Manusia di Ponorogo Hidup di Krangkeng Besi Selama 20 Tahun
Pihak keluarga meyakini bahwa perubahan perilaku Kirno bermula sejak ia mendalami ilmu kebatinan pada era 1980-an. Sejak saat itu, ia sering menunjukkan perilaku di luar nalar, seperti mengonsumsi benda-benda berbahaya hingga meminum oli bekas.
PONOROGO, SJP — Di balik jeruji besi sempit berukuran 2 x 0,5 meter, Kirno (60) menghabiskan hampir sepertiga usianya dalam keterasingan.
Warga Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo ini harus mendekam di dalam kerangkeng selama 20 tahun akibat gangguan jiwa berat yang dideritanya sejak Juni 2006.
Kisah memilukan ini bermula dari keputusasaan keluarga. Adik kandung Kirno, Sarti, mengungkapkan bahwa pemasungan tersebut merupakan langkah terakhir demi keamanan lingkungan.
Pada masa lalu, Kirno kerap mengamuk dan melakukan tindakan kekerasan fisik yang membahayakan nyawa, termasuk menyerang anggota keluarga dengan senjata tajam hingga menggunakan cangkul.
"Keluarga saat itu sangat ketakutan. Kakak saya sering menganiaya; dipukul, dicangkul, bahkan hewan ternak dan nenek saya juga pernah menjadi sasaran amukannya," ujar Sarti, Rabu (28/1/2026).
Pihak keluarga meyakini bahwa perubahan perilaku Kirno bermula sejak ia mendalami ilmu kebatinan pada era 1980-an. Sejak saat itu, ia sering menunjukkan perilaku di luar nalar, seperti mengonsumsi benda-benda berbahaya hingga meminum oli bekas.
Hal itulah yang memicu kepercayaan keluarga untuk membangun kerangkeng yang tidak menyentuh tanah, dengan harapan dapat melumpuhkan kekuatan yang dianggap mereka sebagai hal mistis.
Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh Ipda Purnomo, seorang anggota kepolisian yang dikenal aktif dalam aksi kemanusiaan.
Saat memimpin proses pembebasan Kirno, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut murni merupakan gangguan kejiwaan akibat trauma dan konflik masa lalu yang tidak tertangani secara medis.
"Beliau dianggap memiliki kekebalan sehingga tidak boleh menginjak tanah oleh keluarga. Namun, secara medis ini adalah gangguan kejiwaan yang dipicu masalah lama. Ketika emosinya muncul kembali, keluarga yang tidak paham akhirnya memilih jalan pasung," jelas Ipda Purnomo.
Proses pembebasan Kirno berlangsung dramatis. Petugas harus menggunakan gerinda listrik untuk memotong jeruji besi karena kunci gembok yang telah berkarat dan hilang termakan waktu.
Keluarga pun sempat ragu dan diselimuti trauma mendalam jika Kirno kembali tidak terkendali setelah dibebaskan.
Setelah berhasil dikeluarkan, Kirno langsung mendapatkan perawatan manusiawi. Ia dimandikan, dicukur rambutnya, dan diberikan pakaian layak sebelum dievakuasi ke Pondok Pesantren Rehabilitasi Mental Yayasan Berkas Sinar Abadi di Kabupaten Lamongan.
Ipda Purnomo menyatakan komitmennya untuk mengawal proses rehabilitasi Kirno sepenuhnya. Ia bahkan menawarkan diri untuk merawat Kirno dalam jangka panjang jika pihak keluarga masih merasa belum siap secara psikis untuk menerima kepulangannya. (**)
Sumber: Beritasatu.com
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

