Singgah di Gresik, Gerakan Seni Hitam Putih Ilustrasi Idiom Hadirkan Contemplation Art
Jika pada edisi pertama fokus utamanya adalah mempertemukan generasi seniman, lalu edisi kedua membangun dialog dua era seni rupa, maka edisi ketiga Pameran Black & White diarahkan sebagai ruang perenungan dan penguatan karakter gerakan.
SURABAYA, SJP — Gerakan seni rupa hitam putih yang lahir dari ruang komunitas kecil di Surabaya tampaknya belum berhenti bergerak. Setelah memulai langkah perdana di Sidoarjo pada 2024, lalu berkembang melalui ruang dialog lintas generasi di Kota Batu pada 2025, kini pameran “Black And White” kembali hadir dalam edisi ketiganya di Galeri Pudak dengan membawa semangat baru, yakni konsolidasi identitas dan perluasan gerakan seni hitam putih di Jawa Timur.
Mengusung tajuk “Contemplation Art”, pameran yang berlangsung mulai 9 hingga 17 Mei 2026 itu digelar oleh Komunitas Ilustrasi Idiom sebagai kelanjutan dari tour exhibition Black And White yang sebelumnya singgah di Galeri Dekesda Sidoarjo dan Galeri Raos Kota Batu. Sebanyak 28 seniman dari berbagai daerah di Jawa Timur ambil bagian dengan menghadirkan sekitar 90 karya hitam putih dalam beragam medium dan pendekatan artistik.
Berbeda dengan pameran bersama pada umumnya, setiap peserta diberikan ruang sekitar empat meter untuk membangun atmosfer dan narasi visual mereka sendiri. Konsep itu membuat keseluruhan pameran terasa seperti kumpulan pameran tunggal yang disatukan dalam satu gerakan besar seni hitam putih.
Ketua Komunitas Ilustrasi Idiom, Roman Chuza menjelaskan bahwa gerakan Black And White lahir sebagai bentuk penyelarasan di tengah dominasi seni rupa penuh warna yang kini menjadi arus utama di kalangan perupa masa kini.
"Gerakan pameran lukisan hitam putih adalah penyelarasan atas karya hitam putih dengan karya-karya penuh warna yang kini menjadi norm atau populer di kalangan perupa," ujar Roman, Senin (11/5/2026).
Baginya, hitam putih bukan sekadar pilihan estetika, melainkan fondasi paling dasar dalam seni lukis dan menggambar. Dalam keterbatasan dua warna itulah seorang seniman diuji untuk menghadirkan kejujuran visual melalui garis, cahaya, tekstur, dan emosi karya.
"Hitam putih adalah dasar awal dari segala aspek seni lukis maupun gambar. Dari situ kejujuran karya bisa terlihat dengan jelas," katanya.
Tajuk “Contemplation Art” sendiri dipilih bukan tanpa alasan. Roman menyebut tema tersebut sebagai refleksi atas perjalanan gerakan Black And White yang kini mulai memasuki fase pendalaman identitas. Jika pada edisi pertama fokus utamanya adalah mempertemukan generasi seniman, lalu edisi kedua membangun dialog dua era seni rupa, maka edisi ketiga diarahkan sebagai ruang perenungan dan penguatan karakter gerakan.
Nuansa reflektif itu terlihat dari beragam pendekatan visual yang ditampilkan para perupa. Meski seluruh karya dibatasi hanya pada hitam dan putih, setiap seniman tetap menghadirkan karakter visual berbeda-beda, mulai dari arsiran pensil yang lembut, sapuan charcoal yang ekspresif, hingga eksplorasi garis tegas yang terasa emosional.
Roman juga menekankan bahwa pameran ini tidak hanya berbicara soal karya, tetapi juga membangun ruang kekeluargaan antar seniman di berbagai kota. Menurutnya, konsistensi pergerakan Black And White selama tiga tahun terakhir tidak lepas dari semangat silaturahmi para perupa yang terus menjaga ekosistem seni secara kolektif.
"Pameran ini juga membuka ruang berkesenian dan silaturahmi dalam kekeluargaan sesama seniman," ucapnya.
Gelaran Black And White Season 3 turut dibuka oleh perwakilan Dinas Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Kepemudaan Dan Olahraga (Disparekrafbudpora) Kabupaten Gresik yakni Saifudin Ghozali yang hadir mewakili Bupati Gresik.
Selain menghadirkan puluhan perupa muda, pameran ini juga mendapat dukungan sejumlah pelukis senior seperti Kris Adji Aw dan Setyoko yang selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan gerakan seni hitam putih tersebut. Adapun suppoting Art's (karya pendukung) dari pelukis Nasional, alm. Liem Keng yang turut terpajang dalam pameran tersebut.
Ketua pelaksana pameran, Webeech Mantarsov menyebut antusiasme para seniman yang terlibat memperlihatkan bahwa gerakan Black And White kini tidak lagi sekadar menjadi agenda komunitas, melainkan mulai tumbuh sebagai identitas kolektif baru dalam lanskap seni rupa Jawa Timur.
Di tengah dunia seni yang semakin ramai oleh ledakan warna dan eksperimen visual, Black And White justru memilih bergerak ke arah sebaliknya, menyederhanakan medium untuk memperdalam makna. Dari ruang-ruang hitam dan putih itulah, komunitas Ilustrasi Idiom perlahan membangun konsolidasi gerakan seni yang tidak hanya bertahan, tetapi juga terus berekspansi dari kota ke kota. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

