Dokter RSJ Ungkap Efek Judi Online: Dari Retak Rumah Tangga sampai Halusinasi Suara Top-Up
Anak 14 tahun dirawat di RSJ usai dengar suara menyuruh top-up judi online, dokter ungkap ledakan kasus serupa, dari halusinasi sampai rumah tangga hancur.
SURABAYA, SJP - Seorang ibu tampak cemas saat mengantar anaknya ke Rumah Sakit Jiwa Menur, Surabaya. Anak laki-lakinya, baru 14 tahun, mengaku sering mendengar suara yang menyuruhnya bermain dan melakukan top-up di aplikasi judi online.
"Kami menemukan ada pasien remaja yang mengalami halusinasi suara. Ia mendengar suara menyuruh top-up setiap malam," ucap dr. Lila Nurmayanti, dokter spesialis kejiwaan di RSJ Menur Surabaya, saat ditemui pada Minggu (29/6/2025).
Kasus itu bukan satu-satunya. Sepanjang semester awal 2025, RSJ Menur telah menangani puluhan pasien yang mengalami gangguan mental akibat kecanduan judi online. Mirisnya, usia para pasien semakin muda dan gejalanya semakin kompleks.
Dokter Lila menjelaskan bahwa kecanduan judi online memiliki efek kerusakan otak yang tidak kalah parah dibanding narkoba atau alkohol. Bedanya, kemasannya jauh lebih "ramah" karena hanya perlu ponsel dan internet.
"Pasien bisa begadang semalaman demi bermain. Mereka kehilangan waktu tidur, lupa makan, dan mengalami gangguan fungsi otak serta mata," jelasnya.
Gejala awal yang muncul antara lain susah tidur, cemas berlebihan, dan mudah marah. Namun jika dibiarkan, pasien bisa mengalami delusi, halusinasi, bahkan depresi berat.
Dampak: Rumah Tangga Retak, Anak Terlantar
Dampaknya tidak hanya menyerang individu, tetapi juga lingkungan terdekat mereka. RSJ mencatat bahwa tidak sedikit pasien yang datang setelah hubungan dalam keluarga benar-benar retak. Banyak istri yang mengaku ditinggal suaminya berjudi hingga berutang, sementara anak-anak kehilangan pengasuhan.
"Ada ibu rumah tangga yang datang ke kami sambil menangis. Suaminya jual motor, pinjam online berkali-kali, semua demi judi," cerita dr. Lila.
Bahkan anak-anak yang sedari kecil terbiasa memegang HP tanpa batas kini juga menjadi korban. Mereka secara tidak sadar terpapar iklan dan link judi, lalu terjebak dalam lingkaran adiksi tanpa sempat disadari orang tua.
Penanganan terhadap kecanduan judol tak bisa instan. Pasien yang dirawat di RSJ Menur harus menjalani rawat inap minimal dua minggu tanpa akses gawai sama sekali. Mereka akan menjalani detoks digital dan terapi psikososial.
"Selama perawatan, pasien tidak diperkenankan menyentuh gadget. Ini bagian penting dari proses pemulihan," ujar dr. Lila.
Setelah kondisi mental lebih stabil, pasien akan didampingi untuk menjalani terapi lanjutan, termasuk konseling keluarga. Namun, proses ini hanya efektif jika ada dukungan penuh dari keluarga dan lingkungan sosial.
Stigma terhadap rumah sakit jiwa masih menjadi hambatan besar bagi keluarga yang ingin mencari bantuan. Banyak yang menganggap RSJ hanya untuk "orang gila", padahal menurut dr. Lila, RSJ justru menjadi garda depan penyembuhan gangguan perilaku seperti adiksi judi online.
"Kami ingin masyarakat tahu, mereka yang kecanduan bukan orang jahat. Mereka orang yang butuh dibantu," tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap paparan judi online, terutama di kalangan anak-anak. Edukasi digital dan pembatasan akses gawai jadi hal penting yang tak bisa ditunda.
Kecanduan judi online bukan sekadar kebiasaan buruk, tapi kondisi medis yang bisa memburuk jika diabaikan. Jika Anda atau orang terdekat menunjukkan gejala-gejala seperti sulit berhenti bermain judi, mengalami tekanan emosional, atau menunjukkan perilaku tidak biasa akibat game online, segera cari bantuan profesional.
"Bisa pulih, tapi harus cepat dan tepat. Jangan tunggu sampai terlambat," pungkas dr. Lila. (*)
Editor : Danu S
What's Your Reaction?

