Perkuat Hubungan Indonesia–Australia lewat Sinema selama Satu Dekade, FSAI 2025 Kembali Hadir dengan Ragam Film Pilihan

Festival Sinema Australia Indonesia kembali hadir di tahun 2025 sebagai ruang pertemuan budaya dua negara melalui film dan diskusi lintas kota.

15 Jun 2025 - 19:01
Perkuat Hubungan Indonesia–Australia lewat Sinema selama Satu Dekade, FSAI 2025 Kembali Hadir dengan Ragam Film Pilihan
Sanchi Davis, melakukan selfie bersama peserta dan tamu undangan sebelum pemutaran film Festival Sinema Australia Indonesia di Ciputra World XXI Surabaya (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP—Film telah lama menjadi sarana komunikasi lintas budaya. Tanpa harus memahami bahasa secara langsung, penonton dari berbagai negara bisa merasakan nilai, cerita, dan sudut pandang yang ditampilkan lewat layar. 

Di berbagai belahan dunia, festival film pun kerap dimanfaatkan sebagai cara untuk membangun pemahaman atau bahkan kerja sama antarbangsa.

Itulah semangat yang diusung dalam Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI), yang tahun 2025 memasuki penyelenggaraan ke-10. Sejak pertama kali digelar, FSAI terus menjadi ruang bersama bagi warga Australia dan Indonesia untuk berbagi cerita, pengalaman, dan gagasan melalui medium film.

FSAI 2025 digelar sejak 16 Mei lalu di 10 kota di Indonesia. Meliputi Jakarta, Yogyakarta, Mataram, Padang, Bandung, Manado, Semarang, Denpasar, Surabaya, dan Makassar.

Di setiap kota, FSAI menghadirkan film-film pilihan dari Australia dan Indonesia serta sejumlah kegiatan interaktif yang melibatkan komunitas lokal dan alumni.

Festival di Kota Pahlawan

Sebagai bagian dari rangkaian FSAI 2025, Konsulat-Jenderal Australia di Surabaya mengadakan pemutaran film di Ciputra World XXI Surabaya.

Acara tersebut dihadiri oleh alumni pendidikan Australia (OzAlum), penggemar film, serta perwakilan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur dan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.

Kota Pahlawan sendiri mendapat jatah 2 film yang cukup menarik. Yang pertama yaitu "A Must-See Movie Before You Die," sebuah film pendek karya Asmi Nurais, alumni Australia Awards Short Course.

Film tersebut sebelumnya telah mendapat penghargaan sebagai salah satu film pendek terbaik di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2024.

Film kedua yaitu "The Dry", film asal Australia bergenre kriminal yang telah memenangkan AACTA Awards 2021 untuk kategori Sinematografi Terbaik dan Skenario Adaptasi Terbaik.

Jadi Titik Temu Penggiat Sinema

FSAI tidak hanya berfungsi sebagai festival film, tetapi juga menjadi ajang temu bagi komunitas dan OzAlum. Di Surabaya, acara pemutaran film menjadi ruang untuk berbagi pengalaman dan memperkuat jejaring kerja sama antara individu dari kedua negara.

Sanchi Davis, Penjabat Konsul-Jenderal Australia di Surabaya, menyampaikan bahwa FSAI bukan hanya soal film, tetapi juga tentang pertukaran gagasan dan membangun hubungan.

"Acara seperti FSAI berfungsi sebagai platform yang dinamis untuk pertukaran budaya dan bercerita, yang bisa mendekatkan warga Australia dan Indonesia melalui pengalaman dan perspektif bersama," ucap Davis.

Dia juga menyoroti peran alumni dalam memperkuat hubungan antar masyarakat kedua negara. Bagi Sanchi, pertemuan para alumni dan para penggiat sinema membuka peluang untuk saling berkolaborasi.

"Terutama para alumni, mereka punya peran penting dalam memperkuat hubungan antarmasyarakat dan membentuk masa depan hubungan Australia–Indonesia," tambahnya.

Kelas Master Film Bersama Pakar

Sebagai informasi, FSAI di Surabaya juga dilengkapi dengan kelas master bersama Kerreen Ely-Harper, pakar film dari Curtin University Australia. 

Dalam kelas yang ia isi, Harper membahas topik-topik seperti membangun kapasitas kreatif, meningkatkan ketahanan dalam industri film, serta strategi memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan pesan tentang keragaman dan inklusi.

"Dengan kegiatan FSAI, saya harap penonton Indonesia bisa menonton film Australia dan mendapatkan pandangan baru tentang Australia agar kita bisa lebih mengerti dan memahami satu sama lain," ucal Harper.

Saat ditemui, Harper menjelaskan bahwa dalam kelas yang ia isi, dirinya mengajak para penggiat sinema, khususnya anak muda untuk mulai mengeksplorasi berbagai pendekatan dengan memanfaatkan sosial media.

Dengan tema pertukaran budaya melalui film, FSAI tahun 2025 kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu jembatan kerja sama sosial dan budaya antara Australia dan Indonesia. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow