Lontong dan Ketupat: Bahan Sama, Kandungan Gizi Bisa Beda, Kok Bisa?

Lontong dan ketupat, makanan tradisional berbahan beras, berbeda kandungan gizinya karena cara masak dan kadar air yang terserap saat pengolahan.

07 Apr 2025 - 22:30
Lontong dan Ketupat: Bahan Sama, Kandungan Gizi Bisa Beda, Kok Bisa?
Salah seorang penjual ketupat di pasar Tumpang Malang (Doc. Hafid/SJP)

Suarajatimpost.com — Meski sama-sama dibuat dari beras, lontong dan ketupat ternyata memiliki kandungan gizi yang berbeda. 

Keduanya sering hadir dalam momen spesial seperti Lebaran atau acara kenduri, dan makin populer sebagai pengganti nasi dalam menu harian.

Sekilas serupa, namun cara pengolahan membuat perbedaan yang signifikan. Lontong dimasak dengan cara dikukus atau direbus dalam air selama berjam-jam dalam balutan daun pisang, sementara ketupat direbus dalam bungkus janur kelapa muda yang lebih padat dan kaku.

Menurut ahli gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Tan Shot Yen, M.Hum, perbedaan cara memasak ini berdampak langsung pada kandungan air dalam makanan.

“Meskipun bahan dasarnya sama, kadar air yang diserap lontong lebih tinggi daripada ketupat. Ini membuat berat per porsi jadi lebih ringan kalorinya, meskipun volumenya tampak lebih banyak,” jelas Dr. Tan dalam sebuah webinar kesehatan pangan tradisional.

Berdasarkan Data Komposisi Pangan Indonesia (DKPI), dalam 100 gram, lontong mengandung sekitar 116 kkal, 25 gram karbohidrat, dan 2 gram protein.

Sedangkan ketupat mengandung sekitar 118 kkal, 26 gram karbohidrat, dan 2 gram protein.

Keduanya rendah lemak dan tergolong sumber karbohidrat kompleks yang baik. 

Tapi Dr. Tan menekankan, yang perlu diperhatikan bukan cuma lontong atau ketupatnya melainkan lauk pendampingnya.

“Lontong sayur atau ketupat opor bisa jadi ‘jebakan kalori’ jika disajikan dengan kuah santan pekat atau daging berlemak tinggi. Jadi, bukan makanan tradisionalnya yang salah, tapi kombinasi lauknya perlu diperhatikan,” tambahnya.

Dari sisi budaya, ketupat memiliki filosofi mendalam sebagai simbol ngaku lepat (mengakui kesalahan) dalam tradisi Jawa, sering disajikan saat Hari Raya Idulfitri. 

Sementara lontong banyak dipakai dalam tradisi tumpengan, kenduri, hingga acara keagamaan.

Jadi, mau pilih lontong atau ketupat? Keduanya sama-sama lezat, bernilai budaya tinggi, dan bisa jadi pilihan sehat jika dikombinasikan dengan lauk yang seimbang. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow