Memed, ‘Thomas Alva Edison’ Sound Horeg yang Dentumannya Kini Dilarang Gubernur Jatim

Ahmad Abdul Aziz atau Memed, teknisi asal Ngawi yang dijuluki “Thomas Alva Edison” sound horeg, dikenal sebagai otak di balik racikan dentuman bass ekstrem yang melegenda. Namanya kembali mencuat usai Gubernur Jawa Timur melarang penggunaan sound horegm.

10 Aug 2025 - 11:18
Memed, ‘Thomas Alva Edison’ Sound Horeg yang Dentumannya Kini Dilarang Gubernur Jatim
Ahmad Abdul Aziz, atau yang akrab disapa Memedyang dijuluki “Thomas Alva Edison” sound horeg. (Foto: beritasatu.com)

SURABAYA, SJP – Larangan penggunaan sound horeg oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pada 6 Agustus 2025, tak hanya menghentikan dentuman bass ekstrem yang sering menggetarkan kaca rumah, tapi juga menyorot sosok legendaris di balik fenomena ini: Ahmad Abdul Aziz, atau yang akrab disapa Memed. Di komunitasnya, pria asal Ngawi ini dijuluki “Thomas Alva Edison” sound horeg.

Julukan unik itu merupakan plesetan dari nama ilmuwan penemu lampu pijar, Thomas Alva Edison. Bedanya, jika Edison dikenang karena revolusi pencahayaan, Memed dikenal karena racikan suara ekstrem yang menjadi “standar emas” di dunia audio horeg.

Memed lahir dan besar di Ngawi, Jawa Timur. Sejak remaja ia sudah akrab dengan dunia audio, berawal dari membantu tetangga memasang sound system sederhana untuk hajatan. Kecintaannya pada musik dan teknologi suara membawanya belajar secara otodidak tentang perangkat audio, mulai dari kabel, speaker, amplifier, hingga teknik tuning bass.

Pada 2019, ia bergabung dengan tim Brewog Audio—salah satu kelompok sound horeg terkemuka di Jatim. Di sinilah kemampuan teknisnya berkembang pesat. Memed tak sekadar teknisi, tetapi “arsitek suara” yang meracik setelan bass sesuai karakter acara. Ia mengurus instalasi perangkat, pengecekan kabel, pengaturan amplifier, hingga eksperimen setelan suara yang menghasilkan dentuman khas.

Wajar Datar dan Mengantuk

Memed dikenal di komunitasnya karena tampil dengan gaya santai, ekspresi wajah datar, dan sering terlihat mengantuk. Ternyata, penampilannya yang “selalu lelah” itu bukan tanpa alasan. Dalam setiap proyek besar, ia hanya tidur 1–3 jam per hari, bahkan rela begadang berhari-hari demi mengejar “formula” dentuman sempurna.

Racikan Memed terkenal ekstrem: getaran bass yang bukan hanya terdengar, tapi terasa di seluruh tubuh. Banyak yang mengaku dentumannya mampu memecahkan kaca dan merontokkan genteng. Efek inilah yang membuatnya disebut-sebut sebagai inovator di dunia sound horeg.

Fenomena sound horeg sendiri mulai populer di Malang sekitar 2014, awalnya sebagai hiburan rakyat di acara komunitas dan festival. Istilah “horeg” berasal dari bahasa Jawa kuno yang berarti gempa atau guncangan. Namun, seiring berkembangnya tren, fungsinya bergeser menjadi ajang adu kekuatan sound system antarkelompok.

Popularitas sound horeg tak lepas dari kontribusi Memed, yang kerap menjadi ujung tombak di berbagai kompetisi audio ekstrem di Jatim. Namun, kebisingan di atas ambang aman membuat praktik ini menuai protes. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim mengeluarkan fatwa haram, sementara pemerintah provinsi resmi membatasi penggunaannya.

Melalui SE bersama Kapolda Jatim dan Pangdam V/Brawijaya, Gubernur Khofifah membatasi tingkat kebisingan, waktu, rute, dan lokasi penggunaan perangkat suara. Tujuannya, melindungi kesehatan masyarakat sekaligus menjaga ketertiban umum.

Bagi penggemar sound horeg, larangan ini berarti dentuman racikan Memed tak lagi bebas menggelegar di jalanan. Namun, bagi komunitas audio ekstrem, sosok “Thomas Alva Edison” horeg akan selalu dikenang sebagai pionir yang mengubah cara orang merasakan musik, tidak hanya dengan telinga, tapi dengan seluruh tubuh. (**)

Editor : Danu S

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow