Festival Gig on the Green 2025: Musik, Kuliner, dan Persahabatan Lintas Negara Warnai Reuni Alumni Australia

Asap BBQ bercampur denting gitar dan tawa alumni, menjadikan Gig on the Green 2025 bukan sekadar festival, tapi reuni hangat para alumni Australia di Jawa Timur yang meneguhkan persahabatan Indonesia–Australia.

21 Sep 2025 - 23:23
Festival Gig on the Green 2025: Musik, Kuliner, dan Persahabatan Lintas Negara Warnai Reuni Alumni Australia
Musisi Australia Neptune tampil di panggung Gig on the Green 2025 di Rustic Market, Surabaya (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - "Alumni Australia di Jawa Timur merupakan bagian dari komunitas yang dinamis, yang pengalamannya di Australia memberikan kontribusi terhadap hubungan antar masyarakat yang kuat antara kedua negara," begitu ungkap Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Glen Askew, dalam festival tahunan Gig on the Green (GoG).

Reuni dengan Cita Rasa Negeri Kanguru

Untuk kedua kalinya, GoG digelar di Rustic Market Gunung Sari, menjadi ruang pertemuan alumni Australia dari seluruh Jawa Timur. Sekitar 300 orang alumni dan sahabat larut dalam suasana penuh tawa dan cerita.

Acara tersebut juga dirancang sebagai penyambutan bagi para alumni yang baru kembali dari studi di Australia, sembari merayakan prestasi mereka dan mempererat jejaring komunitas.

Di panggung utama, tampil penyanyi yang merupakan salah satu alumni Australia yakni Maseta, band lokal Alderamin, dan penyanyi asal Australia Neptune tampil mengiringi jalannya acara dan menemani peserta yang bertegur sapa di bawah cahaya lampu estetik. 

Bukan hanya telinga yang dimanjakan. Lidah pun diajak berkeliling lewat deretan kuliner yang dibawa langsung oleh para alumni. Ada BBQ ala Australia, Fish and Chips dari Garasi Ergo, Lamington dan cupcake dari Cocoro Café, kopi dari Kopi Tuku, hingga sajian roti dan pastry dari Barby’s Bakery serta Farine Pastry.

Apresiasi dan Harapan kepada Alumni

Di balik kemeriahan acara tersebut, Konjen Australia untuk Surabaya, Glen memberikan apresiasi kepada para alumni Australia di Jawa Timur, menurutnya Alumni merupakan bagian dari komunitas yang dinamis dan berdampak.

"Pengalamannya (para Alumni) di Australia mampu memberikan kontribusi terhadap hubungan antar masyarakat yang kuat antara kedua negara," kata Glen, Minggu (21/9/2025).

Dirinya juga membawa kabar penting mengenai kebijakan baru pemerintah Australia di bidang pendidikan. Glen membeberkan bahwa satu bulan uang lalu, pemerintah Australia telah menambah jumlah visa khusu mahasiswa Asia Tenggara.

"Jadi ada 25 ribu visa khusus mahasiswa Asia Tenggara termasuk Indonesia per tahun. Tujuannya tentu pemerintah Australia ingin menarik lebih banyak mahasiswa Indonesia kuliah di Australia," jelas Glen

Karena itu, Glen berharap pertemuan seperti GoG tidak hanya jadi ruang nostalgia, tetapi juga inspirasi bagi generasi berikutnya.

"Saya harap alumni ini bisa 'membujuk' anak lain untuk melanjutkan pendidikan atay berkuliah di Australia," ucapnya dengan canda.

Perihal persyaratan, Glen tidak menyebut secara detail dan rinci karena setiap instansi memiliki kriteria yang berbeda-beda. Namun Glen memastikan bahwa syarat wajib untuk mengambil studi di Australia adalah sertifikasi bahasa Inggris.

"Jadi IELTS-nya nilainya 6 atau 6,5. Selain itu, calon mahasiswa juga harus mengetahui tujuan belajar sebelum pergi belajar ke Australia. Sehingga, nantinya para lulusan dapat membuat kontribusi yang nyata untuk Indonesia," tandasnya.

Menyapa Indonesia dengan Musik

Di antara penampil malam itu, musisi asal Australia Neptune menjadi salah satu bintang yang ditunggu. Dengan nama asli Luca, ia mengaku sangat terkesan bisa hadir di Surabaya untuk pertama kalinya.

"Saya senang dengan cara saya disambut di Indonesia, khususnya Jawa Timur dan Surabaya. Saya sangat menanti-nantikan untuk bermain di sini malam ini dan semoga pengunjung bisa menikmati," ucapnya.

Neptune mengungkapkan bahwa dirinya membawakan lagu-lagu ciptaannya sendiri, hasil perjalanan musik yang telah ia kerjakan selama empat hingga lima tahun terakhir.

"Saya akan melakukannya dengan lagu-lagu yang telah saya tulis sendiri. Untuk bisa membawa lagu-lagu ini ke negara baru adalah sesuatu yang saya sangat menanti-nantikan," ujarnya.

"Lagu saya selalu terinspirasi dengan tempat seperti ini, dan mengalami budaya baru. Saya sangat mencintai orang-orang. Mungkin di masa depan saya akan menulis lagu tentang Indonesia," imbuhnya sambil tersenyum.

Perjalanannya di dunia musik pun tak lepas dari latar belakang keluarga. Ia tumbuh di Sydney dalam lingkungan yang dekat dengan musik, lalu jatuh cinta pada gitar, hingga akhirnya rutin menulis lagu dan tampil di atas panggung.

"Saya dilahirkan dalam keluarga yang sangat musikal, dan musik selalu merupakan bagian besar dari hidup saya. Dari menulis lagu hingga persembahan pertama saya, saya tiba-tiba mencintai perjalanan itu, dan itu sangat luar biasa untuk saya terlibat dalam," ucap Neptune.

Lebih dari sekadar festival, Gig on the Green 2025 menjadi ruang nostalgia sekaligus jembatan baru bagi alumni Australia di Jawa Timur. 

Dengan musik, kuliner, dan cerita yang dibawa pulang dari Negeri Kanguru, momen ini menegaskan bahwa hubungan antarmasyarakat Indonesia–Australia bukan hanya tentang pendidikan, tetapi juga persahabatan yang terus hidup di tengah kebersamaan. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow