Menahan Lapar demi Ibu, Kisah Gadis Penjaga Angkringan Parimono Jombang Berupah Rp35 Ribu
Kehidupan menuntut Puja untuk dewasa sebelum waktunya. Sang ayah telah lama berpulang ke Rahmatullah, meninggalkan ibunya yang kini bertaruh nasib sebagai buruh tani di Kecamatan Perak, lokasinya sekitar 10 kilometer dari tempat Puja bekerja.
JOMBANG, SJP — Ketika petang mulai membungkus kawasan Taman Jalan KH. Hasyim Asy'ari, Dusun Parimono, Desa Plandi, riuk tawa pengunjung angkringan perlahan memecah sunyi.
Namun, di balik hangatnya uap kopi dan deretan angkringan yang belakangan riuh dihujat di media sosial hingga disorot oleh media massa, ada jerit tangis yang tak pernah terdengar. Ada suara lirih yang tak pernah diwawancarai.
Ada perih yang tersembunyi rapat di dalam dada anak-anak muda yang sekadar menukar keringatnya demi bertahan hidup.
Salah satunya adalah Puja Nova Nurmaulidya. Di usianya yang baru 21 tahun, jemari lentiknya sudah terbiasa mengeras.
Saban sore, tepat pukul 18.00 WIB, dengan sisa tenaga yang dipunya, Puja memegang erat besi gerobak kayu. Langkah kaki kecilnya menapak perlahan, mendorong beban berat itu sejauh 25 meter menuju lapak jualan. Tak ada jeda istirahat. Begitu gerobak berhenti, ia langsung menata gelas, menyiapkan dagangan, melayani senyum para pembeli, membasuh tumpukan gelas kotor, hingga menutup lapak saat dini hari benar-benar sunyi.
Rutinitas memeras keringat selama 7 jam penuh itu ia jalani saban hari. Bayarannya? Cuma Rp35 ribu semalam.
Jika tak pernah absen, uang yang terkumpul sepekan hanya sekitar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu. Dihitung setahun ia bekerja, mengumpulkan uang Rp1 juta dalam sebulan hanyalah mimpi belakangan. Tapi dari lembaran rupiah yang kusam itulah, Puja menyambung nyawa.
Menahan Lapar demi Ibu di Kampung
Kehidupan menuntut Puja untuk dewasa sebelum waktunya. Sang ayah telah lama berpulang ke Rahmatullah, meninggalkan ibunya yang kini bertaruh nasib sebagai buruh tani di Kecamatan Perak, lokasinya sekitar 10 kilometer dari tempat Puja bekerja.
Tak ingin merepotkan sang ibu, Puja menyewa kamar kos sempit berukuran kecil di Kecamatan Diwek seharga Rp450 ribu per bulan. Setelah terpotong sewa kamar, uang yang tersisa di dompetnya nyaris tak berwujud. Demi bertahan hidup, Puja memangkas jatah makan dan isi perutnya sendiri.
"Yang penting bisa hidup. Kadang sehari makan satu kali. Kalau masih lapar ya beli mi. Yang penting sehari perut terisi sama nasi," tuturnya polos.
Setiap dua pekan sekali, Puja menyempatkan diri pulang menatap wajah ibunya. Namun, di hadapan perempuan tua yang melahirkannya itu, Puja selalu menyembunyikan rapat-rapat penderitaannya.
"Aku enggak mau membebani orang tua. Masa harus minta terus? Yang penting bisa hidup sendiri daripada minta terus," ungkapnya.
Ibu tercintanya sama sekali tidak tahu betapa perih punggung anaknya yang harus memikul beratnya gerobak tiap malam.
"Ibu tahunya aku kerja. Enggak tahu kerja kayak gimana. Yang penting beliau tahunya aku sehat dan enggak pernah minta uang," katanya.
Baju Basah Kering di Badan dan Stigma yang Menikam
Cobaan Puja tak cuma soal perut yang sering lapar. Saat hujan deras mengguyur Jombang, asa Puja ikut kuyup. Pernah suatu malam, dagangannya sepi memilu. Hanya 12 gelas minuman yang terjual dengan omzet tak lebih dari Rp80 ribu. Namun, di bawah guyuran air langit, ia tetap bertahan di lapaknya.
"Pernah berangkat kena hujan, baju basah sampai kering sendiri di badan, bahkan pulang masih basah," sambatnya.
Namun, yang paling memotong hatinya bukanlah basahnya baju atau hawa dingin yang menusuk tulang, melainkan stigma jahat publik. Belakangan, angkringan di Parimono viral dan diserbu cemoohan warganet. Kakak kandung Puja yang iba bahkan sempat menelepon sembari menangis, memintanya angkat kaki dan pulang.
"Katanya, 'Ya sudah pulang saja, aku bisa ngidupin kamu.' Tapi sampai kapan aku harus bergantung sama saudara?" tanyanya.
Dengan dada sesak, Puja bertahan. Ia pasang badan membela nasib kawan-kawannya yang nasibnya tak beruntung.
"Banyak yang keluarganya enggak harmonis, banyak juga yang ijazahnya cuma SMP, bahkan SD. Mau cari kerja di mana? Orang cuma lihat jeleknya saja," keluhnya.
Bagi Puja dan kawan-kawannya, tempat itu bukanlah ruang maksiat, melainkan benteng terakhir agar mereka tak mengemis.
"Kalau enggak tahu apa yang kita rasakan, jangan menghujat. Di sini orang cuma cari nafkah," tandasnya.
Ijazah SD dan Doa Seorang Nenek
Kisah pilu di baliknya juga dirasakan Anggun Gisella Gitafreya (20) atau yang biasa dipanggil Gita. Gadis asal Kecamatan Gudo ini menatap kehidupan dengan mata sayu. Langkah pendidikannya terhenti paksa di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs) karena kehancuran rumah tangga orang tuanya. Berbekal ijazah SD, Gita harus melangkah menembus malam.
Sejak berpisah dari orang tuanya dua tahun lalu, Gita hidup menumpang pada sang nenek. Kerja malam dari pukul 19.00 WIB hingga 01.00 WIB pagi ia lakoni demi bisa membawa pulang beras. Beruntung, sistem upahnya sedikit berbeda dari Puja, berkisar Rp45 ribu hingga Rp60 ribu tergantung capaian omzet harian.
Sama seperti Puja, dada Gita sering terasa sesak saat mendengar cemoohan orang-orang di luar sana yang mencap buruk pekerjaan mereka.
"Kadang agak terganggu. Aku di sini kan cuma kerja, kok jadi omongan orang di luar sana. Untungnya di sini enggak pernah ada yang senonoh. Orang datang ya ngopi, bayar, terus pulang," ceritanya.
Ketika cemuhan publik melukai hatinya, Gita selalu pulang memeluk neneknya. Di rumah bersahaja itu, sang nenek membisikkan penawar luka yang selalu jadi pegangan hidupnya.
"Yang penting halal. Enggak nyuri," kata dia saat ditemui di lokasi kerjanya.
Berharap pada Pintu Pabrik yang Tak Kunjung Terbuka
Sore nanti, saat matahari tenggelam di ufuk barat Jombang, Puja dan Gita akan kembali membedaki wajahnya, merapikan bajunya, dan melangkah menembus dinginnya malam.
Puja sebetulnya pernah bekerja menjaga stan minuman dengan gaji Rp750 ribu per bulan. Ia juga tak lelah memasukkan surat lamaran pekerjaan ke berbagai pabrik di Jombang. Namun hingga detik ini, belum ada satu pun panggilan datang memanggil nama Puja.
"Kalau ada kerja yang lebih baik ya mau. Tapi sudah ngelamar ke pabrik-pabrik, belum pernah dipanggil," ujar Puja.
Namun Puja menolak untuk menyerah pada takdir. Selama napas masih berhembus, selama jemarinya masih bisa memegang gayung dan mendorong gerobak, ia akan terus melangkah.
"Ya jalanin saja dulu yang ada, yang penting saya bisa kerja," tuturnya.
Di balik riuh manisnya es teh dan hangatnya seduhan kopi yang mereka sajikan setiap malam di Parimono, ada tetes air mata yang diusap diam-diam. Ada anak-anak muda terpukul keadaan yang sedang mati-matian menjaga kehormatan dirinya, yakni menolak mengemis, menolak mencuri, dan bertaruh nyawa demi memperoleh uang halal. (**)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

