Ribuan Warga Wonokitri Pasuruan Gelar Nyadran, Puncaki Perayaan Hari Raya Karo di Lereng Bromo
Perayaan ini juga menjadi daya tarik wisata dan menjadi simbol penghormatan terhadap leluhur, dengan kegiatan keagamaan yang penuh khidmat di lereng Gunung Bromo.
PASURUAN, SJP - Puncak Hari Raya Karo Suku Tengger di wilayah Kecamatan Tosari dan sekitarnya melibatkan tradisi Nyadran atau Sadranan, di mana ribuan warga mengarak ancak yang berisikan hasil pertanian di wilayah tersebut, menuju pura yang ada di Desa Wonokitri untuk mengucapkan rasa syukur kepada sang pencipta.
Perayaan ini juga menjadi daya tarik wisata dan menjadi simbol penghormatan terhadap leluhur, dengan kegiatan keagamaan yang penuh khidmat di lereng Gunung Bromo.
Menurut Romo Dukun, Tomo, saat ditemui pada Selasa (26/8/2025) mengatakan, Yadnya Karo atau Hari Raya Karo merupakan hari raya kedua setelah Kasada yang diperingati setiap tanggal 15 pada bulan Karo dalam penanggalan kalender Saka.
"Perayaan Karo menjadi lambang asal mula kelahiran manusia sekaligus untuk menghormati para leluhur dan ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa," katanya.
Ia juga menyampaikan dalam Nyadran masyarakat membawa hasil bumi dan makanan seperti daging sapi, daging ayam, ikan, telur, nasi putih dan buah-buahan dibawa ke pura terlebih dahulu.
"Setelah dibawa ke pura, ancak tersebut dibawa ke jurang sari untuk memohon semua persoalan yang ada di Desa Wonokitri akan terselesaikan dengan cara adat. Dari dasar itu, semua warga Wonokitri memang patuh pada aturan adat," ujarnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

