Menari Dalam Sunyi, Siswa Tunarungu SLB B Tulungagung Tampil Percaya Diri
Keterbatasan fisik tidak membatasi ruang ekspresi dan kreativitas. Lewat gerak tubuh, para siswa SLB-B Negeri Tulungagung berbicara dengan caranya sendiri, tanpa suara, namun sarat makna.
TULUNGAGUNG, SJP -Tepuk tangan panjang menggema di halaman sekolah SLB B Tulungagung, Selasa (10/2/2026) siang itu. Bukan semata karena kemeriahan acara dies natalis, melainkan karena sebuah penampilan yang menyentuh perasaan. Siswa SLB B Negeri Tulungagung melangkah ke panggung dengan penuh percaya diri, menghadirkan tarian-tarian tradisional yang memukau wali murid dan tamu undangan.
Meski mereka harus mengikuti instruksi melalui isyarat dari pemandu, satu per satu gerak mereka mengalir rapi. Tatapan fokus, ekspresi wajah yang hidup, dan kekompakan antarpenari membuat penonton sejenak lupa bahwa para siswa tersebut merupakan penyandang tunarungu.
Di balik penampilan itu, tersimpan proses panjang yang penuh kesabaran, empati, dan kerja sama. Pelatih tari SLB B Negeri Tulungagung, Ammy Aulia Renata, mengungkapkan bahwa proses penciptaan hingga siap pentas membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Namun, latihan yang benar-benar intens hanya bisa dilakukan dalam beberapa pertemuan terakhir.
“Untuk proses penciptaan karya baru ini sekitar satu bulan. Itu pun karena saya juga ada kesibukan, mereka juga bersekolah. Yang benar-benar intens itu sekitar tujuh kali pertemuan terakhir,” ujarnya.
Keterbatasan waktu ternyata tidak menjadi penghalang utama. Renata justru menaruh kekaguman besar pada cara para siswa membangun komunikasi satu sama lain, meskipun ia sendiri tidak terlalu menguasai bahasa isyarat.
“Untungnya mereka sangat aktif antar teman. Modelnya seperti tutor sebaya. Jadi ketika saya memberi instruksi, teman-temannya saling mengingatkan, ‘tadi kamu kurang ini, tadi kurang itu’. Itu yang saya salut. Jalinan komunikasi mereka efektif sekali,” tutur Renata.
Dalam perayaan tersebut, total empat tarian ditampilkan, disesuaikan dengan rentang usia para siswa. Mulai dari Tari Gugur Gunung yang dibawakan siswi kelas 1 hingga 3 SD, Tari Gambyong untuk siswa kelas 5 dan 6 SD hingga SMP, Tari Reog Kendang khas Kabupaten Tulungagung, hingga penampilan pamungkas berupa tari jaranan kreasi berjudul Turonggo Karnaseta.
Nama Turonggo Karnaseta bukan dipilih tanpa makna. Renata menjelaskan, karnaseta berasal dari kata karna yang berarti pendengaran atau telinga, dan seta yang bermakna suci.
“Saya berharap meskipun secara fisik mereka tidak bisa mendengar, mereka tetap bisa menghayati melalui karya tari ini,” katanya.
Berbeda dengan tari jaranan pada umumnya, Turonggo Karnaseta dirancang khusus menyesuaikan karakter dan kebutuhan siswa tunarungu. Salah satu perbedaan paling mencolok terletak pada durasi.
“Durasi karya ini cukup pendek, hanya sekitar empat setengah menit. Karena tingkat konsentrasi anak-anak tunarungu tidak bisa kita samakan dengan rekan-rekan dengar,” jelas Renata.
Selain itu, ia menerapkan segmentasi gerak agar materi lebih mudah diingat. Gerakan disusun bertahap dan berulang, dengan hitungan yang jelas, perpindahan tempo yang perlahan, serta level gerak yang disesuaikan kemampuan tubuh para siswa.
“Kalau untuk rekan-rekan dengar, gerak bisa sangat eksploratif. Tapi untuk anak-anak tunarungu, segmentasi gerak itu membantu mereka mengingat. Semua saya pertimbangkan, kekuatan, daya tangkap, kemampuan tubuh, sampai cara mereka menyerap materi,” tambahnya.
Menariknya, dalam karya ini para siswa juga untuk pertama kalinya menggunakan properti tari seperti kuda kepang dan pecut. Meski tidak dapat mendengar bunyinya, mereka diajak merasakan getaran dari pecut tersebut.
“Mereka saya ajari mengeksplor bagaimana mencari suara pecut yang tepat. Walaupun tidak mendengar, mereka bisa merasakan getarannya,” ujar Renata.
Penampilan siang itu menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak membatasi ruang ekspresi dan kreativitas. Lewat gerak tubuh, para siswa SLB-B Negeri Tulungagung berbicara dengan caranya sendiri, tanpa suara, namun sarat makna, dan meninggalkan kesan mendalam di hati setiap yang menyaksikan. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

