Semarak HUT ke-80 RI, Mak-mak Usia 40+ Adu Tumpeng di Tengah Mall
Mak-mak usia 40+ di Wonokromo unjuk gaya di catwalk busana daerah, lalu kembali sibuk menghias tumpeng, membawa semangat kemerdekaan jelang HUT ke-80 Republik Indonesia.
SURABAYA, SJP — Lomba 17 Agustus biasanya identik dengan anak-anak yang adu cepat di lomba balap karung, atau beberapa remaja berebut kursi saat irama musik tiba-tiba berhenti. Tapi di Kelurahan Wonokromo, para emak-emak justru mengambil alih panggung lomba jelang perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia.
Berlokasi di Royal Plaza Surabaya, sebuah ajang perlombaan seperti menghias tumpeng hingga fashion show diikuti oleh peserta yang biasanya hanya menonton di pinggir area perlombaan, mereka adalah emak-emak usia 40 tahun ke atas.
Hasil Kolaborasi Royal Plaza dengan Kelurahan Wonokromo
Pesta Rakyat Semarak Kemerdekaan, begitu namanya, adalah acara hasil kolaborasi Royal Plaza Surabaya dengan Kelurahan Wonokromo, yang menjadi lokasi mall tersebut berdiri. Lurah Wonokromo, Prima Sri Poerwiendati mengatakan bahwa acara tersebut adalah upaya pihak Royal Plaza merangkul warganya.
"Jadi pihak Royal Plaza mengajak ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) untuk mengadakan acara seperti lomba, dan Royal memberikan support untuk hadiah lombanya," jelas Lurah Wonokromo, Prima Sri Poerwiendati, Kamis (14/8/2025).
"Tahun ini ada dua jenis lomba, yakni lomba tumpeng yang merupakan ide dari pihak Royal Plaza dan lomba Fashion Show, ide dari Kelurahan," imbuhnya.
Prima mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat sekitar sangatlah tinggi, dari tahun 2024 lalu yang hanya melibatkan PKK RW 1-8 Kelurahan Wonokromo, kini acara tersebut juga menggandeng Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) dan karang taruna Wonokromo.
"Kalau yang lomba tumpeng itu ada 10 meja, meliputi 8 RW, IPSM sama Karang Taruna, sedangkan lomba fashion show ada 9 peserta," sebut Prima.
"Kegiatan lainnya juga ada penampilan tari dari karang taruna binaan dan sosialisasi dari Komnas PA Surabaya," sambungnya.
Kolaborasi Royal dan Kelurahan sendiri bukan hubungan dadakan. Prima menegaskan, setiap kali kelurahan punya agenda mulai dari pengajian hingga rapat, pihak Royal Plaza Surabaya selalu menyediakan tempat secara gratis.
"Kerja sama memang sudah lama. Royal selalu mendukung beberapa kegiatan kita," ujarnya.
Tumpeng Bertema Indonesia dan Catwalk Emak-Emak
Untuk lomba menghias tumpeng, para peserta diberikan waktu 30 menit untuk menghias nasi kuning yang sudah mereka bawa dari rumah dengan ornamen khas kemerdekaan, seperti bendera atau bunga disamping perkedel dan mie yang juga ikut memberikan warna.
Sementara dalam lomba fashion show, busana daerah yang dikenakan oleh emak-emak yang jadi peserta juga berhasil mencuri perhatian. Ketua Tim Penggerak PKK Wonokromo, Santi Muliasari, mengatakan bahwa acara tersebut jadi ajang belajar sekaligus hiburan.
"Daripada kita ikut lomba di tingkat kota, kita belajar dulu di tingkat kelurahan. Menariknya, biasanya lomba 17-an itu kan anak-anak sampai remaja, nah ini yang ikut malah emak-emak. Banyak yang pingin ikut, satu ikut, jadi ikut semua akhirnya,” ungkapnya.
Santi menambahkan, emak-emak melakukan catwalk tudak dengan busana bebas, melainkan mengenakan busana dengan tema baju daerah untuk menguatkan nuansa pesta rakyat.
Di tengah deretan ibu-ibu berbusana daerah, satu peserta dari Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) sukses mencuri perhatian. Bukannya mengirim emak-emak seperti aturan lomba, mereka justru mengutus seorang bapak yang berdandan layaknya wanita, lengkap dengan kostum adat Nusa Tenggara Timur.
Aturannya memang membuat ia tak bisa menang, tapi sorak-sorai penonton membuktikan hiburan itu lebih berharga daripada trofi.
"Mama Juga Butuh Bahagia"
Camat Wonokromo, Maria Agustin, memandang acara itu sebagai bukti eksistensi PKK yang konsisten mendukung program pemerintah di semua tingkatan.
"PKK adalah salah satu pilar kemasyarakatan kita. Mereka menangani masalah wanita dan anak-anak, dan lewat acara ini membuktikan peranannya," katanya.
Baginya, ada sisi emosional yang tak kalah penting dalam perayaan kemerdekaan, meski jarang disorot, menurut Maria, emak-emak yang biasanya hanya menonton perlombaan 17 Agustus, pasti juga ingin berpartisipasi.
"Mama juga butuh bahagia. Kadangkala wajib memberikan kesempatan buat mami-mami dan emak-emak ini mencurahkan potensi mereka melalui event-event yang membuat mereka bahagia dan lupa sesaat," ujarnya.
Dengan aroma tumpeng yang memenuhi udara dan lenggak-lenggok busana daerah di tengah riuhnya mall, Royal Plaza dan Kelurahan Wonokromo berhasil memindahkan energi lomba kampung ke ruang publik modern tanpa kehilangan rasa kebersamaan.
Di sini, kemerdekaan dirayakan bukan hanya dengan seremoni, tapi juga dengan memberi panggung untuk mereka yang biasanya hanya duduk di pinggir, menyemangati dari kejauhan. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

