Kunjungan Wisata Bondowoso Tinggi, PAD Masih Rendah, Agenda Pariwisata Dipangkas

Tingginya kunjungan wisata ke Bondowoso sepanjang 2025 belum sebanding dengan kontribusi PAD sektor pariwisata. Keterbatasan anggaran membuat Pemkab memangkas agenda tahunan dari 14 event menjadi tiga event utama.

20 Jan 2026 - 18:22
Kunjungan Wisata Bondowoso Tinggi, PAD Masih Rendah, Agenda Pariwisata Dipangkas
Ketua Komisi III DPRD Bondowoso, Sutriyono, saat dikonfirmasi usai Raker bersama Disparbudpora Bondowoso (Foto : Rizqi/SJP)

BONDOWOSO, SJP – Tingginya angka kunjungan wisatawan ke Kabupaten Bondowoso sepanjang tahun 2025 belum berbanding lurus dengan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata.

Kondisi tersebut menjadi sorotan dalam rapat evaluasi kinerja Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso bersama Komisi III DPRD, yang digelar di Graha Ijen, Selasa (20/1/2026).

Ketua Komisi III DPRD Bondowoso, Sutriyono, mengungkapkan, tren kunjungan wisata di Bondowoso menunjukkan peningkatan signifikan, baik wisatawan nusantara maupun mancanegara. Namun, tingginya jumlah kunjungan tersebut belum mampu mendorong capaian PAD secara optimal.

“Data kunjungan wisatawan tinggi, tapi PAD dari sektor pariwisata belum signifikan. Ini perlu evaluasi bersama, terutama terkait sistem retribusi dan bagi hasil,” ujar Sutriyono usai rapat.

Berdasarkan paparan Disparbudpora, jumlah wisatawan nusantara sepanjang 2025 mencapai sekira 637 ribu orang. Sementara wisatawan mancanegara tercatat sekira 63 ribu orang atau rata-rata 175 orang per hari.

"Angka tersebut meningkat cukup tajam dibandingkan tahun 2024," ujar Sutriyono, politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dari daerah pemilihan (Dapil) 2 di Kabupaten Bondowoso ini.

Meski demikian, PAD dari retribusi kunjungan wisata dan pemanfaatan aset daerah pada 2025 hanya terealisasi sekitar Rp400 jutaan dari target Rp600 juta.

"Rendahnya capaian tersebut disebabkan tidak semua destinasi wisata masuk dalam skema PAD daerah, serta adanya sistem bagi hasil dengan pihak pengelola, seperti Perhutani dan pengelola kawasan Taman Wisata Alam (TWA)," ungkapnya.

Sutriyono menjelaskan, sektor pariwisata tidak bisa dilihat semata dari retribusi, karena memiliki efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian daerah, seperti perhotelan, restoran, rumah makan, hingga jasa transportasi. Namun demikian, kontribusi langsung terhadap PAD tetap perlu diperkuat.

“Kita mendorong perbaikan layanan dan tata kelola, supaya kunjungan yang tinggi ini juga bisa berdampak langsung pada peningkatan PAD,” tegasnya.

Kondisi fiskal daerah yang terbatas pada 2025 hingga 2026 juga berdampak pada program pariwisata. Dari 14 agenda event tahunan yang biasa digelar, Pemkab Bondowoso hanya mampu menganggarkan tiga agenda utama pada tahun ini. Sementara 11 agenda lainnya harus dipangkas dan diupayakan melalui skema kolaborasi dengan pihak swasta dan pelaku usaha.

“Tiga event yang dianggarkan tahun ini yakni Bondowoso Night Run, Hari Jadi Bondowoso (Harjabo), dan kegiatan Festival Ramadan. Sisanya kita dorong lewat kerja sama dengan pelaku wisata dan sponsor,” jelas Sutriyono. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow