Pameran Perdana Lintang Lima: Menguak Kembali Arti Roso lewat Kanvas
Lima perupa Jawa membuka tabir roso, rasa paling dalam yang tak terucap melalui lukisan, menjelma kritik lembut dan kejujuran batin dalam pameran perdana mereka: Rasa Rasaning Karsa.
SURABAYA, SJP - Di dalam budaya Jawa, ada tingkatan rasa yang lebih dalam dari sekadar emosi permukaan. Rasa dalam bahasa Indonesia adalah emosi, seperti senang, sedih, marah, atau rindu. Tapi rasa atau "roso", dalam pemahaman Jawa bukan sekadar perasaan biasa, ia adalah bagian terdalam dari manusia dalam menangkap "karsa", yakni kehendak, niat, dan tekad.
Rasa seperti itulah yang disebut roso, sebuah kearifan Jawa yang hanya bisa dimengerti jika dilakoni (dilakukan).
Berangkat dari pemahaman itulah, lima perupa, dalam kelompok bernama Lintang Lima, mencoba mengartikulasikan roso itu lewat pameran perdana mereka di Galeri Merah Putih, Surabaya, bertajuk “Rasa Rasaning Karsa.”
"Kadang dalam hidup kita nggak bisa mengungkapkan rasa itu secara langsung. Tapi lewat lukisan, semua bisa keluar. Kita bisa bilang, 'Oh, aku maunya begini'," ucap Evrie Irmasari, Ketua Panitia Pameran, saat ditemui dalam pameran, Minggu (29/6/2025).
Filosofi Jawa yang Lahir dalam Lukisan
“Rasa Rasaning Karsa” adalah ungkapan Jawa yang penuh muatan filosofis. Dalam narasi budaya Jawa, "rasa" adalah perasaan terdalam, "rasaning" adalah getaran dari rasa itu, dan "karsa" adalah kehendak atau dorongan untuk bertindak.
Maka, tajuk “Rasa Rasaning Karsa” yang coba diangkat oleh Lintang Lima adalah kehendak yang digerakkan oleh rasa terdalam dari para anggotanya. Menurut Evrie, setiap orang berhak dan bebas mengekspresikan rasa dengan cara mereka, seperti para seniman dengan karyanya.
Kelompok Lintang Lima bukan sekadar kumpulan perupa. Mereka adalah sahabat lama yang sudah seperti saudara. Sebagian besar dari mereka berasal dari Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta angkatan 1982.
Nama “Lintang Lima” sendiri berasal dari bahasa Jawa, berarti “Lima Bintang.” Tapi jangan bayangkan ini sebagai lambang keangkuhan. Evrie menjelaskan bahwa justru makna dari nama itu malah sebaliknya.
"Kita bukan ingin jadi bintang yang paling terang, tapi bagian dari langit seni rupa yang luas, karena itu kita menghindari menggunakan kata bintang," ucap Evrie.
Anggota Lintang Lima terdiri dari: Evrie Irmasari (Yogyakarta), Yosi Chatam (Semarang), Eddy Subroto (Madiun), Yanz Haryo Darmista (Yogyakarta) dan Tara Noesantara (Andaru Ratnasari) (Surabaya)
Awalnya, kelompok itu didorong oleh almarhum Budianto, teman sekolah mereka yang akrab disapa Mas Bagong. Bagong memiliki visi besar, menyatukan kembali teman-teman lamanya dalam satu pameran.
Namun, sebelum mimpi itu terlaksana, Bagong meninggal pada Januari 2025, dan kini amanatnya menjadi semangat dari pameran kali ini.
"Bagong itu bukan cuma kasih ide. Dia udah seperti ninggalin semacam ‘garis besar’ yang kita jalani sekarang," kenang Evrie.
Roso yang Terpancar dari Karya
Dalam pameran tersebut, Evrie Irmasari sendiri menampilkan lima karya bertema kerbau. Kerbau, baginya, adalah simbol yang sering disalahpahami. Di budaya Jawa, kerbau kerap diasosiasikan dengan kemalasan. Namun bagi Evrie, kerbau justru pekerja keras dan itu yang ingin ia ubah lewat lukisan.
"Aku ingin menghilangkan stigma itu. Dan dalam karya saya ini, hewan kerbau aku poles dengan nilai-nilai lain," katanya.
Salah satu karyanya yang mencolok, Kebo Bule Mati Setra, menyindir kaum intelektual yang tidak menggunakan kepandaiannya untuk masyarakat. Dalam lukisan itu, sosok kerbau digambarkan secara simbolik dengan sosok samar di belakangnya, sebuah kritik lembut ala sanepa (sindiran halus) Jawa.
Adapun Yosi Chatam, pelukis asal Semarang, menampilkan lima karya simbolik yang membidik isu sosial-politik dengan gaya metafora Jawa. Dalam Tikus Phiti Anoto Baris, ia meminjam ramalan Jayabaya untuk menggambarkan realitas yang absurd namun nyata—tentang birokrasi, korupsi, dan harapan.
Karya-karya Yosi seperti Ngumbah Pepeteng atau Nyolong Rasa berbicara tentang konflik batin dan moralitas. Ia menekankan bahwa roso Jawa bukan sekadar estetika budaya, tapi jalan untuk menyampaikan kritik yang membungkus ketegasan dalam kelembutan.
Kemudian ada juga Eddy Subroto datang dari latar seni pertunjukan dan sinema. Karyanya lebih realis dan langsung, namun tetap sarat makna. Ia menampilkan enam karya, termasuk Soekarno & Rajawali, Satriyoning Reyog Prabu Klono Sewandono, dan Ngunduh Wohing Pakarti, lukisan yang mengingatkan bahwa setiap tindakan akan berbuah, entah baik atau buruk.
Tara Noesantara adalah penyair, dosen sastra, dan penari. Ia membawa nuansa feminin yang introspektif dalam karya-karyanya, diantaranya lukisan Ajining Diri Saka Lathi, Mulat Sarira Hangrasa Wani, Lintang ing Loka, dan Satemahing Lelaku.
Terakhir yakni Yanz Haryo, mantan jurnalis dan dramawan. Karyanya seperti Sedulur Papat Lima Pancer dan Sukma Sejati membahas spiritualitas Jawa yang kini mulai dilupakan. Ia mengingatkan bahwa manusia tidak pernah sendirian, karena dalam budaya Jawa, ada empat saudara gaib yang lahir bersamaan dengan manusia.
Lebih dari Momen Reuni
“Rasa Rasaning Karsa” bukan sekadar pameran seni, bukan juga sekadar momen reuni bagi Lintang Lima. Paneran yang digelar sejak Sabtu (29/6/2025) hingga 3 Juli 2025 itu juga menjadi bentuk penghormatan pada filosofi Jawa yang mungkin sudah banyak yang lupa.
"Ini bukan hanya soal kami berlima. Tapi tentang bagaimana kita semua bisa menangkap kembali rasa yang mungkin hilang selama ini," tutup Evrie. (*)
Editor : Danu S
What's Your Reaction?

