Ribuan Burung Migran Singgah di Tulungagung, BBKSDA Jatim dan Mapala Himalaya Gelar Bird Walk Edukasi Generasi Muda

Dari pengamatan di lokasi, setidaknya tiga jenis burung migran berhasil diidentifikasi, yakni trinil pantai, trinil semak, dan kicuit kerbau. Burung-burung ini berasal dari belahan bumi utara seperti Cina dan Rusia yang sedang mengalami musim dingin.

13 Jan 2026 - 16:43
Ribuan Burung Migran Singgah di Tulungagung, BBKSDA Jatim dan Mapala Himalaya Gelar Bird Walk Edukasi Generasi Muda
Sekelompok pemuda di Tulungagung yang tergabung dalam Mapala Himalaya tengaj mengamati burung migran yang singgah di area persawah Desa Bungur, Kecamatan Karangrejo. (Beny/SJP)
Ribuan Burung Migran Singgah di Tulungagung, BBKSDA Jatim dan Mapala Himalaya Gelar Bird Walk Edukasi Generasi Muda

TULUNGAGUNG, SJP — Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur bersama Mapala Himalaya UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) menggelar Tulungagung Bird Walk, sebuah kegiatan pengamatan burung migran di kawasan persawahan Desa Bungur, Kecamatan Karangrejo, Selasa (13/1/2026). 

Kegiatan ini menjadi krusial mengingat Kabupaten Tulungagung merupakan salah satu koridor persinggahan penting dalam jalur migrasi burung dari belahan bumi utara menuju Australia.

Fenomena migrasi tahunan yang berlangsung dari September hingga Maret ini membawa ribuan burung dari Rusia dan Cina untuk mencari sumber pangan di wilayah tropis Indonesia guna menghindari musim dingin ekstrem di habitat asalnya.

Dalam pengamatan tersebut, tim berhasil mengidentifikasi sejumlah spesies burung migran, di antaranya Trinil Semak, Trinil Pantai, dan Kicuit Kerbau. Salah satu temuan paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir adalah melimpahnya populasi Terik Asia (Glareola maldivarum) di wilayah Tulungagung.

Petugas BBKSDA Jawa Timur, Ahmad David Kurnia, mengungkapkan bahwa konsistensi populasi burung tersebut dapat menjadi dasar kuat untuk mengusulkan Tulungagung sebagai jalur terbang migrasi resmi.

"Populasi Terik Asia di Tulungagung sangat masif. Kami pernah mencatat sekitar 5.000 individu dalam satu petak sawah. Jika tren ini stabil selama tiga tahun berturut-turut, Tulungagung berpotensi diusulkan sebagai jalur terbang migrasi Terik Asia di Pulau Jawa," jelas David di sela pengamatan.

Selain aspek penelitian, Bird Walk bertujuan menumbuhkan kesadaran kolektif dalam menjaga kelestarian habitat. Berbeda dengan burung lokal, burung migran umumnya memiliki ciri fisik khas berupa paruh yang lebih panjang untuk mencari makan di lahan basah serta warna bulu yang cenderung monokrom.

"Kami ingin memperkenalkan asyiknya mengamati perilaku satwa liar di alam terbuka. Harapannya, muncul sensitivitas untuk melestarikan ekosistem agar burung-burung ini tetap memiliki tempat singgah yang aman," tambah David.

Hingga saat ini, sedikitnya tujuh jenis burung migran tercatat rutin menyinggahi Tulungagung, termasuk Cerek Kernyut (Pluvialis fulva), Cerek Kalung-Kecil (Charadrius dubius), dan Layang-Layang Asia (Hirundo rustica).

Ketua Mapala Himalaya, Fazal Marzuki, menyatakan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini bertujuan untuk menjembatani teori dan praktik lapangan. 

Pengamatan langsung menggunakan teropong dan kamera profesional memberikan pemahaman lebih dalam mengenai dinamika ekosistem global.

"Ini adalah kesempatan langka bagi kami untuk melihat langsung spesies yang menempuh perjalanan ribuan kilometer. Pengetahuan ini penting bagi kader pecinta alam agar tidak hanya mengenal teori migrasi, tetapi juga memahami urgensi perlindungan lahan basah di daerah kita," pungkas Fazal.

Migrasi ini diperkirakan akan mencapai puncaknya hingga Maret mendatang, sebelum burung-burung tersebut kembali ke belahan bumi utara untuk memasuki musim berbiak. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow