Mahasiswa UM Surabaya Lukis Pesan Damai di Hari Perdamaian Dunia

Ribuan mahasiswa baru UM Surabaya melukis di “The Wall of Peace,” menegaskan pilihan generasi muda merawat kehidupan dengan damai di tengah dunia yang masih dipenuhi konflik.

21 Sep 2025 - 22:18
Mahasiswa UM Surabaya Lukis Pesan Damai di Hari Perdamaian Dunia
Mahasiswa baru UM Surabaya menuangkan pesan damai lewat lukisan di dinding raksasa “The Wall of Peace” (Istimewa)

SURABAYA, SJP - Di tengah dentuman senjata yang masih terdengar di banyak belahan dunia, sekelompok anak muda di Surabaya memilih melawan gambaran kelam itu, bukan membalasnya dengan senjata, tapi dengan kuas dan warna yang mereka angkat.

Hari Perdamaian Dunia

Kegiatan tersebut bertepatan dengan International Day of Peace, atau Hari Perdamaian Internasional dunia yang jatuh setiap 21 September. 

Peringatan itu pertama kali ditetapkan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1981, dengan tujuan menghentikan kekerasan setidaknya sehari dalam setahun dan memberi ruang bagi refleksi tentang arti damai. 

Dua dekade kemudian, tepatnya pada 2001, PBB mengesahkan resolusi yang menegaskan tanggal 21 September sebagai hari non-kekerasan dan gencatan senjata secara global.

Kendati demikian, peperangan masih terjadi di beberapa negara, mulai dari Palestina–Israel, Ukraina–Rusia, hingga Pakistan–India, berbagai belahan dunia masih diselimuti suara ledakan dan tangisan.

The Wall of Peace

Di tengah realitas getir itu, mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya memilih cara berbeda untuk merayakan Hari Perdamaian Dunia. Mereka melukis pesan damai di sebuah dinding besar yang diberi nama The Wall of Peace.

M. Febriyanto Firman Wijaya, perwakilan pelaksana mengungkapkan bahwa aksi simbolik tersebut menjadi pengingat bahwa generasi muda tak ingin hidup di bawah bayang-bayang kekerasan. 

"The Wall of Peace adalah simbol bahwa ribuan mahasiswa baru memilih merawat kehidupan dengan perdamaian, bukan pertikaian di tengah konflik di belahan dunia yang terjadi,” ujar Febriyanto, Minggu (21/9/2025).

Febriyanto menekankan, kegiatan ini bukan hanya sekadar seremoni tahunan. Lebih jauh, aksi melukis bersama tersebut adalah bentuk pendidikan karakter yang menanamkan nilai-nilai damai sejak dini kepada mahasiswa baru.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa dibagi ke dalam sejumlah kelompok untuk menyalurkan ide kreatif mereka. 

"Mereka diberikan kebebasan dengan kelompok untuk memvisualisasikan pesan-pesan perdamaian sesuai isu yang sudah diberikan," jelas Febriyanto.

Setiap coretan di dinding itu menjadi simbol suara muda yang menolak perang. Harapannya, pesan yang digaungkan tak berhenti sebagai lukisan semata, tetapi mewujud menjadi gerakan nyata di masyarakat. 

"Inilah bukti bahwa generasi muda punya keberanian untuk menyuarakan damai, meski dunia kerap bising dengan kekerasan. Menandai komitmen bahwa perdamaian harus diperjuangkan bersama," pungkas Febriyanto. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow