Program 1-10-100 di Lamongan Efektif Turunkan Prevalensi Stunting Jadi 6,9 Persen

Pemerintah Kabupaten Lamongan bersama TP PKK meluncurkan program inovatif 1-10-100 untuk percepatan penurunan stunting, yang mendapat apresiasi dari Tim Penilaian Kinerja Provinsi Jawa Timur. Program ini memberikan bantuan senilai Rp 5 juta dari satu orang tua asuh kepada 10 balita selama 100 hari.

11 Jun 2025 - 22:43
Program 1-10-100 di Lamongan Efektif Turunkan Prevalensi Stunting Jadi 6,9 Persen
Wakil Bupati Lamongan, Dirham Akbar saat pertemuan daring melalui Zoom di Command Center Kabupaten Lamongan ( Foto ; Dok/SJP)

LAMONGAN, SJP – Inovasi program 1-10-100 yang digagas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan bersama Tim Penggerak PKK Kabupaten Lamongan mendapatkan apresiasi dari Tim Penilaian Kinerja Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Jawa Timur.

Apresiasi tersebut disampaikan saat pertemuan daring melalui Zoom di Command Center Kabupaten Lamongan, Rabu (11/6/2025).

Program 1-10-100 merupakan skema bantuan orang tua asuh kepada balita stunting maupun berisiko stunting, berupa bantuan paket makanan bergizi senilai Rp 5 juta dari satu orang tua asuh, yang diberikan kepada 10 balita selama 100 hari.

Wakil Bupati Lamongan, Dirham Akbar Aksara, menjelaskan, program ini berhasil menjangkau 2.640 balita pada tahun 2024, mencakup 96,58 persen dari total balita stunting dan berisiko stunting yang tercatat sebanyak 2.557 balita.

“Pada 2024, 71 orang tua asuh menjangkau 96 persen balita stunting maupun berisiko stunting, sehingga total jangkauan mencapai 2.450 balita. Program ini bahkan sudah diadopsi pemerintah pusat melalui program Genting atau Gerakan Orang Tua Asuh Menurunkan Stunting,” ujar Dirham.

Dana bantuan tersebut bersumber dari berbagai pihak melalui Corporate Social Responsibility (CSR), komunitas, organisasi, hingga donasi perorangan, yang pada 2024 berhasil menghimpun lebih dari Rp870 juta.

Dampak signifikan dari program ini terlihat pada angka prevalensi stunting di Lamongan yang terus menurun. Berdasarkan data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), angka stunting di Lamongan tercatat sebesar 27,50 persen pada 2022. Angka tersebut kemudian turun drastis menjadi 9,40 persen di 2023 dan menyentuh 6,9 persen pada 2024.

Untuk menjaga efektivitas program, Pemkab Lamongan menggandeng akademisi dari Universitas Islam Lamongan (Unisla) sebagai pendamping. Sementara perkembangan balita dipantau dan dilaporkan secara berkala setiap dua minggu kepada orang tua asuh.

“Dari hasil pemantauan, 75 persen anak dinyatakan lulus dari garis stunting. Sementara 25 persen lainnya tidak lulus karena memiliki penyakit bawaan. Artinya, jika tanpa faktor penyakit bawaan, seluruh anak bisa dikatakan lulus stunting,” kata Dirham.

Keberhasilan Lamongan dalam menurunkan angka stunting ini mengundang perhatian dan apresiasi dari panelis penilaian Provinsi Jawa Timur.

“Terima kasih atas sumbangsih Kabupaten Lamongan dalam upaya menurunkan angka stunting di Jawa Timur,” ujar salah satu perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

Ketertarikan terhadap program ini juga datang dari berbagai pihak, termasuk Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Jawa Timur, Universitas Airlangga, organisasi Muhammadiyah, serta TP PKK Jawa Timur.

“Kami sangat tertarik dengan inovasi program 1-10-100 ini. Ke depannya, kami ingin mempelajari lebih dalam dan mungkin mengadopsinya di daerah lain,” ujar salah seorang panelis. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow