Pesona Kali Mas Tulungagung: Surga Tersembunyi yang Menanti Sentuhan Kembali
Tempat yang sejuk nan indah yang dulu ramai ini kini seakan mati suri. Kali Mas menunggu sentuhan tangan-tangan kreatif untuk berkembang menyambut kedatangan wisatawan.
TULUNGAGUNG, SJP — Di sebuah sudut sunyi Kabupaten Tulungagung, tepatnya di Desa Sebalor, Kecamatan Bandung, mengalir tenang sebuah sungai yang dulu menjadi tempat pelarian sejenak dari hiruk pikuk kehidupan. Namanya Kali Mas. Jernih airnya, sejuk udaranya, dan rindangnya pepohonan di sekitarnya menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah riuhnya perkotaan.
Pagi di Kali Mas terasa istimewa. Udara masih segar, dedaunan kebun kelapa bergoyang pelan disapu angin, dan suara air yang mengalir dari perbukitan menghadirkan irama alam yang menenangkan jiwa. Aliran sungai ini berasal dari Sumber Gondang, mata air alami yang terletak sekitar 600 meter di atas bukit. Airnya tidak hanya jernih, tetapi juga terasa dingin menyegarkan.
Jalan menuju Kali Mas memang sedikit menantang. Dari pusat Kota Tulungagung, butuh waktu sekitar 25 menit perjalanan. Setelah melewati jalan desa yang mulus hingga kantor kepala desa Sebalor, pengunjung cukup mengikuti jalan kecil ke arah barat dengan kontur aspal yang kemudian berubah menjadi rabat beton. Meskipun terdapat sedikit tanjakan, jalurnya cukup bersahabat bagi kendaraan roda dua maupun roda empat. Rasa lelah itu akan segera terlupakan saat suara gemericik air mulai terdengar dari kejauhan.
Bentuk aliran air di Kali Mas cukup unik. Di beberapa sisi, alirannya membentuk kemiringan layaknya air terjun yang landai. Batuan kapur berwarna kuning keemasan yang menjadi jalurnya tidak licin, tetapi justru memberikan pijakan yang cukup stabil. Aktivitas menyusuri tebing bebatuan sembari merasakan aliran air yang menyapu kaki menjadi pengalaman sederhana yang menyenangkan.
Tidak hanya sebagai tempat wisata, sungai ini juga menjadi sumber kehidupan. Warga memanfaatkan airnya untuk kebutuhan rumah tangga dan irigasi sawah. Menariknya, meskipun musim kemarau datang, aliran air tetap mengalir, membuat sawah-sawah di Desa Sebalor bisa panen padi hingga tiga kali dalam setahun. Ini menunjukkan betapa vitalnya peran Kali Mas bagi pertanian lokal.
Menurut Sri Utami (60), warga setempat yang turut menyaksikan perkembangan Kali Mas sejak awal, tempat ini sempat populer pada sekitar tahun 2016 hingga 2019. Kala itu, wisatawan dari berbagai daerah berdatangan, bahkan dikelola secara swadaya oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
"Dulu ramai sekali, bahkan dari luar kota juga banyak yang datang. Selain Kali Mas, mereka juga mampir ke Sungai Watu Gedong yang punya air terjun. Tapi sekarang aliran air di sana kecil. Kalau Kali Mas ini, meski kemarau tetap mengalir," tutur Sri Utami, Senin (28/7/2025).
Sri juga menyampaikan bahwa pengembangan Kali Mas sempat memanfaatkan sebagian lahannya. Enam pohon kelapa miliknya ditebang saat pelebaran area sungai dan pembangunan kolam untuk kebutuhan wisata. Dia sendiri tak menuntut imbalan, melainkan merasa cukup senang bisa ikut berdagang di lokasi wisata tersebut.
Sayangnya, pesona Kali Mas perlahan meredup seiring pandemi Covid-19 tahun 2020 yang memaksa tempat-tempat wisata ditutup sementara. Sejak saat itu, geliat wisata di sana tak pernah kembali seperti dulu. Kini, pengunjung yang datang hanya anak-anak dan warga lokal dari sekitar Kecamatan Bandung dan Pakel.
"Harapannya ya semoga bisa ramai lagi seperti dulu. Sayang kalau tempat seindah ini dibiarkan begitu saja," harap Sri.
Dengan potensi keindahan alam dan ketersediaan sumber daya air yang berkelanjutan, Kali Mas memiliki peluang besar untuk kembali hidup sebagai destinasi wisata unggulan. Tinggal menunggu perhatian lebih dari pihak terkait dan partisipasi warga agar tempat ini kembali menjadi kebanggaan desa serta menarik lebih banyak pengunjung. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

