Sekolah Diminta Aktif Edukasi dan Pantau Konsumsi Tablet Tambah Darah Remaja Putri

IDAI mendorong sekolah untuk edukasi dan pantau konsumsi tablet tambah darah demi cegah anemia pada remaja putri, serta luruskan hoaks soal efek samping.

18 Jun 2025 - 07:58
Sekolah Diminta Aktif Edukasi dan Pantau Konsumsi Tablet Tambah Darah Remaja Putri
Mencegah anemia dan kasus stunting, Ikatan Dokter Anak Indonesia menilai sekolah perlu memberikan edukasi dan memantau konsumsi tablet tambah darah para siswi.(Istimewa)

SUARAJATIMPOST.COM—Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan agar pihak sekolah aktif memberikan pemahaman dan turut memantau kepatuhan siswi dalam mengonsumsi tablet tambah darah (TTD). Langkah ini dianggap penting untuk mencegah anemia yang umum terjadi di kalangan remaja putri.

Menurut Prof Harapan Parlindungan Ringoringo, yang merupakan anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Hematologi Onkologi IDAI, penyuluhan yang luas di lingkungan sekolah juga dibutuhkan untuk meluruskan kesalahpahaman yang beredar terkait efek samping TTD.

"Bagaimana meyakinkan para siswi mengonsumsi tablet tambah darah itu tidak apa-apa. Efeknya bikin mual dan perut enggak enak itu kan tidak benar. Tidak semua mengalami hal seperti itu, jadi yakinkanlah bisa meminum obat itu," ujar Prof Parlin, dikutip dari Beritasatu.com, Selasa (17/6/2025).

Lebih lanjut, dia mencontohkan bahwa sekolah bisa membekali siswa dengan pengetahuan terkait waktu yang tepat untuk mengonsumsi tablet tersebut, yaitu satu hingga dua jam sebelum makan atau dua jam sesudah makan.

"Minum tabletnya jangan bersamaan dengan makanan, karena nanti penyerapan zatnya jadi terganggu," tambahnya.

Program pemberian TTD kepada remaja putri merupakan inisiatif dari Kementerian Kesehatan untuk mengatasi anemia dan juga bagian dari upaya mencegah stunting. Program ini difokuskan pada siswi tingkat SMP dan SMA untuk membentuk generasi perempuan yang lebih sehat sejak usia muda.

"Pemerintah sudah menganjurkan pemberian zat besi secara rutin, sekali seminggu pada semua remaja putri. Sepanjang tahun dan itu program dari puskesmas, kerja sama dengan Kementerian Pendidikan, dengan sekolah-sekolah dari SMP-SMA," tegas Prof Parlin.

Berdasarkan data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, tercatat prevalensi anemia pada kelompok usia 15–24 tahun sebesar 15,5 persen. Sedangkan kelompok anak usia 5–14 tahun mencapai 16,3 persen. Kehilangan zat besi akibat menstruasi bulanan diperkirakan sekitar 12,5 hingga 15 miligram per bulan pada remaja putri. (**)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow