Ribuan Burung Migran Singgah di Tulungagung–Trenggalek, Bukan Hama tapi Sahabat Petani

Pihak BKSDA menegaskan bahwa keberadaan burung migran tidak perlu dikhawatirkan oleh petani, melainkan justru perlu dilindungi dari ancaman perburuan.

26 Jan 2026 - 21:51
Ribuan Burung Migran Singgah di Tulungagung–Trenggalek, Bukan Hama tapi Sahabat Petani
Kawanan burung terik asia asal belahan bumi utara yang bermigrasi dan singgah di area persawahan Tulungagung. (Istimewa)

TULUNGAGUNG, SJP - Tulungagung dan Trenggalek menjadi salah satu wilayah persinggahan burung-burung migran dari belahan bumi utara setiap musim dingin. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum memahami fenomena ini. Tak sedikit pula yang menganggap kawanan burung tersebut sebagai hama atau parasit yang merugikan pertanian.

Padahal, fakta di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Ribuan burung migran yang singgah di area persawahan Kediri, Tulungagung, hingga Trenggalek tidak merusak tanaman padi. Burung-burung tersebut justru membantu petani dengan memangsa serangga dan cacing kecil di area sawah.

Selain terpantau singgah di Tulungagung, burung-burung ini juga terpantau singgah di kawasan Pantai Cengkrong, Trenggalek. Salah satu jenis yang paling banyak terlihat adalah burung terik Asia dengan nama latin Glareola. Burung ini memanfaatkan lumpur sawah yang kaya serangga dan cacing sebagai sumber pakan.

Polisi Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah I Kediri Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur, Ahmad David Kurnia Putra, menjelaskan kawanan burung migran tersebut biasanya berada di area persawahan sejak pagi hingga sore hari.

“Kalau untuk mengganggu spesies yang lain itu tidak, karena makanannya berupa serangga dan cacing kecil di area persawahan. Jadi tidak ada kompetisi mencari makanan dengan satwa jenis-jenis lokal,” jelas pria yang akrab disapa Om Dev ini, Senin (26/1/2026).

Menurutnya, burung migran dari Rusia dan China ini akan kembali ke habitat asal sekitar bulan Maret mendatang. Ia pun menegaskan bahwa keberadaan burung migran tidak perlu dikhawatirkan oleh petani, melainkan justru perlu dilindungi dari ancaman perburuan.

“Kami tidak khawatir dengan para petani, tapi justru khawatir kepada para pemburunya. Imbauannya, mari kita menjadi tuan rumah yang baik. Berikan ruang, sajikan makanan untuk tamu-tamu yang datang dari luar negeri. Sudah jauh-jauh datang, kita sambut dengan baik, kita nikmati, kita foto, kita dokumentasikan,” ujarnya.

Om Dev menambahkan, pengamatan dan pendokumentasian burung migran juga dapat menjadi catatan ilmiah yang bermanfaat bagi daerah. Selama dua tahun terakhir, BKSDA Kediri telah mengidentifikasi sedikitnya tujuh jenis burung migran yang singgah di Tulungagung, antara lain cerek kalung kecil, terik Asia, kicuit kerbau, burung trinil, layang-layang Asia, trinil semak, dan cerek kernyut.

Meski belum menghitung secara keseluruhan, Om Dev mengungkapkan pihaknya pernah mendata sekitar 5.000 individu burung terik Asia hanya di satu petak sawah di Desa Jatimulyo, Tulungagung.

“Itu baru satu petak sawah saja, belum sawah-sawah lainnya di sekitar Tulungagung sampai Kediri,” ungkapnya.

Sebagai agenda tahunan, BKSDA Jawa Timur juga terus melakukan monitoring burung migran serta sosialisasi kegiatan Asian Waterbird Census (AWC). Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk ikut mendata dan memantau jenis-jenis burung air dan burung migran yang singgah di kawasan Trenggalek, Tulungagung, dan Kediri.

“Kita akan ajak semuanya yang ingin bergabung untuk mendata dan memonitoring. Hasilnya nanti kita laporkan ke tingkat internasional,” tambah Om Dev.

Fenomena migrasi burung dari belahan bumi utara ke wilayah tropis Indonesia berlangsung rutin setiap tahun, mulai Oktober hingga Maret. Selama periode tersebut, lahan basah dan persawahan di Tulungagung dan Trenggalek menjadi tempat singgah penting bagi burung migran untuk mencari makan, sebelum kembali ke habitat asal atau melanjutkan perjalanan hingga Australia.

BKSDA pun mengimbau masyarakat untuk tidak menangkap burung-burung tersebut, melainkan cukup mengamati dan membiarkan mereka menjalankan siklus migrasi alaminya dengan aman. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow