Ratusan Siswa dan Guru SMKN 3 Boyolangu Tulungagung Alami Diare, Diduga Usai Santap MBG
Gejala berupa sering buang air besar mulai dirasakan sejak Senin (19/1/2026) malam dan terus berlanjut hingga Selasa (20/1/2026) siang. Peristiwa dugaan keracunan makanan tersebut mulai terungkap pada Selasa pagi.
TULUNGAGUNG, SJP - Seratusan siswa dan guru SMK Negeri 3 Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, mengalami diare usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Gejala berupa sering buang air besar mulai dirasakan sejak Senin (19/1/2026) malam dan terus berlanjut hingga Selasa (20/1/2026) siang.
Peristiwa dugaan keracunan makanan tersebut mulai terungkap pada Selasa pagi. Banyak siswa diketahui terlambat masuk kelas bahkan tidak mengikuti pelajaran karena harus bolak-balik ke toilet. Kondisi serupa juga terjadi pada sejumlah guru dan tenaga kependidikan.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 3 Boyolangu, Yuga Hermawan, mengatakan, awalnya pihak sekolah mengira keterlambatan siswa berkaitan dengan pelanggaran kedisiplinan. Namun setelah ditelusuri, alasan para siswa terlambat masuk kelas ternyata karena sakit perut dan diare.
“Awalnya ada siswa yang dikirim ke kesiswaan karena terlambat mengikuti pelajaran. Setelah ditanya, alasannya karena bolak-balik BAB. Anak-anak kemudian bertanya ke saya, ‘Pak, ini kemungkinan karena MBG?’ karena di kelas banyak yang mengalami hal sama,” ujar Yuga.
Yuga mengaku dirinya juga mengalami gejala serupa pada tengah malam setelah mengonsumsi menu MBG pada Senin siang. Ia kemudian menyampaikan informasi tersebut ke grup WhatsApp MBG sekolah.
“Setelah saya sampaikan di grup, ternyata guru dan tenaga kependidikan yang bertugas membagikan MBG juga merasakan hal yang sama. Jadi bukan hanya siswa,” katanya.
Dari hasil pendataan sementara, terdapat 123 siswa dan beberapa guru yang mengalami diare saat berada di sekolah. Sementara itu, sekitar 70 siswa tidak masuk sekolah pada hari Selasa karena sakit.
“Per kelas itu berbeda-beda, ada yang 20 anak, ada yang 30, bahkan ada kelas yang tidak kena sama sekali. Totalnya lebih dari 100 orang, termasuk guru. Kalau diperkirakan, sekitar 80 persen siswa merasakan gejala diare,” jelasnya.
Pihak sekolah pun langsung berkoordinasi dengan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sebagai langkah antisipasi, seluruh menu MBG yang diproduksi pada Selasa ditarik dan tidak jadi dikonsumsi.
“Kita putuskan ditarik semua. Anak-anak banyak yang ke UKS minta obat dan antrian di toilet. Daripada kondisi makin parah, akhirnya MBG hari ini dihentikan sementara,” tambah Yuga.
Sementara itu, Sekretaris Satgas Percepatan MBG Tulungagung, sekaligus Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Tulungagung, Sonny Welly, mengatakan, pihaknya menerima laporan kejadian tersebut dari tim Satgas dan kepolisian. Setelah dilakukan pengecekan di lapangan bersama lintas instansi, dugaan sementara mengarah pada makanan MBG yang dikonsumsi sehari sebelumnya.
“Keluhan dirasakan setelah sekitar 12 jam mengonsumsi makanan yang dikemas pada tanggal 19 Januari. Pagi tadi kami cek, ada sekitar 70 siswa yang tidak masuk sekolah dan 123 siswa yang berada di sekolah mengalami diare dengan tingkat keluhan berbeda-beda,” ujar Sonny.
Menurutnya, Dinas Kesehatan telah mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium. Hasil pemeriksaan masih ditunggu untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.
“Kami sudah koordinasi dengan Dinkes dan BGN. Puskesmas di sekitar rumah siswa juga sudah diberi informasi untuk mengantisipasi jika ada keluhan lanjutan,” katanya.
Sonny berharap para siswa dan guru yang terdampak segera pulih. Ia juga menegaskan bahwa pengawasan terhadap program MBG akan diperketat ke depannya.
Sementara itu Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Tulungagung, Sebrina Mahardika, menyampaikan, operasional SPPG yang menyuplai MBG ke sekolah tersebut saat ini masih menunggu hasil observasi laboratorium dari Dinas Kesehatan.
“Untuk operasional SPPG, kami menunggu hasil observasi dan lab. Produksi hari ini sebenarnya berjalan, tapi setelah ada laporan langsung di-hold dan makanannya ditarik,” jelas Sebrina.
SPPG tersebut diketahui memproduksi sekitar 2.819 porsi makanan setiap hari dengan sasaran mulai dari PAUD, TK, hingga sekolah menengah. Unit ini telah beroperasi hampir dua bulan, namun perizinan laik higiene sanitasi (SLHS) masih dalam proses.
“SLHS memang belum keluar, tapi sudah diajukan. Saat ini kami fokus observasi dulu, melihat proses memasak, pengemasan, dan penerapan SOP apakah sudah sesuai atau belum,” pungkasnya.
Hingga Selasa sore, belum ada laporan siswa atau guru yang dirawat di rumah sakit. Pihak sekolah masih berkoordinasi dengan wali murid untuk memastikan kondisi para siswa yang tidak masuk sekolah akibat sakit. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

