Menu Kering MBG Saat Ramadan Dikeluhkan, Harapan Orang Tua di Bondowoso Jangan Sampai Pupus
Menu kering MBG selama Ramadan di Bondowoso dikeluhkan wali murid karena dinilai minim gizi dan kurang layak, SPPG akui sudah laporkan ke BGN dan akan lakukan evaluasi mutu serta distribusi.
BONDOWOSO, SJP – Harapan besar orang tua terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) di bulan Ramadan justru berubah menjadi kekecewaan. Sejumlah wali murid di Kabupaten Bondowoso mengeluhkan kualitas menu kering yang diterima anak-anak mereka.
Keluhan itu tak hanya bergulir dari mulut ke mulut. Di media sosial, protes sempat ramai diperbincangkan, salah satunya melalui unggahan akun Instagram @lambeturah_official yang memiliki jutaan pengikut. Isi unggahan tersebut ternyata sejalan dengan apa yang dirasakan para orang tua siswa di sejumlah sekolah di Bondowoso.
Paket makanan kering yang dibagikan dinilai jauh dari ekspektasi. Bukan hanya soal rasa, tetapi juga kelengkapan gizi dan cara pengemasan yang dianggap kurang layak.
Beberapa orang tua mengungkapkan, buah yang diterima anak mereka dalam kondisi asam bahkan hampir layu. Sementara susu, yang diharapkan menjadi bagian penting pemenuhan nutrisi, justru tidak selalu ada di dalam paket.
AI, wali murid di SDN Dabasah 3 Bondowoso, menceritakan pengalaman anaknya saat menerima paket MBG pada 23 Februari lalu. Ia menyebut isi paket hanya terdiri dari dua pisang kecil yang kurang segar, tiga butir kurma, sedikit kedelai dalam plastik klip, serta sepotong roti.
Menurut AI, niat pemerintah melalui program ini patut diapresiasi. Namun, ia menilai pengawasan di tingkat pelaksana masih perlu diperkuat. Banyak wali murid lain, katanya, merasakan hal serupa tetapi memilih diam.
“Kalau tujuannya mencetak generasi emas, tapi mutunya seperti ini, yang lahir bukan emas, bisa-bisa malah generasi besi tua,” ujarnya, Rabu (25/2/2026) kemarin.
Nada kecewa juga datang dari VG, wali murid di SMKN 1 Bondowoso. Ia menyoroti cara pengemasan makanan yang hanya menggunakan plastik kresek putih tanpa wadah yang lebih layak dan higienis.
Meski demikian, tidak semua orang tua menginginkan program ini dihentikan. MR, wali murid di Kecamatan Wringin, berharap persoalan tersebut tidak berujung pada penutupan dapur penyedia MBG.
Baginya, yang perlu diperbaiki adalah mutu dan pengawasan, bukan menghentikan program yang juga menjadi sumber penghasilan bagi para pekerja.
Menanggapi keluhan tersebut, Koordinator SPPG Kabupaten Bondowoso, Mila Afriana Agustina, menyatakan laporan sudah diteruskan ke Badan Gizi Nasional (BGN).
“SPPG ini sudah kami laporkan ke BGN pusat sebagai laporan khusus apabila ada hal-hal yang kurang baik,” jelas Mila, Kamis (26/2/2026).
Ia menerangkan bahwa anggaran MBG per porsi berbeda sesuai kategori penerima. Untuk balita hingga siswa kelas 3 SD, anggaran sebesar Rp 8.000 per porsi (porsi kecil).
Sedangkan untuk siswa kelas 4 SD ke atas, ibu hamil, dan ibu menyusui, sebesar Rp 10.000 per porsi (porsi besar). Perbedaan tersebut dihitung berdasarkan standar gramasi oleh ahli gizi.
Terkait pengemasan menggunakan plastik kresek, Mila menegaskan bahwa distribusi seharusnya menggunakan totebag.
“Harusnya ada totebag. Kami akan kroscek kembali di lapangan,” ujarnya.
Soal tidak adanya susu dalam beberapa paket, Mila menjelaskan bahwa susu bukan komponen wajib selama telah digantikan sumber protein lain seperti telur, abon, atau dendeng.
Selain itu, ia mengakui ketersediaan susu saat ini cukup terbatas di pasaran. Di Bondowoso sendiri belum ada UMKM yang memproduksi susu murni olahan siap konsumsi sesuai standar, sehingga masih bergantung pada susu kemasan.
“Barangnya langka dan sulit dicari,” terangnya.
Mendatang, SPPG memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap distribusi dan kualitas menu. Harapannya, pelaksanaan MBG selama Ramadan tetap berjalan sesuai standar dan benar-benar menghadirkan manfaat nyata bagi tumbuh kembang siswa, sebagaimana cita-cita awal program tersebut. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

