Pelatihan Kerja di Kabupaten Blitar melalui DBHCHT 2025, Serapan Anggaran Sudah Capai 35 Persen
Program pelatihan kerja melalui anggaran dana bagi hasil cukai dan hasil tembakau (DBHCHT) tahun 2025 di Kabupaten Blitar masih berlangsung. Hingga Juli 2025, serapan anggaran alokasi DBHCHT untuk pelaksanaan pelatihan kerja sudah mencapai 35 persen.
BLITAR, SJP - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar berkomitmen untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Salah satu upaya yang dilakukan adalah melaksanakan pelatihan kerja berbasis kompetensi yang digelar oleh Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Blitar, yang anggaranya bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau (DBHCHT) tahun 2025.
Kepala Bidang Pelatihan Kerja, Produktivitas Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Disnaker Kabupaten Blitar, Latip Usman mengatakan, alokasi DBHCHT di Dinas Tenaga Kerja pada tahun 2025 ini mencapai Rp1,5 miliar.
Hingga Juli 2025, ia mencatat serapan anggaran sudah mencapai 35 persen dan serapan fisik kegiatannya mencapai 45 persen.
"Kami mencatat sampai bulan Juli ini, serapan keuangan pada alokasi DBHCHT tahun 2025 sudah mencapai 35 persen. Kalau untuk serapan fisik kegiatan sudah mencapai 45 persen," kata Latip, Senin (4/8/2025).
Dijelaskan Latip, alokasi DBHCHT tahun 2025 di Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Blitar dimanfaatkan untuk sembilan jenis program pelatihan kerja berbasis kompetensi.
Sampai saat ini, sudah ada empat jenis pelatihan kerja berbasis kompetensi yang sudah dilaksanakan. Meliputi, barista, digital marketing, make up artist (MUA), dan teknisi elektronika. Sementara itu, ada satu jenis pelatihan kerja yang masih berlangsung yakni barbershop atau hair styling cutting.
"Pelatihan kerja yang masih berlangsung adalah barbershop. Kegiatan pelatihan yang kami gelar itu tidak bisa digantikan oleh AI," jelasnya.
Lebih lanjut Latip menambahkan, program pelatihan kerja yang dibiayai melalui DBHCHT tahun 2025 bertujuan untuk meningkatkan meningkatkan keterampilan dan kompetensi masyarakat, khususnya mereka yang berasal dari keluarga petani tembakau, buruh pabrik rokok, atau masyarakat miskin, agar dapat meningkatkan taraf hidup mereka melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Kemudian, mendukung pemberdayaan ekonomi yang bisa membantu masyarakat, terutama perempuan, untuk meningkatkan ekonomi keluarga dan kesejahteraan mereka. Lalu, mengurangi pengangguran dengan cara memberikan keterampilan yang relevan. Serta, kegiatan pelatihan ini disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja dan potensi lokal.
Kegiatan ini diharapkan bisa meningkatkan kompetensi para pencari kerja yang kemudian bisa bersaing di dunia kerja hingga bisa membuka lapangan kerja baru. (***)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

