Rupiah Loyo Tembus Rp 18.000, Industri Percetakan Mojokerto Tercekik Biaya Operasional

Komponen berbahan dasar plastik dan alat pendukung kemasan yang produksinya terkait erat dengan perdagangan global mengalami kenaikan harga hingga dua kali lipat, memaksa para pengusaha lokal menanggung beban operasional yang kian membengkak.

06 Jun 2026 - 09:31
Rupiah Loyo Tembus Rp 18.000, Industri Percetakan Mojokerto Tercekik Biaya Operasional
Rupiah melemah berdampak pada sejumlah pengusaha percetakan di Mojokerto. (Foto: Beritasatu.com)

MOJOKERTO, SJP — Keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) yang mendepak nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp 18.000 mulai memakan korban di sektor riil. 

Di Mojokerto, Jawa Timur, industri kreatif dan percetakan kini berada di ujung tanduk akibat ketergantungan pada bahan baku impor yang harganya melonjak tak terkendali.

Efek domino pelemahan kurs ini langsung menghantam struktur biaya produksi. Komponen berbahan dasar plastik dan alat pendukung kemasan yang produksinya terkait erat dengan perdagangan global mengalami kenaikan harga hingga dua kali lipat, memaksa para pengusaha lokal menanggung beban operasional yang kian membengkak.

Dampak nyata dari ambruknya mata uang garuda ini dirasakan langsung oleh M. Yunus, pemilik JDM Project Mojokerto. 

Ia menyebutkan, pelemahan rupiah paling memukul sektor hilir produksi, khususnya pada proses penyelesaian (finishing) dan pengemasan barang yang sangat bergantung pada material plastik.

"Bisnis percetakan dan toko online tentunya sangat terdampak, khususnya dalam segi finishing dan packing karena membutuhkan bahan plastik," kata Yunus, Selasa (2/6/2026).

Menurut Yunus, fluktuasi kurs membuat harga plastik bening untuk kemasan melonjak ekstrem hampir 100%. 

Tidak hanya itu, harga selotip yang sebelumnya berada di kisaran Rp 320.000 kini meroket tajam hingga menyentuh angka Rp 550.000.

"Selain plastik, bahan lainnya juga naik sekitar 20% sampai 40%. Tetapi yang paling terasa memang plastik," ujarnya.

Meskipun rupiah yang melemah mencekik ruang gerak keuangan perusahaan, Yunus mengaku berada di posisi dilematis. 

Ia memilih untuk tidak menaikkan harga jual produk utamanya demi mencegah larinya pelanggan di tengah situasi ekonomi nasional yang sedang lesu.

Sebagai gantinya, pengusaha harus memutar otak mencari siasat alternatif agar tidak langsung gulung tikar, salah satunya dengan membebankan biaya tambahan kantong plastik pada transaksi konvensional.

"Kami belum menaikkan harga agar customer tidak kaget. Untuk sementara kami menyiasati dengan mengenakan biaya tambahan kantong plastik pada pembelian offline," ucapnya.

Strategi bertahan ini terpaksa diambil karena dari sisi volume permintaan sebenarnya masih relatif stabil akibat sifat produk yang consumable (terus dibutuhkan). Namun, keuntungan bersih (profit margin) dipastikan tergerus dalam karena daya beli konsumen tidak sebanding dengan kenaikan biaya produksi yang dipicu anjloknya kurs rupiah.

Pelemahan rupiah ini kian diperparah oleh kebijakan internal platform marketplace. Di saat pelaku usaha berjuang menambal kerugian akibat lonjakan harga bahan baku impor, mereka juga harus menghadapi kenaikan biaya administrasi di ranah digital.

"Alhamdulillah karena produk kami consumable, jadi belum ada penurunan dari segi konsumen. Tetapi, biaya operasional yang kami tanggung memang semakin tinggi," keluh Yunus.

Sektor usaha kecil dan menengah seperti percetakan di Mojokerto kini hanya bisa berharap ada langkah konkret dari pemerintah dan bank sentral untuk meredam kejatuhan nilai tukar rupiah. Jika sentimen geopolitik global terus menekan mata uang lokal, daya tahan modal para pelaku usaha domestik diprediksi tidak akan bertahan lama. (**) 

Sumber: Beritasatu.com

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow