Menjaga Nyala Seni: Pesan Sang Maestro untuk Masa Depan Kesenian Jawa Timur

"Seni harus bersinar, bukan meredup," tegas maestro Joko Susilo, menyerukan sinergi antara seniman, pemerintah, dan komunitas untuk memastikan kesenian Jawa Timur terus hidup dan mendunia.

26 Mar 2025 - 21:30
Menjaga Nyala Seni: Pesan Sang Maestro untuk Masa Depan Kesenian Jawa Timur
Maestro seniman Joko Susilo menyampaikan pesan tentang pentingnya sinergi dalam melestarikan dan mengembangkan kesenian Jawa Timur di hadapan para tamu undangan (Kominfo Jatim for SJP)

SURABAYA, SJP - Jawa Timur bukan sekadar tanah yang menyimpan sejarah, tetapi juga panggung yang menghidupkan seni dalam setiap tarian, tabuhan gamelan, dan alunan tembang yang bergema hingga penjuru negeri. 

Dari panggung wayang hingga orkestra, dari tari Remo hingga Ludruk, kesenian Jawa Timur adalah nadi yang terus berdenyut, menyalakan semangat zaman dan melestarikan warisan para leluhur.

Namun, di balik megahnya pertunjukan, perkembangan zaman memantik sebuah pertanyaan baru, apakah nyala seni itu bisa terus terjaga? Apakah para seniman yang telah mengabdikan hidupnya pada karya akan tetap memiliki ruang untuk berekspresi, bertumbuh, dan mewariskan mahakarya mereka?

Pesan itulah yang disampaikan oleh Joko Susilo, maestro seni dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW), saat menghadiri acara “Apresiasi kepada Insan Budaya dan Pariwisata Jawa Timur Tahun 2025” di Gedung Negara Grahadi, Rabu (26/3/2025).

Seni yang Tak Hanya Dihargai, Tapi Juga Dihidupi

Joko mengusulkan agar apresiasi terhadap seniman tidak berhenti di satu momentum, tetapi terus diberikan dalam berbagai peristiwa penting. Ia menyebutkan Hari Kartini, Hari Pendidikan Nasional, Hari Kemerdekaan RI, hingga Hari Jadi Provinsi Jawa Timur bahkan Hari Ulang Tahun sang Gubernur, Khofifah Indar Parawansa yang turut hadir sebagai momen di mana seniman seharusnya selalu diundang dan dihargai.

“Kami para pelaku seni di lapangan hanya butuh satu hal: ruang untuk berekspresi. Ruang di mana kami bisa menyajikan karya, mendesiminasikan seni kami, tidak hanya kepada stakeholder, tetapi juga kepada masyarakat global,” ujar Joko dalam sambutannya, Rabu (26/3/2025).

Menurutnya, jika seni terus dibiarkan menjadi hiasan belaka tanpa ekosistem yang mendukung, maka lambat laun ia hanya akan menjadi kenangan yang pudar dalam sejarah.

Seni yang Berjalan Bersama, Bukan Berdiri Sendiri

Dalam Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, peran pemerintah memang disebutkan secara tegas. Namun, Joko menekankan bahwa seni tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah semata.

"Kami memahami bahwa pekerjaan pemerintah provinsi begitu banyak. Ada efisiensi, ada prioritas lain. Maka dari itu, seni harus menjadi kerja bersama, bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tugas kita semua," katanya.

Menurutnya, meskipun ada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang menaungi sektor ini, tantangan terbesar ada pada ranah teknis, yang harus dikerjakan langsung oleh seniman dan komunitas budaya di lapangan. Tanpa sinergi nyata antara pemerintah, pelaku seni, dan stakeholder, mimpi tentang kejayaan budaya Jawa Timur hanya akan menjadi retorika tanpa aksi.

Empat Pilar yang Menopang Kesenian Jawa Timur

Joko Susilo juga menyoroti keberadaan empat pilar utama yang menjadi penyangga seni dan budaya di Jawa Timur, yaitu:

  1. Universitas Negeri Surabaya (UNESA)
  2. SMK Negeri 12 Surabaya
  3. Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) – satu-satunya perguruan tinggi seni di Jawa Timur
  4. Sanggar-sanggar seni dan komunitas budaya

Ia mengapresiasi langkah Gubernur Jawa Timur yang berencana melembagakan STKW sebagai perguruan tinggi seni negeri, karena menurutnya, ini adalah tonggak penting dalam perkembangan pendidikan seni di Jawa Timur.

Lebih dari itu, peran sanggar dan komunitas seni tidak bisa diabaikan. Mereka adalah rumah bagi para seniman, tempat di mana tradisi bertemu dengan inovasi, di mana generasi tua dan muda saling berbagi ilmu.

Seni itu Berkolaborasi, Bukan Berkompetisi

Bagi Joko Susilo, masa depan seni tidak ditentukan oleh individu, tetapi oleh kolaborasi. Ia mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, ia melihat adanya semangat kerja sama yang semakin nyata antara pemerintah dan berbagai elemen seni.

Sebagai bukti konkret, ia mengundang Gubernur Jawa Timur dan para tamu undangan untuk menghadiri pergelaran seni pada 18 April di Gedung Kesenian Cak Durasim. Acara ini akan menjadi ajang kolaborasi empat pilar seni Jawa Timur, dengan menampilkan:

  • Orkestra dari UNESA
  • Gamelan dari STKW
  • Tari dari SMK Negeri 12 Surabaya
  • Penampilan dari penyanyi lokal dan guest star seperti Arya Gali dan Niken Salingri

"Ini bukan sekadar pertunjukan, ini adalah bukti bahwa seni semakin bergerak bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri," tegasnya.

Masa Depan Seni: Dari Panggung ke Generasi Mendatang

Sebagai penutup, Joko Susilo menegaskan bahwa kesenian bukan hanya milik masa kini, tetapi juga harus diwariskan kepada generasi mendatang.

"Kita butuh kerja yang berkelanjutan, bukan sekadar proyek sesaat. Pemerintah, seniman, akademisi, dan komunitas seni harus duduk bersama, membangun ekosistem yang kokoh agar seni terus hidup, tidak hanya sebagai nostalgia, tetapi sebagai realitas yang terus berkembang," ujarnya.

Ia berharap bahwa sinergi yang sudah mulai terbangun tidak hanya berlangsung sesaat, tetapi terus tumbuh dan dikuatkan secara institusional.

"Jika kita ingin Jawa Timur dikenal dunia bukan hanya karena pariwisatanya, tetapi juga karena budayanya, maka kita harus bekerja lebih keras. Seni harus bersinar, bukan meredup," pungkasnya.

Setelah menyampaikan sambutannya, Joko Susilo tetap berada di panggung untuk mendampingi Suroso, perwakilan seniman dari Kabupaten Malang, dalam penyerahan cinderamata Topeng Panji kepada Gubernur Jawa Timur, sebuah simbol bahwa budaya adalah warisan yang harus terus dijaga dan diteruskan. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow