Pemkot Batu Catat Penurunan Stunting, Wawali Minta Penguatan Pendampingan Karena Angka Masih Fluktuatif
Pemkot Batu optimistis, dengan penguatan pendampingan dan komitmen bersama, angka stunting dapat ditekan lebih cepat sehingga semakin banyak anak di Kota Batu yang berhasil keluar dari risiko gangguan pertumbuhan
KOTA BATU, SJP – Upaya Pemerintah Kota Batu menekan stunting mulai membuahkan hasil. Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), jumlah balita stunting pada akhir 2024 yang mencapai 1.270 anak berhasil turun menjadi 1.095 anak pada 2025. Artinya, sebanyak 175 balita dinyatakan keluar dari status stunting. Prevalensinya pun ikut bergeser dari 11,8 persen menjadi 10,49 persen.
Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto pada Minggu (23/11/2025) menegaskan bahwa meskipun angka tren positif menurun, ia menilai capaian itu belum sepenuhnya stabil.
"Grafik kasus stunting sepanjang tahun cukup fluktuatif. Pada Februari lalu jumlah anak stunting bahkan sempat naik menjadi 1.120 anak. Kami meminta Dinas Kesehatan memperkuat pendampingan di lapangan dan memperluas intervensi agar penurunan angka stunting dapat berlangsung lebih konsisten," urainya
Tak hanya itu saja, ia juga menegaskan percepatan penanganan tidak bisa hanya mengandalkan tenaga kesehatan, tetapi harus menjadi kerja bersama antara pemerintah, nakes, dan keluarga.
Dinas Kesehatan Kota Batu mencatat, sebagian besar kasus stunting berakar dari kondisi gizi ibu hamil, terutama kekurangan energi kronis (KEK) dan rendahnya asupan zat besi.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko kelahiran bayi berat badan lahir rendah (BBLR). Faktor pola asuh, perilaku makan picky eater, riwayat infeksi berulang, hingga suhu dingin Kota Batu yang membuat bayi lebih mudah sakit, turut memperparah situasi.
Di lapangan, Dinkes menerapkan strategi jemput bola untuk mengejar balita yang jarang hadir di Posyandu. Pendampingan intensif juga diberikan melalui Program Pos Gizi Penanganan Stunting (Pozting) yang menyasar bayi di bawah dua tahun.
"Program ini mencakup pemeriksaan darah, inisiasi menyusu dini, PMBA, edukasi PHBS, hingga pemantauan mingguan berat dan tinggi badan selama sekitar 10 minggu," imbuhnya.
Heli menyebut, peran orang tua menjadi instrumen penting dalam menekan angka stunting. Kepatuhan kontrol kesehatan, pemberian MP-ASI bergizi, dan menjaga kebersihan lingkungan rumah menjadi faktor yang tidak bisa ditawar.
“Kami optimistis angka stunting bisa turun lebih cepat. Setiap anak yang lulus stunting berarti satu pintu masa depan yang kembali terbuka,” tandasnya. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

