Sejarah Tarawih 10 Menit di Blitar, Berlangsung sejak Ratusan Tahun

Salat Tarawih ini digandrungi oleh ribuan jemaah setiap malamnya. Bahkan jemaah tidak hanya datang dari Blitar, banyak pula jemaah yang datang dari Kediri, Tulungagung, Nganjuk, bahkan Surabaya

07 Mar 2025 - 14:59
Sejarah Tarawih 10 Menit di Blitar, Berlangsung sejak Ratusan Tahun
Sejumlah jemaah sedang mengikuti salat Tarawih cepat di Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Desa Mantenan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar. (Foto:Ninda Kinanti/SJP)

BLITAR, SJP - Salat Tarawih di Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Desa Mantenan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar terkenal sangat cepat. Ternyata salat Tarawih cepat itu sudah berlangsung sejak tahun 1907.

Artinya, sudah 118 tahun atau lebih seabad salat Tarawih di pesantren itu terkenal ngebut. Hingga saat ini, salat Tarawih cepat di Blitar ini masih dilestarikan dan banyak jemaahnya. Bahkan dipadati ribuan jemaah dari berbagai daerah.

Muhammad Shodiqi Basthu Birri, putra dari KH Muhammad Dliya'uddin Azzamzami, pengasuh Ponpes Mambaul Hikam, mengatakan, salat Tarawih cepat itu dimulai sejak zaman kakek buyutnya yang bernama Kiai Abdul Ghofur yang merupakan pendiri dari Ponpes Mambaul Hikam.

"Biasanya salat Tarawih dipimpin abah saya. Karena kebetulan beliau sedang repot, saya diminta untuk menggantikannya," ucap Muhammad Shodiqi Basthu Birri, Jum'at (7/3/2025).

Asal muasal tradisi salat Tarawih cepat di Pondok Pesantren Mambaul Hikam itu dimulai saat kakek buyutnya bernama Kiai Abdul Ghofur merasa kondisi masyarakat setempat belum mengenal agama Islam. 

Saat bulan Ramadan, Kiai Abdul Ghofur mengajak masyarakat setempat untuk melaksanakan ibadah salat Tarawih dengan durasi 20-30 menit. Namun, hari demi hari jumlah jemaah yang ikut salat Tarawih terus berkurang.

"Mbah Yai Abdul Ghofur ini istilahnya yang babat tradisi salat tarawih cepat. Saat itu karena jumlah jamaah semakin berkurang, Mbah Yai mendatangi satu per satu rumah warga untuk menanyakan alasan tidak ikut jamaah salat Tarawih," terangnya.

Setelah ditanyakan satu per satu, hampir semua masyarakat setempat mengaku lelah mengikuti ibadah salat Tarawih. Alasannya, karena durasi salat Tarawih lama. Sedangkan saat malam hari mereka masih harus pergi ke sawah untuk panen.

Dari sinilah, Kiai Abdul Ghofur mengubah durasi salah Tarawih lebih cepat. Jika biasanya salat Tarawih dan salat Witir berlangsung selama 20 sampai 30 menit, sekarang berubah menjadi 10 sampai 12 menit.

"Dengan durasi yang lebih cepat ini, akhirnya banyak masyarakat yang mau mengikuti salat Tarawih dan tradisi ini masih bertahan sampai saat ini," ucapnya.

Meskipun pelaksanaan salat Tarawih cepat ini berlangsung di Blitar, namun jemaah yang hadir berasal dari berbagai daerah. Seperti, Kediri, Trenggalek, dan Tulungagung. Bahkan ada jemaah yang dari Surabaya.

Kapasitas masjid di Pondok Pesantren Mambaul Hikam mampu menampung sebanyak 1.000 jemaah. Mulai dari dalam masjid, halaman, hingga jalan depan masjid. Setiap hari, jumlah jemaah salat Tarawih di pondok ini berkisar 1.500 orang.

"Yang perlu saya garis bawahi. Meski durasinya cepat, salat Tarawih di sini tetap sesuai rukun dan syariat Islam," tuturnya.

Muhammad Hafis Saputra, salah satu jemaah salat Tarawih di Pondok Pesantren Mambaul Hikam, mengaku rutin mengikuti salat Tarawih di pesantren tersebut.

Padahal, jarak dari rumah Hafis ke Pesantren Mambaul Hikam sekitar 5 kilometer dan membutuhkan perjalanan selama kurang lebih 15 menit.

"Rumah saya di Ringinrejo, Kediri, kan berbatasan dengan Udanawu. Tiap Ramadan saya selalu ke sini. Karena ramai. Jemaah banyak dan cepat," imbuhnya. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow