Miris, Balita Gizi Buruk di Nganjuk Baru Terdeksi setelah Satu Tahun Luput dari Pantauan Desa

Balita gizi buruk ini sempat dirawat di RSD Kertosono selama 13 hari terakhir untuk mendapatkan penanganan medis yang memadai.

03 Nov 2025 - 10:13
Miris, Balita Gizi Buruk di Nganjuk Baru Terdeksi setelah Satu Tahun Luput dari Pantauan Desa
Aprillia Ulil Mufidah (7) Seorang balita asal Dusun, Desa Kelutan, Kecamatan Ngronggot (Foto: kuswanto/SJP/

NGANJUK, SJP — Apri (7), warga Desa Kelutan, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, menjalani perawatan medis karena setelah menderita gizi buruk selama setahun terakhir. Dia sempat menjalani perawatan Rumah Sakit Daerah (RSD) Kertosono, belakangan diinformasikan harus dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya. 

Kondisinya yang memprihatinkan baru terungkap setelah aktivis kesehatan melaporkan bahwa Apri, anak dari keluarga kurang mampu, mengalami gizi buruk parah dan nyaris luput dari perhatian pemerintah desa setempat.

Saat pertama kali datang ke rumah sakit, Apri dalam kondisi kritis. Berat badannya hanya 7 kilogram dengan tinggi 70 sentimeter, tubuhnya kurus, pertumbuhan terhambat, dan massa otot berkurang.

Menurut keterangan aktivis kesehatan Tanty Niswatin, yang turut memantau kondisi pasien melalui pihak rumah sakit, Apri datang dengan kondisi sangat lemah dan mengalami komplikasi serius. “Kondisi pertama kali datang, pasien lemah, kejang, napas tidak teratur dan gula darah mencapai 513. Kondisinya parah, bisa dikatakan fatal,” ujar Tanty, Minggu (2/11/2025).

Tanty menyayangkan lambatnya penanganan terhadap kasus gizi buruk ini. Ia menilai, pemantauan tumbuh kembang balita seharusnya menjadi tanggung jawab rutin kader posyandu dan petugas kesehatan di wilayah desa.

“Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Peran aktif dari pihak desa sangat penting untuk mendeteksi dini kasus gizi buruk pada balita,” tambahnya.

Selain faktor lingkungan, Tanty juga menyebut bahwa orang tua Apri memiliki keterbatasan mental dan kesulitan dalam merawat anaknya secara optimal. Kondisi itu memperparah kekurangan gizi yang dialami sang anak.

Sementara itu, Kepala Desa Kelutan Yuni Rohmawati mengakui adanya kelalaian dalam pemantauan kasus tersebut. Ia menyebut bahwa pihak desa sebenarnya telah memberikan bantuan, termasuk bantuan kereta dorong dari Dinas Sosial, namun belum mampu mengantisipasi kondisi Apri sejak awal.

“Kami akui memang ada kelalaian dalam kasus ini. Ke depan, kami akan lebih meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan agar tidak ada lagi kejadian seperti ini. Semua balita di desa kami harus mendapatkan pemantauan kesehatan yang optimal,” ujarnya.

Perkembangan terakhir, menurut Tanty Niswatin,  Apri dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo untuk mendapatkan perawatan yang intensif. 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow