Cerita Peternak Kambing di Kampung Zakat Desa Sulek Bondowoso, Mampu Lunasi Utang dan Tebus Gadai Tanah
Saat ini peternak butuh dukungan pemerintah dalam mengolah kotoran kambing menjadi pupuk organik, sehingga nantinya bisa digunakan oleh warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani.
BONDOWOSO, SJP – Sejak diresmikan pada Januari 2022 silam, kampung zakat yang ada di Dusun Legung Desa Sulek Kecamatan Tlogosari, Kabupaten Bondowoso, ternyata mampu memberikan dampak pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan warga setempat.
Kampung zakat ini awalnya diinisiasi oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), dengan berkonsentrasi pada peternakan kambing, oleh warga setempat. Kemudian, dari tahun ke tahun terus berkembang hingga mampu mengangkat kesejahteraan warga.
Inisiasi Baznas tersebut tidak terlepas dari peran serta aktif dari Kepala Desa Sulek, KH Nurul Hidayat dan kelompok masyarakat. Mereka konsisten beternak kambing yang jumlahnya kini mencapai ratusan ekor.
Sistem dan mekanisme yang ketat, kata Kepala Desa Sulek, menjadi jurus ampuh dalam pengembangan peternakan kambing di desanya. Nurul Hidayat menjelaskan, para peternak tidak diperbolehkan menjual kambingnya, jika jumlahnya masih di bawah 25 ekor.
Hal itu ia terapkan bersama belasan peternak lainnya, agar keberlangsungan ternak kambing di Desa Sulek, terus berkembang biak dan tidak habis dijual untuk memenuhi kebutuhan ekonomi para peternak.
“Kalau sudah memiliki 25 ekor kambing, peternak bisa menjualnya. Jika belum mencapai itu, ada sanksinya. Ini kami lakukan agar jumlah ternak di kampung zakat ini tidak menurun, justru harus meningkat setiap tahunnya,” ucap Nurul Hidayat, Kamis (10/7/2025).
Dampak ekonomi dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat jelas terasa. Sejak beternak kambing, warga setempat akhirnya bisa membayar tanggungan ke bank, menebus tanah gadai, dan menyekolahkan putera-puterinya hingga jenjang perguruan tinggi.
“Peternak bisa menjual kambing setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Rata-rata penghasilan mereka mencapai kisaran Rp1,3 juta hingga Rp1,9 juta per bulan, bergantung ukuran dan kualitas kambing yang mereka jual,” ungkapnya.
Untuk populasinya, lanjut Nurul Hidayat, awalnya jumlah kambing di desanya hanya 65 ekor saja. Namun, seiring berjalannya waktu, saat ini jumlahnya mencapat 209 ekor dan jumlah peternak dengan kandang koloni di Dusun Legung saja, sudah bertambah menjadi 19 orang.
“Harapan kami ini terus bertambah dan ada dukungan dari pemerintah dalam hal kerja sama pengolahan kotoran ternak, menjadi pupuk organik. Sehingga, peningkatan perekonomian di desa kami bisa terus berkesinambungan,” harapnya.
Sementara itu, salah seorang peternak, Pak Edi (50) mengaku ekonominya sangat terbantu dengan memelihara kambing. Apalagi saat menjelang Hari Raya Iduladha atau kurban. Karena, harga kambing untuk kurban meningkat tajam.
“Tentunya sangat membantu dan menjadi tabungan kami yang setiap harinya berprofesi sebagai petani. Kami bisa menjual 5 sampai 8 ekor kambing per tahun dan hasilnya sangat kami rasakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tuturnya.
Beternak kambing, kata dia, sangat gampang dan mudah. Apalagi, di Dusun Legung banyak sekali pakan kambing yang bisa diperoleh. Mulai dari rumput dan dedaunan yang ada di perbukitan dan persawahan.
“Intinya sejak ada kampung zakat ini, kami memiliki tabungan dan penghasilan tambahan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, ada peternak yang ekonominya meningkat, hanya karena ternak kambing ini,” pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

