OPOP Jatim Terapkan Strategi Clustering, Targetkan 2.210 Pesantren Mandiri Ekonomi pada 2030

OPOP Jatim terapkan strategi clustering agar pembinaan pesantren lebih tepat sasaran, dengan target besar: 2.210 pesantren mandiri ekonomi tercapai pada 2030.

19 Apr 2025 - 20:40
OPOP Jatim Terapkan Strategi Clustering, Targetkan 2.210 Pesantren Mandiri Ekonomi pada 2030
Sekjen OPOP Jatim, Gus Ghofirin, saat menjelaskan strategi clustering dalam pengembangan EKO-Tren (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Program pemberdayaan ekonomi pesantren One Pesantren One Product (OPOP) Jawa Timur memasuki fase baru yang lebih terstruktur. Mulai tahun ini, OPOP Jatim menerapkan sistem clustering untuk menyempurnakan proses pembinaan terhadap pesantren yang menjadi peserta program.

Target Ambisius di 2030

Sekretaris Jenderal OPOP Jatim, Mochammad Ghofirin, menyampaikan bahwa dalam lima tahun ke depan, OPOP menargetkan tambahan 1.000 pesantren binaan. Jumlah itu akan melengkapi capaian periode sebelumnya yang berhasil memberdayakan 1.210 pondok pesantren di seluruh Jawa Timur.

"Selama lima tahun terakhir, kita berhasil capai lebih dari target. Sekarang kita lanjutkan untuk lima tahun ke depan, agar totalnya menjadi 2.210 pondok pesantren yang dibina secara menyeluruh oleh OPOP," ungkap Gus Ghofirin, sapaan akrabnya, Sabtu (19/4/2025).

Strategi Clustering untuk Pembinaan Tepat Sasaran

Untuk mendukung target tersebut, OPOP menerapkan strategi clustering atau pengelompokan pesantren berdasarkan tingkat perkembangan unit usahanya. Ada tiga klaster utama yang ditetapkan:

  • Start up: Pesantren yang baru mulai merintis usaha, masih butuh pelatihan dasar dan penguatan kelembagaan.
  • Scale up: Pesantren dengan usaha yang sudah berjalan namun memerlukan peningkatan kualitas produk, manajemen, serta pemasaran.
  • Sell up: Pesantren dengan usaha mapan yang siap ekspansi ke pasar yang lebih luas, termasuk peluang ekspor.

"Treatment-nya berbeda-beda. Kalau belum punya usaha, kita latih dari nol. Kalau sudah jalan, kita bantu scale up. Dan kalau sudah bagus, kita dorong mereka untuk bisa menembus pasar nasional bahkan ekspor," terang Gus Ghofirin.

Menurut Gus Ghofirin, pembinaan tidak akan berhenti dalam satu tahun anggaran saja, melainkan dilakukan secara berkelanjutan hingga setiap unit usaha benar-benar matang dalam lima aspek: produk, pasar, keuangan, SDM, dan kelembagaan.

"Clustering ini juga membantu pemerintah untuk tahu apa yang harus dilakukan pada masing-masing pesantren. Pendekatannya jadi lebih tajam dan hasilnya bisa lebih maksimal," tegasnya.

Kolaborasi Pentahelix

OPOP Jatim juga terus memperkuat kolaborasi melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan lima unsur: akademisi, pelaku bisnis, pemerintah, komunitas, dan media. Sinergi antar sektor ini dinilai penting untuk menciptakan ekosistem usaha yang berkelanjutan di lingkungan pesantren.

"Tujuan akhirnya adalah agar pondok pesantren tidak hanya kuat secara ekonomi, tapi juga bisa memberdayakan santri, alumni, dan masyarakat di sekitarnya," pungkas Gus Ghofirin. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow