Rawat Bocah Disabilitas dan Ekonomi Sulit, Warga di Jombang Belum Tersentuh Bansos

Kehidupan keluarga dari Dusun Cangkring, Desa Cangkringngrandu, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang ini terpuruk secara ekonomi dan belum pernah mendapatkan bantuan sosial rutin dari pemerintah.

02 Dec 2025 - 22:51
Rawat Bocah Disabilitas dan Ekonomi Sulit, Warga di Jombang Belum Tersentuh Bansos
Ismiati warga asal Jombang yang berjuang merawat anak penyandang disabilitas dalam ekonomi sulit yang tak tersentuh bantuan rutin pemerintah. (Ist/SJP)

JOMBANG, SJP – Ismiati (52) harus berjuang merawat putranya, Davit Hidayah Tullah (10), yang mengalami kelumpuhan sejak bayi. Kehidupan keluarga dari Dusun Cangkring, Desa Cangkringngrandu, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang ini terpuruk secara ekonomi dan belum pernah mendapatkan bantuan sosial rutin dari pemerintah.

Ismiati menuturkan, kondisi Davit bermula dari sakit kuning yang dideritanya selama lima hari pasca kelahiran. Berbagai upaya pengobatan, seperti fisioterapi, pijat saraf, hingga totok saraf, telah dicoba namun tidak membuahkan hasil.

"Hasilnya tidak ada, tidak ada perubahan. Sekarang dia hanya bisa berbaring di kasur, lihat TV, tapi TV-nya pun sekarang rusak," ujar Ismiati, Selasa (2/12/2025).

Kondisi semakin berat setelah suaminya yang menjadi penopang keluarga meninggal dunia sekitar 100 hari lalu. Ismiati kini tidak bisa bekerja karena harus merawat Davit full time. Kebutuhan hidup hanya mengandalkan penghasilan anaknya yang bekerja sebagai live streamer TikTok dan penjual pakaian bayi.

Bantuan pemerintah yang pernah diterima hanya bersifat insidental, yaitu BLT sebesar Rp900 ribu dan bantuan COVID-19 Rp300 ribu yang diterima tiga kali. Mereka tidak pernah mendapat bantuan rutin seperti Program Keluarga Harapan (PKH) atau sembako. Ironisnya, keluarga ini juga tidak memiliki kartu BPJS Kesehatan.

"Kalau berobat ya bayar sendiri. Sekarang saya sudah tidak membawa dia berobat lagi karena dulu berharap dia bisa berjalan, tapi tidak ada perubahan," kata Ismiati.

Harapan Ismiati sederhana. Ia ingin anaknya mendapat fasilitas pendukung seperti kursi roda untuk memudahkan aktivitas sehari-hari. Saat ini, Davit hanya bisa berbaring di kasur dan membutuhkan bantuan penuh ibunya untuk segala kebutuhan, termasuk makan, minum, dan berpindah posisi.

Pantauan di lokasi menunjukkan Davit dapat merespons pembicaraan dengan lancar, namun otot dan sarafnya tidak berfungsi baik. Kedua kaki dan tangannya terlihat kurus kering.

Kasi Kesra Desa Cangkringngrandu, Ewilda Bahtiar, membenarkan bahwa Ismiati belum menerima bansos rutin. Data desa mencatat keluarga tersebut masuk dalam desil 2, kategori ekonomi bawah.

"Desilnya sebelumnya 3, sekarang turun ke desil 2," jelas Ewilda.

Dia menerangkan bahwa proses penentuan penerima bantuan sepenuhnya ada di Kementerian Sosial dan BPS, dengan desa hanya sebagai pengusul data. Keluarga Ismiati dapat segera mengajukan diri melalui aplikasi Cek Bansos atau langsung ke desa dengan membawa Kartu Keluarga sebelum batas waktu 10 Desember.

Selain bantuan pemerintah, Ewilda menyebut LAZISNU juga biasanya memberikan bantuan rutin bagi warga berkebutuhan khusus atau hidup sebatang kara seperti keluarga Ismiati. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow