Sampah Plastik di Surabaya Disulap Jadi Furnitur Bernilai Tinggi
Inovasi anak muda Surabaya, Syukriyatun Ni’amah, berhasil mengolah sampah plastik menjadi furnitur berkelas melalui Robries. Dari 20 ton plastik per bulan, produk mereka kini tembus pasar internasional dengan omzet hampir Rp1 miliar.
SURABAYA, SJP – Sampah plastik masih menjadi masalah serius di Indonesia. Namun, di Surabaya, persoalan ini justru melahirkan ide kreatif yang mampu mengubah tumpukan plastik tak terpakai menjadi furnitur bernilai jual tinggi.
Inisiatif ini digagas oleh Robries, perusahaan furnitur dan dekorasi rumah yang berdiri berkat tangan dingin Syukriyatun Ni’amah. Perempuan yang akrab disapa Niam itu berhasil menyulap limbah plastik menjadi produk manis dengan desain minimalis dan daya tahan kuat.
Kisah ini berawal pada 2016, ketika Niam masih berstatus mahasiswi desain produk. Tugas akhirnya membuatnya mempertanyakan esensi kursi, meja, atau dekorasi rumah jika hanya menggunakan material baru. Di sisi lain, tumpukan sampah plastik terus menggunung. Dari situlah muncul gagasan menjadikan limbah plastik sebagai bahan baku utama.
Pada 2018, ia melihat peluang besar dari material alternatif ramah lingkungan. Eksperimen kecil dimulai dengan aksesori, sebelum akhirnya beralih ke furnitur yang mampu menyerap lebih banyak plastik. Sejak saat itu, Niam kian fokus mengembangkan kreasi berbahan daur ulang. Kesadaran masyarakat yang meningkat selama pandemi COVID-19 semakin memperkuat arah bisnisnya.
Kini, Robries mengolah sekitar 20 ton plastik setiap bulan dengan tenaga 55 karyawan muda. Fokus utama ada pada tiga jenis plastik—HDPE, PP, dan EPE—yang biasa ditemukan pada tutup botol, ember, mainan, hingga wadah sekali pakai.
“Kalau di tempat lain biasanya hanya botolnya saja yang diambil, di sini kami usahakan semua dimanfaatkan,” ujar Niam.
Awalnya, bahan baku hanya dikumpulkan dari lingkungan sekitar. Namun, permintaan yang terus meningkat membuat Robries bekerja sama dengan pemulung dan bank sampah di Surabaya. Hasil kreasi mereka pun berhasil menembus pasar internasional hingga Singapura, Malaysia, Australia, Belanda, Italia, Korea, dan Amerika Serikat.
Dengan capaian itu, Robries kini mampu membukukan omzet hingga Rp800 juta–Rp900 juta per bulan, sekaligus memberi bukti bahwa limbah plastik bisa bertransformasi menjadi produk bernilai tinggi dan berdaya saing global. (**)
Sumber: Beritasatu.com
Editor: Danu S
What's Your Reaction?

