhir, itu yang menjadi penyebab utama inflasi bulan ini," ujar Kepala BPS Jawa Timur, Zulkipli, saat dikonfirmasi pada Rabu (9/4/2025).
Inflasi Terjadi di Seluruh Wilayah Pemantauan
Berdasarkan hasil pemantauan BPS di 11 kabupaten/kota IHK di Jawa Timur, inflasi tercatat merata di seluruh wilayah. Kabupaten Sumenep mencatat tingkat inflasi bulanan tertinggi sebesar 1,91 persen, sedangkan Kota Surabaya mencatat inflasi terendah yakni 1,30 persen. Tidak ada daerah yang mengalami deflasi pada periode ini.
Berakhirnya Diskon Listrik Dorong Inflasi Secara Teknis
Komoditas dengan kontribusi tertinggi terhadap inflasi periode ini adalah tarif listrik, yang mengalami lonjakan harga sebesar 42,82 persen, memberikan andil 0,89 persen poin terhadap inflasi bulanan Jawa Timur. Kenaikan itu bersifat teknis sebagai konsekuensi dari pencabutan diskon tarif listrik untuk pelanggan prabayar yang sebelumnya diberlakukan pemerintah.
"Kalau tarif listrik dikesampingkan, inflasi kita sebenarnya terhitung baik dan stabil," kata Zulkipli.
Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik merespons kenaikan ini, karena sifatnya bukan struktural melainkan temporer akibat kebijakan tarif.
Komoditas Konsumen Juga Berkontribusi pada Inflasi
Selain tarif listrik, sejumlah komoditas konsumsi rumah tangga turut memberikan kontribusi terhadap inflasi, antara lain:
- Cabai rawit: Inflasi 25,36% (andil 0,13%)
- Bawang merah: Inflasi 34,86% (andil 0,12%)
- Emas perhiasan: Inflasi 3,99% (andil 0,06%)
- Beras: Inflasi 1,18% (andil 0,05%)
- Daging ayam ras: Inflasi 1,72% (andil 0,03%)
- Telur ayam ras: Inflasi 2,04% (andil 0,02%)
Kenaikan pada komoditas ini berkaitan erat dengan pola konsumsi masyarakat selama bulan Ramadan yang dimulai pada awal Maret.
Angkutan Udara Alami Penurunan Harga
Satu-satunya komoditas utama yang menahan laju inflasi adalah angkutan udara, yang mencatat deflasi sebesar 6,61 persen, dengan kontribusi negatif sebesar 0,09 persen poin terhadap inflasi bulan ini. Penurunan harga tiket pesawat menjelang Lebaran menjadi hal yang tidak lazim namun diapresiasi.
"Kelompok transportasi jarang sekali di Lebaran mengalami penurunan harga. Ini sesuatu yang baru dan patut diapresiasi," jelas Zulkipli.
Inflasi Tahunan Masih dalam Rentang Terkendali
Secara tahunan (y-on-y), Jawa Timur mencatat inflasi sebesar 0,77 persen. Kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 106,61 pada Maret 2024 menjadi 107,43 pada Maret 2025 dipengaruhi oleh beberapa kelompok pengeluaran, terutama:
- Perawatan pribadi dan jasa lainnya: +8,94%
- Penyedia makanan dan minuman/restoran: +2,13%
- Kesehatan: +1,95%
Sementara itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami penurunan indeks sebesar -7,49 persen, yang merupakan sisa dampak dari diskon tarif listrik yang berlaku pada awal tahun.
Jatim Berada di Peringkat 25 Secara Nasional
Secara nasional, Jawa Timur menempati peringkat ke-25 dari 35 provinsi dalam daftar inflasi tertinggi. Posisi ini menandakan bahwa meskipun terjadi tekanan harga pada periode ini, tingkat inflasi di Jawa Timur relatif masih rendah secara nasional.
"Kita ada di urutan 25 dari 35 provinsi. Artinya, tekanan harga kita relatif terkendali," pungkas Zulkipli. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

