Desa Tawun Ngawi, Kampung yang Hidup Berdampingan dengan Ribuan Bulus

Desa Tawun di Ngawi, Jawa Timur, dikenal sebagai kampung bulus. Ribuan bulus hidup bebas di sungai dan irigasi, dijaga warga melalui tradisi turun-temurun.

17 May 2026 - 13:42
Desa Tawun Ngawi, Kampung yang Hidup Berdampingan dengan Ribuan Bulus
Ribuan bulus hidup di aliran sungai dan saluran irigasi Desa Tawun, Ngawi. (Foto: Beritasatu.com/Muhammad Miftakul Falakh)

NGAWI, SJP – Suasana berbeda dapat ditemui di Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Di desa ini, ribuan bulus hidup bebas berdampingan dengan warga di aliran sungai, parit, hingga saluran irigasi desa.

Bagi masyarakat setempat, bulus bukan sekadar reptil air tawar biasa. Hewan bercangkang lunak itu telah menjadi bagian dari tradisi dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Warga menjaga habitat bulus dengan mempertahankan kondisi lingkungan tetap alami. Bahkan, sebagian masyarakat rutin memberi makan bulus menggunakan kerupuk, roti, hingga sisa nasi rumah tangga.

Keberadaan bulus dapat dengan mudah ditemukan di berbagai sudut desa. Mulai dari sungai kecil, saluran irigasi, hingga kawasan yang terhubung dengan sumber mata air Sendang Beji.

Kondisi lingkungan yang masih asri disebut menjadi faktor utama berkembangnya populasi bulus di Desa Tawun. Aliran air yang stabil juga membuat habitat reptil tersebut tetap terjaga.

Bulus Jadi Bagian dari Kehidupan Warga

Salah seorang warga, Muryani, mengatakan keberadaan bulus sudah ada sejak dirinya masih kecil. Menurutnya, masyarakat terbiasa hidup berdampingan dengan reptil tersebut.

“Sejak saya kecil dulu sudah ada. Bulus-bulus ini hidup liar di sungai-sungai dan parit yang ada di desa,” ujarnya, Jumat (15/5/2026).

Ia menuturkan warga memperlakukan bulus layaknya hewan peliharaan yang harus dijaga dan dilestarikan. Di masyarakat juga berkembang kepercayaan turun-temurun bahwa membawa bulus keluar desa dapat mendatangkan musibah.

“Pernah ada yang mengambil bulus dari sini, kemudian mengalami musibah,” katanya.

Kepercayaan Lokal Jaga Kelestarian Bulus

Tokoh adat Desa Tawun, Patut, menyebut masyarakat menganggap bulus sebagai hewan yang harus dijaga keberadaannya. Karena itu, warga berkomitmen melestarikan populasi bulus agar tidak punah.

“Oleh warga desa dilestarikan dan dipelihara agar tidak punah, sehingga anak cucu nanti masih bisa menyaksikan keberadaan bulus di desanya,” ujarnya.

Menurut Patut, populasi bulus awalnya berasal dari sumber mata air di Desa Tawun. Seiring waktu, reptil tersebut berkembang dan menyebar ke berbagai aliran air di kawasan desa.

Ia juga mengungkapkan cerita yang berkembang di tengah masyarakat terkait warga luar desa yang pernah membawa bulus keluar dari Tawun.

“Dulu pernah ada warga luar desa yang mengambil bulus dari sini. Setelah itu mengalami kecelakaan, ada juga yang sakit. Akhirnya bulus itu dikembalikan lagi ke sini,” tandasnya. (**)

Sumber: Beritasatu.com

Editor: Danu 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow