Okupansi Hotel di Kota Batu Capai 70 Persen selama Long Weekend Kenaikan Isa Almasih
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu Sujud Hariadi pada Sabtu (31/5/2025) menyebutkan bahwa lonjakan okupansi tersebut terjadi pada puncak libur yakni Kamis (29/5/2025) dan Jumat (30/5/2025).
KOTA BATU, SJP—Libur panjang dalam rangka Hari Kenaikan Yesus Kristus membawa angin segar bagi industri perhotelan di Kota Batu. Tingkat okupansi hotel dilaporkan mencapai angka 70 persen selama long weekend kali ini.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi menyebutkan, lonjakan okupansi tersebut terjadi pada puncak libur yakni Kamis (29/5/2025) dan Jumat (30/5/2025).
“Okupansi tertinggi kisaran 70 persen untuk kemarin dan hari ini. Sedangkan hari yang lain masih di kisaran 50 persen untuk rerata okupansi hotel di Batu," ucapnya, Sabtu (31/5/2025).
Sujud menambahkan, meski tingkat hunian menunjukkan tren positif, harga kamar hotel justru mengalami penurunan dibandingkan long weekend tahun sebelumnya. Hal itu disebabkan oleh daya beli masyarakat yang menurun.
Weekend rate biasanya dipakai untuk long weekend. Namun, tahun ini daya beli masyarakat turun karena berbagai hal, seperti perekonomian global hingga efisiensi masyarakat.
Sehingga, kata Sujud, penurunan harga berkisar antara 20 hingga 40 persen, terutama di hari kerja. Bahkan dibandingkan long weekend tahun lalu, harga kamar saat ini turun hingga 30 persen.
Pihaknya menyoroti perubahan perilaku konsumen. Jika tahun lalu hotel bisa menaikkan tarif hingga dua kali lipat dan tetap penuh seminggu sebelum long weekend, maka kini strategi harga yang realistis menjadi kunci.
“Tahun ini hotel tidak lagi bisa memilih-milih tamu karena demand-nya jauh menurun. Untuk itu, kami juga menyasar market baru seperti acara sosial, pernikahan, wisuda, hingga komunitas otomotif,” tambahnya.
Selain menyasar segmen family leisure, pelaku usaha hotel juga mengoptimalkan pendapatan dari sektor food & beverage dengan penawaran kompetitif yang disesuaikan dengan gaya hidup masyarakat saat ini.
"Kondisi ini mencerminkan dinamika industri pariwisata di tengah tantangan ekonomi, sekaligus menunjukkan pentingnya adaptasi strategi bisnis oleh pelaku usaha akomodasi," pungkasnya. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

