Bukan Skripsi, Syarat Kelulusan Mahasiswa di Kampus Ini Menulis Al-Qur'an 30 Juz
Metode pembelajaran menulis ayat suci Al-Qur'an menggunakan tangan secara manual dianggap efektif untuk mempercepat pemahaman dan hafalan
JOMBANG, SJP - Cara mahasiswa mengamalkan ayat suci Al-Qur'an di Jombang terbilang inspiratif. Setiap mahasiswa memiliki kewajiban menulis isi dari Al-Qur'an sebagai salah satu syarat kelulusan menempuh perkuliahan.
Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Urwatul Wutsqo (STIT-UW) di Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang memilih cara membumikan Al-Qur'an dengan menugaskan mahasiswa menulis ayat-ayat secara manual dengan tulisan tangannya sendiri.
Jika pada umumnya orang-orang mengamalkan Al-Qur'an dengan cara hafalan, di kampus STIT-UW, mahasiswa mengenal dan memahami isi Al-Qur'an dengan tulisan tangan kosong.
Alumni kampus STIT-UW Jombang, Rohmadi menyebut, kewajiban menulis ayat suci Al-Qur'an sebanyak 30 juz ditekankan sejak kali pertama dia menjadi mahasiswa baru.
"Sudah diwajibkan sejak awal masuk. Karena memang kewajiban yang diberikan. Kalau tidak selesai, biasanya ijazah kampus tidak keluar. Jadi harus diselesaikan dulu," ucap Rohmadi, Jumat (7/3/2025).
Metode pembelajaran ini mewajibkan mahasiswa untuk dengan sabar dan telaten menulis ayat demi ayat Al-Qur'an. Perguruan tinggi ini memberikan waktu penyelesaian hingga 4 tahun.
"Dua juz di semester pertama. Empat juz di semester kedua. Begitu seterusnya, hingga semester delapan. Kurun waktu empat tahun diharap selesai," ujarnya.
Kepala Program Studi (Kaprodi) Manajemen Pendidikan Islam (MPI) STIT-UW Jombang, Solechan mengatakan, metode pembelajaran ini sejalan dengan visi dan misi lembaga yang ingin menjadikan kampus sebagai pusat perjuangan Al-Qur'an.
"Memang mahasiswa yang menempuh pendidikan di kampus ini diwajibkan menulis Al-Qur'an. Tujuannya untuk mengingat apa yang sudah dihafalkan, atau setidaknya pernah menghafal," bebernya.
Solechan menerangkan, Mahasiswa diharap tidak hanya menjadi penghafal Al-Qur’an saja, melainkan bisa menuliskan sesuai apa yang sudah dipelajari.
"Skema penulisannya ini dibagi dalam delapan semester. Semester pertama, mahasiswa menilai juz 1 dan juz 30. Lalu 28 juz lainnya dibagi rata. Mulai dari semester dua, sampai semester tujuh. Masing-masing semester menulis empat juz," terangnya.
Tradisi menulis Al-Qur'an ini sudah dijalankan bertahun-tahun. Pihak kampus meyakini, metode yang diajarkan akan bermanfaat dan ilmunya akan terus berguna.
"Kami ingin membekali para mahasiswa yang lulus dari kampus dan pesantren ini dengan sebuah kemampuan yang jarang akan ditemukan di kampus lain. Ketika mereka lulus, kami harap bisa disebarluaskan ke masyarakat," tandasnya. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

