Sahur Keliling di Jombang, Shinta Nuriyah Ingatkan Puasa Adalah Langkah Revolusioner

ibadah puasa di bulan Ramadan hendaknya dimaknai sebagai langkah revolusioner yang mampu mengubah perilaku manusia menuju ketakwaan.

02 Mar 2026 - 18:09
Sahur Keliling di Jombang, Shinta Nuriyah Ingatkan Puasa Adalah Langkah Revolusioner
Istri Almarhum Presiden Abdurrahman Wahid, Ibu Hj Shinta Nuriyah saat memberikan sambutan dihadapan masyarakat Jombang. (Ist/SJP)

JOMBANG, SJP – Istri mendiang Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Shinta Nuriyah, mengingatkan bahwa ibadah puasa di bulan Ramadan hendaknya dimaknai sebagai langkah revolusioner yang mampu mengubah perilaku manusia menuju ketakwaan. 

Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Sahur Keliling 2026 yang digelar Komunitas GUSDURian Jombang di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim Seblak, Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, Minggu (1/3/2026) dini hari.

Mengusung tema "Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi", kegiatan yang berlangsung mulai pukul 02.00 WIB hingga menjelang Subuh tersebut dihadiri sekitar 600 peserta dari berbagai kalangan. 

Hadir dalam kesempatan itu pejabat daerah, tokoh lintas agama, komunitas masyarakat sipil, santri, serta kelompok dhuafa dan masyarakat marjinal seperti tukang becak, pengamen, pemulung, buruh, tukang parkir, hingga kelompok minoritas.

Dalam sambutannya, Shinta Nuriyah menegaskan bahwa puasa bukan sekadar rutinitas tahunan untuk menggugurkan kewajiban, melainkan ibadah yang membawa perubahan mendasar dalam diri seseorang.

"Puasa yang kita lakukan harus menjadi puasa yang revolusioner. Puasa yang mengubah perilaku dari yang kurang baik menjadi lebih baik, hingga akhirnya menuntun kita pada ketakwaan," tegas Shinta Nuriyah sebagaimana ditulis wartawan, Senin (2/3/2026).

Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia dibangun di atas keberagaman yang saling menguatkan. Karena itu, bulan Ramadan hendaknya menjadi ruang untuk merangkul semua kalangan tanpa memandang latar belakang agama, suku, budaya, maupun status sosial.

"Indonesia ini beragam, dan justru karena keberagaman itulah kita kuat. Saya ingin Ramadan menjadi ruang untuk merangkul semuanya," ungkap perempuan yang akrab disapa Ibu Nyai tersebut.

Ketua Panitia Achmad Fathul Iman menjelaskan bahwa Sahur Keliling bukan sekadar agenda seremonial Ramadan, melainkan ruang perjumpaan yang memperkuat fondasi sosial di tengah situasi kebangsaan yang memerlukan penguatan nilai kebersamaan. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow